Kebangkitan Menuju Peradaban Baru dalam Pusaran Covid-19

Kebangkitan Menuju Peradaban Baru dalam Pusaran Covid-19

MENJAGA keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial merupakan sarat mutlak untuk menjalani kehidupan agar menjadi ringan, tentram, dan nyaman pada era pandemi Covid-19 ini. Bagaimana tidak, kompleksitas masalah datang silih berganti. Kebijakan baru yang bagus namun ujung-ujungnya membingungkan, lantaran muncul kebijakan lain yang tidak sejalan. Himbauan mencegah penularan Covid-19 dengan larangan mudik misalnya, merupakan kebijakan yang tepat dan perlu diapresiasi. Akan tetapi, satu sisi rombongan tenaga kerja dari luar negeri datang bahkan ada yang positif terindikasi Covid-19. Selain itu, ketika masyarakat sudah bisa menerima kebijakan dan mulai mempersiapkan rencana produktif untuk mengisi kekosongan waktu dengan keluarga, satu sisi iklan pemerintah malah mengkampanyekan bermain game. Iklan tersebut bagaimanapun memberikan anomali kepada masyarakat. Alih-alih berinteraksi bersama keluarga, anak-anak malah lebih memilih bermain game online menyendiri di dalam kamar bersama teman virtual mereka.

Bahkan, baru-baru ini anak di bawah umur melakukan transaksi pulsa senilai 800.000 untuk game online. Walhasil, konflik terjadi antara orang tua, kasir, dan pemiliki usaha. Selain itu muncul berbagai tindakan apatisme dari beberapa kelompok masyarakat yang hanya memikirkan kepentigan pribadi. Berbagai masalah pelik lainnya sering membuat frustasi. Tidak hanya pada saat pandemi Covid-19, masalah memang akan selalu muncul. Selama kita masih hidup, maka masalah dan berbagai ujian hidup akan tetap ada. Secara filosofis, ujian bukanlah ujian. Dia hanya media untuk melihat tingkat kualitas cara berpikir dan cara mengambil keputusan serta menemukan problem solving. Akan tetapi, agar dapat melakukan dua hal tersebut, intelektual perlu didukung oleh spiritual, emosional, dan sosial.

Kebangkitan Masyarakat dalam Pusaran Pandemi

Untuk hidup bahagia dengan standar yang telah kita tentukan, tidak bisa digantungkan ke pemerintah atau orang lain. Hanya kita yang dapat mengontrol dan menavigasi arah kehidupan kita. Pandemi Covid-19 ini hanya memberi dua pilihan: tetap berada di zona nyaman dan menunggu bantuan dari pemerintah serta uluran tangan orang lain, atau bangun dan mulai mencari arah baru untuk menapaki jalan dan peluang-peluang baru. Dalam QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11, Allah berfirman bahwa  Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. Ayat ini berimplikasi bahwa untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, yang menentukan bukan pemerintah namun kita sendiri. Kita yang harus berjuang dan bergerak agar apa yang kita cita-citakan dapat terwujud.

Selama pandemi Covid-19 ini, banyak pernyataan dari para elit pemerintah baik pusat ataupun daerah untuk menggunakan momentum ini dalam membenahi berbagai hal dan sektor-sektor penting. Pemerintah menghimbau untuk bangkit dari pandemi ini. Akan tetapi sayangnya, amunisi yang sebenarnya diperlukan masyarakat untuk bangkit tidak secara serius digarap dan diperhatikan oleh pemerintah.  Masyarakat melakukan inisiani kebangkitannya sesuai dengan versi mereka masing-masing. Akhirnya, proses perjalanan menuju kebangkitan masih parsial. Tidak ada keutuhan yang digarap secara holistik oleh pemerintah. Padahal final destination dalam semangat kebangkitan itu sebenarnya adalah peradaban baru untuk masa depan anak cucu kita.

Agar dapat mengelola kebangkitan masyarakat yang saat ini masih berada dalam pusaran pandemi Covid-19, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan dan penguatan pendidikan baik formal dan nonformal. Sejalan dengan pemikiran ini, isu pendidikan dalam kajian “Education Recharging, Capability & Transparance” yang disampaikan oleh Prof Dr Imam Robandi (Guru Besar ITS), dapat digunakan sebagai referensi. Imam menekankan bahwa sekolah adalah pusat peradaban. Artinya, untuk membangun peradaban yang lebih baik, maka kita dapat memulai dari sekolah. Lebih lanjut ia meyakinkan bahwa pendidikan dapat digunakan sebagai landmark untuk membangun bangsa dengan peradaban yang lebih baik. Hanya saja, saat ini proses pembelajaran online yang telah berlangsung masih banyak mendapat sorotan. Baik orang tua dan anak-anak masih sering merasa dilema pada saat mengikuti pembelajaran secara online. Bahkan Survei yang dilakukan oleh UNICEF menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga (66%) mengatakan mereka merasa tidak nyaman belajar secara online di rumah (4.000 tanggapan dari siswa di 34 provinsi).

Sinergi Kecerdasan untuk Gerakan Perubahan Berbasis Keluarga

Apabila pendidikan melalui sekolah belum sepenuhnya dapat diandalkan untuk memulai gerakan dan semangat baru, maka inisiasi mandiri progresif bersumber dari keluarga harus mulai dipikirkan. Pendidikan berpusat dari keluarga justru akan dapat menyentuh level psikologi anak dengan cepat. John Dewey (1897) mengatakan bahwa dalam pendidikan setidaknya membidik dua level: psikologis dan sosiologis. Keduanya sebenarnya dapat diperoleh dalam keluarga. Bahkan orang tua dapat mudah memantau perkembangan emosi, sosial, dan spiritual anak-anak selama mengikuti proses pembelajaran. Hanya saja, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kondisi anak-anak dan orang tua pada saat ini. Nampaknya belum ada data valid dengan informasi lengkap terkait dengan kondisi spiritual, emosional, dan sosial anak-anak di Indonesia.

Berkaitan dengan isu tersebut, Shawna J. Lee (2021) telah menemukan fakta terkait pola keluarga dalam menyikapi kondisi Covid-19 ini. Penelitian yang telah dilakukan di Amerika tersebut melaporkan bahwa terjadi perubahan perilaku anak sejak pandemi. Mereka menjadi lebih sedih, depresi, dan kesepian. Sebagian besar orang tua menghabiskan lebih banyak waktu untuk menemani anak-anak mereka setiap hari sejak Covid-19. Akan tetapi ada temuan lain yang perlu diperhatikan; bahwa dua dari setiap lima orang tua masuk pada kategori depresi mayor atau depresi berat berat sejumlah 40,0% dan masuk pada kriteria kecemasan sedang atau berat sejumlah 39,9%. Amerika dan Indonesi tentu memiliki budaya dan kondisi yang berbeda. Akan tetapi, temuan tersebut perlu diwaspadai dan diantisipasi agar masalah yang sama tidak terjadi di Indonesia. Hal ini karena orang tua bagian dari keluarga yang sangat penting dalam mengendalikan masa depan anak-anak mereka.

Untuk memulai gerakan semangat perubahan berbasis keluarga, kecerdasan yang ditekankan tentu tidak hanya IQ saja, namun juga emosi yang baik, serta sosial dan spiritual yang tepat. Semua komponen itu apabila dapat disinergikan, maka akan dapat menggerakkan semangat dan gerakan yang tepat dalam menyongsong transisi peradaban baru. Keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial dapat digunakan sebagai modal dasar dalam menggerakkan kebangkitan masyarakat dalam situasi yang serba abu-abu ini. Situasi pelik yang penuh dengan kecurigaan, adalah sulitnya menyaring informasi antara yang fact dan fake serta berbagai kepentingan yang kadang mengorbankan prinsip-prinsip dasar kebenaran. Untuk menyikapi kondisi tersebut, tentu dibutuhkan bekal kematangan dalam berpikir dan bertindak. Melalui pendidikan berbasis keluarga, kematangan dalam berpikir dapat dilatih oleh keluarga melalui berbagai interaksi nyata yang dapat diperoleh dengan cepat dari rumah.

Dengan demikian, maka kemampuan yang dimiliki anak-anak pasca pembelajaran tidak hanya akademik saja, namun juga aspek lainnya yang dapat menunjang kematangan dalam berpikir dan menilai serta membaca sistuasi dalam berbagai konteks permasalahan dengan baik.

Membangun Pola Pikir yang Benar

Pandemi Covid-19 memang tidak hanya menyerang Indonesia. Ada sekitar 216 negara yang tengah berjuang melawan Covid-19. Akan tetapi, cara menyelesaikan masalah dan strategi untuk bangkit dari kondisi ini tentu sangat berbeda bagi setiap negara. Demografi dan budaya masyarakat tentu menjadi variable penting yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Hal ini karena pada dasarnya setiap negara punya cerita dan sejarah masing-masing. Secara umum memang yang paling disoroti dari dampak pandemi Covid-19 ini adalah kesehatan dan ekonomi. Misalnya, Menkeu Sri Mulyani yang menyatakan adanya beberapa dampak negatif terkait perekonomian Indonesia. Jatuhnya daya beli masyarakat, bertambahnya angka kemiskinan, dan meningkatnya kesenjangan sosial dan ekonomi, serta timbulnya ketidakpastian yang berujung melemahnya investasi dan perdagangan merupakan isu dominan yang digulirkan oleh pemerintah.

Kita tau bahwa secara umum semua negara mengalami resesi ekonomi selama pandemi. Akan tetapi, dampak yang paling parah dan berimbas pada jangka panjang adalah pendidikan.

Sistem pendidikan online tidak bisa memenuhi kebutuhan siswa secara komprehensif. Dari pertemuan yang diperoleh secara virtual, siswa hanya dapat menguasai kompetensi kognitif saja. Adapun untuk aspek lain seperti empati, merasakan kebahagiaan dan bahkan kesedihan teman yang lain sangat sulit. Padahal pengalaman tersebut yang akan melatih anak-anak menjadi pribadi yang peka dengan lingkungan dan memiliki kemampuan mengelola emosi, sosial, dan spiritual dengan baik.

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita pembunuhan berupa pembakaran hingga menewaskan korban. Apabila kita telisik, kasus seperti ini terjadi karena pelaku tidak memiliki kontrol emosi yang baik. Ketika dia tidak bisa menguasai emosi, maka dengan cepat dia melakukan tindakan di luar nalar. 

Membangun pola pikir yang benar sangat penting dalam kondisi seperti ini. Jika pemerintah lebih menyoroti perekonomian, hal ini karena ekonomi yang paling mudah dipantau. Akan tetapi, berbeda dengan pendidikan, dampak dan hasilnya hanya akan dapat terlihat pada beberapa tahun yang akan datang. Kita akan melihat dampak dari kegagalan dan keberhasilan pendidikan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, bagaimana karakter anak-anak itu pada masa lima tahun ke depan atau pada saat mereka benar-benar terlihat dalam kehidupan nyata mereka di masyaralat. Oleh sebab itu, salah satu tugas yang penting adalah bagaimana membangun pola pikir yang benar kepada masyarakat, agar mereka dapat dengan cepat menyebarkan ke keluarga masing-masing. Salah satu contohnya adalah kemandirian dalam menyelesaikan masalah. Keyakinan bahwa di balik krisis ini ada beberapa potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai kompensasi dari dampak pandemi. Misalnya, salah satu aspek positif yang dapat kita highlight adalah kesadaran kolektif untuk tolong-menolong agar segera keluar dari kesulitan. Gotong royong atau kolaborasi dengan melibatkan berbagai sektor, profesi, juga datang dari beragam latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan adalah modal sosial yang mesti kita pertahankan dan perkuat.

Kebangkitan dan  Peradaban Baru

Keseimbangan antara  kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial perlu diperkuat agar dapat digunakan sebagai modal dasar dalam penguatan gerakan baru. Sinergi kecerdasan untuk gerakan perubahan berbasis keluarga dapat mengawali kebangkitan berbasis grass-root. Secara harfiyah, kebangkitan adalah masa di mana rasa dan semangat memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting untuk mencapai tujuan yang lebih baik atau sesuai dengan idealitanya. Untuk menuju semangat agar semua masyarakat mulai bangkit dan memiliki 'ghiroh' segera keluar dari zona nyaman ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, kebangkitan yang berasal dari lubuk hati terdalam. Ketika seseorang akan bangkit, maka sebenarnya prosesnya diawali dari sisi dalam dirinya. Dalam konteks ini mungkin kita bisa meminjam teorinya Philip Pettit (2013) profesor imu sosial dan politik yang mengatakan bahwa kebebasan berasal dari sisi psikologis seseorang. Artinya, seseorang akan berani berbicara dan mampu menyuarakan apa yang dia pikirkan ketika dia merdeka. Dia bebas dan tidak tertindas muncul dari dorongan aspek spikologis. Kebangkitan dalam konteks apapun itu hanya akan terjadi ketika seseorang memiliki kesadaran bahwa ia memiliki hal penuh untuk berkata 'iya' dan 'tidak'. Dia tidak dibatasi oleh apapun.

Kebangkitan dan peradaban baru  yang dimaksud dalam konteks ini adalah kebangkitan yang sebenarnya adalah pemerolehan kebebasan dan hak serta kemampuan dalam mengelola tanggung jawab dan wewenang yang diberikan dengan baik. Bebas bukan berarti seseorang bebas melakukan apapun tanpa ada target dan komitmen yang membangun untuk komunitasnya. Peradaban baru yang layak untuk diperjuangkan adalah peradaban yang didasari nilai luhur dan menimbulkan rasa memiliki oleh semua masyarakat bangsa ini. Peradaban baru itu diperjuangkan bukan untuk kepentingan saat ini namun untuk masa depan. Hasil perjuangan diberikan untuk anak cucu yang akan hidup pada masa depan. Oleh sebab itu, tujuan dari kebangkitan ini adalah untuk memperjuangkan dan mewujudkan peradaban baru yang lebih baik dari pada saat ini. Peradaban generasi yang memiliki kecerdasan IQ, disempurnakan dengan kekuatan emosi mereka dalam melihat fenomena alam dan sosial secara holistik, dengan ketajaman emosi mereka. Peradaban baru yang dipenuhi oleh generasi yang bermental kuat dengan kesholihan spiritual mereka dan ketangkasannya dalam menangkap permasalahan sosial. Untuk mencapai itu, keseimbangan IQ, EQ, SQ, dan SQ sangat diperlukan dan dapat dimulai dari keluarga. ***

Wiwiek Afifah

Mahasiswa Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Yogyakarta