Minggu, 17 Jan 2021,


dirut-rri-titip-puisi-untuk-presidenRRI menggelar dialog interaktif, Rabu (30/09/2020) siang, di Alana Hotel Yogyakarta. Temanya “Membumikan Pancasila Melalui Puisi”. (rosihan anwar/koranbernas.id)


Rosihan Anwar

Dirut RRI Titip Puisi untuk Presiden


SHARE

Indonesia adalah 1.001 pelangi

Semua orang bisa bicara tentang toleransi


Tapi toleransi seperti air subur kering

Dari mata air yang deras


Tetap tidak cukup menjangkau kerongkongan rakyat yang dahaga

 

Untaian kata dalam puisi berjudul “Puisi untuk Presiden” dilontarkan M Rohanuddin Direktur Utama Radio Republik Indonesia. Pada acara dialog interaktif “Membumikan Pancasila Melalui Puisi” yang digelar Rabu (30/9/2020) siang, M Rohanuddin menitipkan pesan kepada Joko Widodo sebagai pemimpin negeri ini. Salah satunya, persoalan intoleransi yang merebak.

“Presiden Jokowi. Di bola matamu kutitip Indonesia lebih berdamai. Toleransi di Indonesia, harus mendapat tempat terhormat, disuburkan dari akar yang kuat sampai menembus ke ranting-ranting. Maka tidak ada pilihan kecuali kita meletakkan toleransi sebagai syarat kehormatan bangsa,” tutur Rohanuddin saat membacakan puisinya.

Dirut RRI menuturkan, nilai-nilai Pancasila harus terus digali dan dikembangkan, termasuk di antaranya melalui puisi.

M Rohanuddin pun mencontohkan nilai-nilai toleransi sebagai manifestasi Pancasila, membuat bangsa Indonesia dapat bersatu saat ini menghadapi pandemi.

"Dalam keadaan pandemi seperti ini, hal itu (toleransi) akan menjadi bagian penting. Karena itu, Pancasila adalah akar yang harus tumbuh dalam nurani bangsa Indonesia,” ujar dia.

M Rohanuddin menganggap, apabila toleransi menjadi salah satu nilai Pancasila yang dipegang erat, maka konflik horizontal dapat diminimalkan. Dirinya menyebut, sebagai pedoman dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, nilai-nilai luhur Pancasila tak boleh berhenti sebatas dalam mata pelajaran dan diskursus semata.

Rektor UGM Prof Panut Mulyono menuturkan, nilai-nilai mulia yang terkandung Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita sebagai bangsa yang saling menghargai perbedaan. Jati diri bangsa Indonesia itu adalah Pancasila. Karena Soekarno itu mengatakan : “Saya bukan pencipta Pancasila, tetapi saya menggali Pancasila dari akar budaya”. Nah dari situ, kita terus melakukan internalisasi kepada mahasiswa,” kata Panut.

Menerima perbedaan

Bagi budayawan Kuswaidi Syafi’ie, manusia Indonesia harus benar-benar mengamalkan Pancasila. Nilai dan sila yang termaktub pada dasar negara itu akan menumbuhkan semangat yang sama dalam menerima perbedaan.

“Berbeda adalah ujian bagi kebersamaan kita. Apakah berbeda itu melahirkan adanya pertemuan-pertemuan yang menyenangkan dan kehidupan sosial yang penuh perdamaian, atau naudzubillah perbedaan menjadikan timbulnya malapetaka? Ini jangan sampai terjadi,” ucapnya.

Karakter toleransi dalam menerima perbedaan, menurut penyair kelahiran Sumenep Madura itu, harus banyak dipupuk, termasuk dituangkan lewat tulisan di karya sastra.

Persoalan intoleransi, ujar Kuswaidi yang juga pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, tak akan terjadi apabila internalisasi nilai-nilai Pancasila benar-benar merasuk ke dalam hati masyarakat.

“Sebab orang berketuhanan itu pasti menghargai keragaman. Kalau sudah seperti itu, kemanusiaan yang adil dan beradab pasti terealisasi. Adil itu di bawahnya ada beradab. Kalau orang beradab sudah pasti adil, karena adil itu menyangkut estetika sosial,” ungkapnya.

RRI menggelar acara dialog interaktif dan juga malam apresiasi puisi pada 1 Oktober sebagai bagian peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Lewat acara tersebut, nilai-nilai luhur Pancasila dicoba untuk dimanifestasikan lewat puisi yang ditampilkan oleh sejumlah tokoh dan sastrawan terkemuka.(*)

 

 

 


TAGS: RRI 

SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini