Bencana Cara Berpikir

Oleh: Untoro Hariadi

Kesalahan cara berpikir yang paling mendasar adalah logika eksploitasi: cara pandang yang meyakini bahwa alam ada untuk diambil sebanyak-banyaknya. Dalam logika ini, hutan adalah komoditas. Air adalah suplai. Bukit adalah material. Sungai adalah saluran yang bisa digeser jika perlu. Tidak ada ruang bagi hubungan etis antara manusia dan alam. Padahal masyarakat lokal selama ratusan tahun telah membangun kehidupan dengan ritme ekologis: mengambil secukupnya, menahan diri ketika perlu, dan merawat tempat tinggal mereka sebagaimana mereka merawat keluarga sendiri.

Bencana Cara Berpikir
Untoro Hariadi. (Istimewa).

Pendahuluan

KETIKA Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat kembali dilanda banjir dan tanah longsor, perhatian publik segera tertuju pada curah hujan ekstrem, kerusakan hutan, dan buruknya tata ruang. Namun di balik semua itu, ada akar persoalan yang jauh lebih dalam. Akar yang tidak terlihat, tetapi menentukan arah setiap keputusan, kebijakan dan tindakan yang akhirnya melahirkan bencana. Akar itu adalah cara berpikir manusia tentang alam. Pertanyaannya kemudian: apakah yang merusak lingkungan benar-benar sekadar aktivitas fisik, atau sebenarnya pola pikir yang menyetirnya? Apakah yang kita hadapi saat ini adalah benar-benar bencana alam, atau sesungguhnya bencana cara berpikir?

Defisit Cara Pandang

Sebelum air meluap, sebelum tanah runtuh dari lereng-lereng bukit, sebelum sungai berubah menjadi alur lumpur besar, telah lebih dulu terjadi kerusakan konseptual: cara berpikir yang menempatkan alam sebagai obyek yang pasrah untuk dieksploitasi. Inilah defisit cara pandang yang tidak pernah diakui secara terbuka, tetapi kita rasakan dampaknya di setiap genangan, setiap longsor dan setiap desa yang tenggelam. Di banyak wilayah Nusantara, masyarakat lokal memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun. Mereka tahu bagaimana menjaga sumber air, bagaimana membuka lahan tanpa merusak akar, bagaimana menunda aktivitas tertentu ketika tanda-tanda alam berubah. Tetapi cara berpikir ini sering kali tidak dianggap relevan. Modernisasi telah membuat banyak pemangku kebijakan percaya bahwa pengetahuan lokal adalah warisan masa lalu, bukan panduan masa depan.

Logika Eksploitasi

Kesalahan cara berpikir yang paling mendasar adalah logika eksploitasi: cara pandang yang meyakini bahwa alam ada untuk diambil sebanyak-banyaknya. Dalam logika ini, hutan adalah komoditas. Air adalah suplai. Bukit adalah material. Sungai adalah saluran yang bisa digeser jika perlu. Tidak ada ruang bagi hubungan etis antara manusia dan alam. Padahal masyarakat lokal selama ratusan tahun telah membangun kehidupan dengan ritme ekologis: mengambil secukupnya, menahan diri ketika perlu, dan merawat tempat tinggal mereka sebagaimana mereka merawat keluarga sendiri. Ketika logika eksploitasi masuk, keseimbangan ini runtuh. Hutan digunduli tanpa memikirkan fungsi ekologisnya. Lereng dibuka tanpa memperhitungkan daya tampung air. Sungai disempitkan demi lahan tambahan. Dan ketika bencana datang, kita sibuk menyalahkan cuaca, padahal yang keliru adalah cara kita memandang alam.

Pemutusan Ingatan

Cara berpikir modern sering kali memutus ingatan manusia dari pengalaman kolektif komunitas bermukim. Dahulu, di banyak tempat, masyarakat punya pantang-larang yang melindungi alam: ada hutan yang tidak boleh dibuka, ada batu yang tidak boleh dipindahkan, ada sumber air yang tidak boleh dirusak. Aturan-aturan itu bukan takhayul, melainkan pengetahuan ekologis yang diformulasikan dalam bahasa budaya. Namun ketika pembangunan mulai bergerak dengan kecepatan tinggi, ingatan ekologis ini dianggap hambatan. Desa-desa diarahkan untuk mengikuti blueprint yang sama, tanpa mempertimbangkan kondisi ekologis lokal. Kebijakan besar dibuat oleh orang-orang yang tidak hidup dalam lanskap tersebut, tidak memahami pola aliran air, tidak mengenali struktur tanah, dan tidak menghayati siklus ekologis setempat. Lalu wajar jika keputusan yang diambil bertentangan dengan kearifan ekologis lokal. Di sinilah benih bencana itu ditanam.

Melampaui Batas

Bencana tidak muncul hanya karena alam berubah. Bencana muncul ketika perilaku manusia melampaui kapasitas alam untuk memulihkan diri. Di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ekspansi perkebunan, pembukaan lahan untuk tambang, pembangunan permukiman di dataran banjir, hingga pengerukan hutan untuk kepentingan komersial menciptakan tekanan besar pada sistem ekologis. Tetapi apa yang mendorong semua tindakan ini? Jawabannya tetap kembali ke cara berpikir: logika bahwa pertumbuhan ekonomi harus selalu ditingkatkan, bahwa semua ruang harus dimanfaatkan, bahwa alam harus tunduk pada ambisi manusia. Tidak ada pertanyaan, apakah alam memiliki batas? Tidak ada pertanyaan, apakah pembangunan benar-benar perlu? Tidak ada pertanyaan, apakah keputusan ini sejalan dengan cara hidup masyarakat yang sudah lama tinggal di sana? Ketika batas alam dilampaui, hasilnya adalah fenomena yang kita sebut “bencana”.

Krisis Kepekaan

Salah satu kesalahan cara berpikir paling fatal adalah hilangnya kepekaan terhadap lanskap bermukim. Cara berpikir lokal selalu berangkat dari observasi tubuh dan pengalaman: merasakan arah angin, melihat perubahan air, mendengar suara hutan, membaca tanda-tanda hewan, memperhatikan gerak tanah. Tetapi cara berpikir modern menggantikan kepekaan ini dengan angka-angka, grafik dan rencana jangka panjang yang sering tidak peka terhadap detail ekologis. Padahal alam tidak bekerja dalam grafik. Alam bekerja dalam perubahan kecil yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang hidup bersamanya setiap hari. Ketika kepekaan ekologis hilang, manusia mengambil keputusan yang tidak lagi selaras dengan ritme alam. Dan keputusan itu, pada akhirnya, membawa petaka.

Ilusi Kemajuan

Dalam banyak kasus, bencana ekologis lahir dari ilusi kemajuan. Banyak orang percaya bahwa semakin banyak jalan dibangun, semakin banyak lahan dibuka, dan semakin banyak industri masuk, maka semakin sejahtera masyarakatnya. Tetapi apakah itu selalu benar? Apakah masyarakat yang kehilangan hutan dan sumber airnya menjadi lebih sejahtera? Apakah generasi muda akan punya masa depan ketika tanah di sekeliling mereka tidak lagi stabil? Kita harus bertanya ulang: kemajuan untuk siapa? Pertumbuhan untuk siapa? Jika kemajuan justru merusak tempat bermukim dan merenggut keselamatan masyarakat lokal, maka yang kita sebut progres sesungguhnya adalah regresi. Inilah bencana cara berpikir itu: menganggap kerusakan sebagai harga yang wajar.

Kembali ke Pengetahuan Lokal

Untuk keluar dari bencana cara berpikir ini, kita tidak perlu menolak modernitas, tetapi kita harus menempatkan pengetahuan lokal sebagai fondasi. Pengetahuan lokal bukan “kuno”, bukan “tradisional” dalam arti yang inferior. Ia adalah pengetahuan ekologis paling dekat dengan kenyataan. Masyarakat lokal memahami di mana rumah harus dibangun, di mana pohon harus dibiarkan tumbuh, bagaimana menjaga aliran air, bagaimana membaca gejala alam. Epistemologi bermukim adalah epistemologi yang tumbuh dari pengalaman panjang; ia menempatkan alam sebagai subyek yang harus dihormati, bukan obyek yang harus dieksploitasi. Integrasi pengetahuan lokal ke dalam kebijakan bukan romantisme—ini kebutuhan mendesak untuk keberlanjutan ekologis.

Menata Ulang Relasi

Bencana cara berpikir hanya bisa disembuhkan dengan menata ulang relasi manusia dengan lingkungan. Relasi ini harus didasarkan pada saling ketergantungan, bukan dominasi. Pada penghormatan, bukan eksploitasi. Pada pemahaman bahwa tempat bermukim bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang hidup yang menghidupi manusia secara fisik, sosial dan spiritual. Ketika relasi ini dipulihkan, keputusan-keputusan pembangunan akan berubah arah. Manusia tidak lagi mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi mengambil secukupnya. Tidak lagi membangun sesuka hati, tetapi membangun sesuai kapasitas ekologis tempat itu. Tidak lagi mengabaikan suara masyarakat lokal, tetapi menjadikannya kompas.

Penutup

Banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem. Bencana itu adalah cermin dari cara berpikir manusia yang memutus diri dari alam. Kita sedang menghadapi bukan hanya kerusakan fisik, tetapi kerusakan epistemik: kerusakan cara memahami dunia. Jika cara berpikir kita tetap sama, bencana akan terus berulang, mungkin dengan intensitas yang lebih besar. Satu-satunya jalan keluar adalah membongkar cara pandang yang keliru dan kembali belajar dari komunitas bermukim yang telah lama hidup dalam harmoni ekologis. Bencana cara berpikir hanya bisa diatasi dengan cara berpikir baru, yakni cara berpikir yang memulihkan. Dan perjalanan itu harus dimulai sekarang, sebelum tempat yang kita tinggali tidak lagi bisa disebut rumah. **

Dr. Untoro Hariadi

Peminat masalah desa, pertanian dan filsafat.