Mapolsek Prembun Jadi Obyek Observasi Mahasiswa UMNU
Mahasiswa menelisik aspek konstruksi dan arsitektur bangunan era kolonial Hindia Belanda itu.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Sebanyak 35 mahasiswa Teknik Sipil Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen mengadakan studi lapangan di bangungan Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Prembun, Jumat (23/5/2026).
Didampingi dosen pendamping, Noor Adi Wibowo ST M Eng, para mahasiswa menelisik aspek konstruksi dan arsitektur bangunan era kolonial Hindia Belanda itu.
Kunjungan studi kali ini memperoleh sambutan hangat dari Kapolsek Prembun AKP Awaludin Solih SH MPd yang menyambut dan mendampingi para mahasiswa melakukan observasi.
Selama observasi, para mahasiswa melakukan pengumpulan data terkait jenis-jenis material, struktur bangunan dan pemanfaatan gedung.
Cagar budaya
Sebagai sebuah bangunan kuno yang menyandang status cagar budaya, Mapolsek Prembun memberi kemanfaatan lebih, tidak hanya bagi institusi Polri namun juga menjadi obyek kunjungan berbagai kelompok dan komunitas Polsek Prembun sering menerima kunjungan sekolah dari mahasiswa bahkan hingga murid TK.
Aditya dari Komunitas Pusaka Prembun (KUPU) selaku pendamping kegiatan menambahkan, Markas Polsek Prembun merupakan salah satu bangunan peninggalan Pabrik Gula Prembun yang masih dirawat dengan baik.
“Bangunan ini diperkirakan berdiri pada dekade 1890-an bersamaan dengan dibangunnya pabrik gula," ujar Adit.
Hingga sekarang sebagian besar struktur dan bagian gedung masih asli seperti lantai, dinding, jendela dan pintu. "Fungsi bangunan sebagai kantor direktur pabrik gula,” jelas Adit.
Kawasan heritage
Sebelum berkunjung ke Mapolsek Prembun, para mahasiswa mengunjungi beberapa titik di kawasan heritage Prembun, seperti gedung kawedanan, stasiun kereta api, perumahan loji hingga kawasan mural sejarah di Gang Pabrik.
Pada setiap tempat, mereka menerima penjelasan dari para pemandu lokal dari KUPU.
Sedangkan Noor Adi menjelaskan kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang dilakukan untuk memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap berbagai aspek pekerjaan sipil di lapangan.
“Dengan mengunjungi bangunan-bangunan kuno, para mahasiswa diajak menggali lebih dalam berbagai sisi dari pekerjaan sipil, seperti aspek ekonomi bangunan, dinamika pemilihan bahan dan struktur dari berbagai masa hingga usaha-usaha untuk memperpanjang kemanfaatan bangunan atau life cycle”, jelas Noor Adi.
Cukup terjaga
Mengenai alasan memilih Kawasan Heritage Prembun sebagai obyek studi, Noor Adi mengungkapkan di Prembun keberadaan bangunan-bangunan lama era kolonial masih cukup terjaga. Selain itu telah ada komunitas yang menggali sejarah bangunan-bangunan sehingga memudahkan mahasiswa dalam menggali informasi.
Salah seorang mahasiswa, Arya, mengungkapkan kesan positif terhadap kegiatan ini. Studi lapangan ini membuka wawasan. Teknik sipil ternyata tidak hanya terkait hal-hal fisik belaka namun juga mesti memperhatikan aspek lain.
“Studi lapangan semacam ini menyadarkan kami bahwa Teknik Sipil bukan ilmu yang berdiri sendiri. Di lapangan banyak keputusan yang tidak hanya ditentukan oleh perhitungan angka, namun juga harus memperhatikan aspek ekonomi, sosial dan budaya,” ungkapnya. (*)
Nanang W Hartono
