BPBD Sleman Mulai Petakan Wilayah Rawan Bencana
Potensi bencana longsor meliputi 14 kalurahan di 17 kapanewon yang perlu memperoleh perhatian khusus.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Musim peralihan atau pancaroba yang ditandai dengan cuaca ekstrem belakangan sedang melanda wilayah Kabupaten Sleman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mulai melakukan kesiapsiagaan dan pemetaan wilayah rawan bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, R Haris Martapa, mengatakan langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi agar masyarakat dan relawan lebih siap siaga dalam menghadapi potensi bencana seperti banjir, tanah longsor hingga angin kencang.
Haris Martapa mengungkapkan pihaknya juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana berdasarkan kajian risiko bencana yang sudah disusun. Terdapat beberapa ancaman yang perlu diantisipasi bersama. Antara lain, potensi banjir lahar hujan di aliran sungai yang berhulu di Merapi.
"Berdasarkan data, terdapat 54 kalurahan di 15 kapanewon yang dilewati aliran sungai tersebut, sehingga wilayah ini menjadi prioritas pengawasan dan kewaspadaan saat intensitas hujan tinggi," kata Haris kepada awak media di Sleman, Kamis (16/10/2025).
Wilayah perbukitan
Wilayah yang berpotensi terdampak adalah wilayah perbukitan seperti Prambanan bagian atas, lalu Turi, Pakem dan Cangkringan.
Menurut Haris, potensi bencana longsor ini meliputi 14 kalurahan di 17 kapanewon yang perlu memperoleh perhatian khusus, baik dalam aspek peringatan dini maupun kesiapsiagaan masyarakat.
Selain itu, BPBD Sleman juga memetakan wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem yang bisa terjadi di seluruh wilayah kabupaten itu.
Haris mengungkapkan saat ini tercatat ada 44 kalurahan dengan tingkat risiko tinggi, terutama di wilayah padat penduduk atau memiliki lahan produktif luas, sehingga kerentanannya juga lebih besar.
Informasi BMKG
Pihaknya mengimbau masyarakat agar lebih waspada. Upaya kesiapsiagaan perlu dilakukan, di antaranya dengan memantau informasi resmi dari BMKG terkait peringatan dini.
Berikutnya, ketika terjadi hujan lebat disertai angin kencang, diharapkan lebih siaga dengan tidak berteduh di bawah pohon ataupun dekat tiang listrik. "Kami mengimbau menjauhi benda yang mudah roboh dan jangan berkendara melewati air banjir," ucap Haris.
Menghadapi musim pancaroba saat ini, masyarakat juga diimbau membersihkan saluran air atau selokan permukiman agar tidak tersumbat dan memotong ranting pohon yang rapuh di sekitar rumah.
Pihaknya akan menyiagakan TRC dan Pusdalop 24 jam untuk respons cepat penanganan bencana. Masyarakat dipersilakan menghubungi kontak yang tersedia untuk melaporkan kejadian, membutuhkan bantuan dan penanganan kejadian.
"Melalui upaya mitigasi dan koordinasi terpadu, diharapkan dapat menjaga keselamatan diri dan mengurangi risiko maupun dampak dari bencana cuaca ekstrem," kata Haris. (*)
Nila Hastuti
