FIP Bronze Yogyakarta Catat Rekor Peserta Terbanyak Level Asia
Sejumlah atlet harus masuk daftar tunggu demi tampil di turnamen.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Yogyakarta kembali mencuri perhatian dunia olahraga internasional. Turnamen FIP Bronze Yogyakarta 2026 sukses mencatat rekor sebagai ajang padel level Asia dengan jumlah peserta terbanyak, sekaligus menjadi momentum besar bagi perkembangan sport tourism dan olahraga padel di Indonesia.
Ajang internasional yang digelar di Wii Social Hub, Jalan Kusumanegara Yogyakarta pada 18-24 Mei 2026 itu diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai negara. Antusiasme tinggi tersebut bahkan membuat sejumlah atlet harus masuk daftar tunggu atau waitlist demi bisa tampil di turnamen resmi di bawah naungan International Padel Federation (FIP).
Ketua Pengprov Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) DIY, RM Gusthilantika Marrel S, mengatakan capaian tersebut menjadi sejarah baru bagi penyelenggaraan padel di Asia maupun Asia Tenggara.
“FIP ini seperti FIFA di sepak bola. Indonesia mendapat kesempatan empat kali penyelenggaraan dan Yogyakarta menjadi yang pertama. Ini prestasi besar untuk kami dan Indonesia,” ujarnya dalam Opening Ceremony Turnamen Padel Internasional FIP Bronze Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Luar biasa
Menurut Marrel, tingginya jumlah peserta menunjukkan Indonesia mulai diperhitungkan dalam perkembangan olahraga padel dunia. Bahkan jumlah peserta yang menembus angka lebih dari 200 disebut belum pernah terjadi sebelumnya pada turnamen level Asia. “Ini harus kita banggakan karena memberikan sesuatu yang luar biasa untuk Indonesia,” katanya.
Turnamen diikuti atlet dari berbagai negara seperti Spanyol, Argentina, Rusia, Kanada, Inggris hingga Arab Saudi. Sejumlah pemain ranking dunia juga ikut bertanding, mulai dari peringkat 60 dunia hingga ranking 200 dunia.
“Ada pemain dari Saudi Arabia yang datang hanya untuk menunggu kemungkinan ada peserta batal supaya bisa masuk pertandingan. Jadi antusiasmenya benar-benar tinggi,” ujarnya.
Selain peserta internasional, atlet dari berbagai daerah di Indonesia turut memadati Yogyakarta, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Makassar, Medan hingga Jakarta. Marrel menyebutkan sekitar 85 persen peserta berasal dari Indonesia.
Level dunia
Dia mengatakan, turnamen internasional ini diharapkan menjadi wadah bagi atlet nasional untuk menambah pengalaman dan jam terbang level dunia. Selama dua tahun terakhir, perkembangan kompetisi padel nasional dinilai cukup pesat dan atlet-atlet DIY mulai menunjukkan prestasi di tingkat nasional.
“Harapannya atlet Indonesia, khususnya Jogja, bisa naik level karena mereka sekarang bisa langsung bertanding melawan pemain internasional,” katanya.
Marrel menambahkan pihaknya ingin menjadikan turnamen ini sebagai bagian dari pengembangan sport tourism di Yogyakarta. Menurutnya, olahraga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor perjalanan, penginapan, kuliner hingga UMKM.
“Jogja hidup dari pariwisata dan UMKM. Jadi kami ingin event seperti ini berdampak ke travel, akomodasi, makanan sampai oleh-oleh,” ujarnya.
Naik kelas
Menurut dia, berbagai sponsor dan tenant lokal ikut mendukung event internasional tersebut. Sejumlah booth UMKM Yogyakarta meramaikan area pertandingan sebagai bagian dari promosi produk lokal ke pasar internasional.
“Booth yang ada di event internasional ini diisi UMKM lokal. Harapan kami, brand lokal Jogja bisa naik kelas dan mendapatkan exposure internasional,” katanya.
Wakil Ketua Umum KONI DIY, Rumpis Agus Sudarko, menyampaikan ada dampak ekonomi yang dibawa event internasional itu. Yogyakarta dinilai sangat siap menjadi tuan rumah event olahraga dunia karena memiliki infrastruktur pendukung yang lengkap, mulai dari akses bandara internasional, transportasi, hotel hingga sektor pariwisata.
“Mereka sangat senang karena akses di Yogyakarta mudah, infrastrukturnya mendukung dan transportasinya nyaman. Jadi bukan hanya lapangannya yang penting, tapi ekosistem di sekitarnya juga,” ungkapnya.
140 lapangan
Perkembangan olahraga padel di Indonesia mengalami peningkatan signifikan beberapa tahun terakhir. Jika pada 2023 jumlah lapangan padel di Indonesia masih sekitar 35 lapangan, kini jumlahnya telah mencapai sekitar 140 lapangan.
Turnamen seperti FIP Bronze Yogyakarta menjadi langkah penting untuk memajukan olahraga Indonesia di kawasan Asia sekaligus mempersiapkan atlet menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
Bahkan, olahraga padel diharapkan nantinya bisa dipertandingkan dalam ajang Asian Games mendatang. Di Yogyakarta, perkembangan atlet padel dinilai cukup menjanjikan. Saat ini sudah ada dua hingga tiga atlet asal DIY yang masuk tim nasional padel Indonesia dan berpeluang kembali mengikuti seleksi berikutnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
