Barang-barang Bekas Jadi Instalasi Seni Penuh Makna

Pemandangan ini menjadi wajah pembuka gelaran Open House 2026 ECCD-RC Yogyakarta dan Sekolah Rumah Citta.

Barang-barang Bekas Jadi Instalasi Seni Penuh Makna
Berbagai karya anak-anak dalam gelaran Open House 2026 ECCD-RC Yogyakarta dan Sekolah Rumah Citta di Jogja National Museum (JNM). (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ruang Jogja National Museum (JNM) tak sekadar menampilkan estetika visual sejak 28 Januari hingga 1 Februari 2026. Barang-barang bekas seolah "berbicara" lantang. Botol plastik, kardus dan aneka limbah tak terpakai disulap oleh tangan-tangan mungil menjadi instalasi seni yang penuh warna dan makna.

Pemandangan ini menjadi wajah pembuka yang kuat dari gelaran Open House 2026 Early Childhood Care and Development Resource Center (ECCD-RC) Yogyakarta dan Sekolah Rumah Citta.

Direktur ECCD-RC Yogyakarta, Fransisca Ana Ruma Dewi, menjelaskan pameran ini adalah wujud konkret dari nilai-nilai yang diperjuangkan lembaganya. Sejak berdiri tahun 2002 sebagai lembaga non-profit, ECCD-RC konsisten mengusung nilai inklusivitas, keadilan gender, ramah lingkungan dan penghargaan budaya lokal.

"Anak-anak berhak didengar, dihargai, dan diberi ruang berekspresi. Keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang," ujar Ana, Kamis (29/1/2026).

Menyuarakan isu

Mengusung tajuk besar Kita Beragam, Kita Teman, acara ini menjadikan seni sebagai medium utama untuk menyuarakan isu yang sering dianggap berat: Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI).

Pembukaan Pameran Karya Anak dari Bahan Limbah hari pertama menjadi fondasi seluruh rangkaian acara. Karya-karya yang dipajang bukan sekadar hasil kerajinan tangan, melainkan manifestasi visual dari cara anak-anak, dengan dukungan orang tua mereka memandang dunia di sekitar mereka.

Melalui medium seni ini, realitas sosial yang kompleks diterjemahkan dengan kejujuran khas anak-anak. Mereka merespons isu lingkungan lewat pemanfaatan limbah, sekaligus menyisipkan pesan tersirat bahwa setiap hal (dan setiap orang), terlepas dari kondisinya, memiliki nilai yang berharga jika diberi kesempatan.

Pameran ini menjadi ruang berekspresi yang krusial di tengah realitas bahwa masih banyak anak menghadapi hambatan akibat perbedaan gender, disabilitas, maupun latar belakang ekonomi.

Ruang ekspresi

Ketidaksetaraan ini sering kali membatasi akses mereka terhadap ruang berekspresi. Melalui karya seni yang dipamerkan di JNM ini, hambatan tersebut coba diruntuhkan.

Ana menambahkan, dengan tema Kita Beragam, Kita Teman, acara ini diharapkan menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesetaraan gender, penghormatan terhadap anak dengan disabilitas serta inklusi sosial.

Gelaran ini juga merupakan respons terhadap komitmen global dan nasional, seperti Konvensi Hak Anak dan SDGs, yang menekankan partisipasi anak tanpa diskriminasi.

Semangat yang terpancar dari karya seni di ruang pameran kemudian "hidup" dalam berbagai bentuk kegiatan lain selama lima hari di JNM dan Sekolah Rumah Citta.

Dialog keberagaman

Masih pada hari pertama pameran, dialog tentang keberagaman diperdalam melalui sesi parenting "Anak Kita Beragam, Cinta Kita Sama", yang memfasilitasi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus untuk berbagi cara pengasuhan.

Ekspresi anak berlanjut ke bentuk verbal pada hari kedua lewat Seminar Suara Anak. Forum ini memberi panggung bagi anak untuk menyampaikan aspirasi mereka tentang kesetaraan secara terbuka di hadapan para pemangku kepentingan (stakeholder), agar perspektif mereka didengar dan didukung komitmen nyata.

Sedangkan hari ketiga menjadi perayaan ekspresi yang dinamis. Panggung Anak dan Workshop "Mengenal Bisindo" menjadi etalase hidup. Anak-anak tampil dan belajar dalam suasana inklusif. Di sisi lain, Bincang Seru Bapak-bapak "Seni Mengasuh Anak" seolah menantang stereotip peran gender dalam pengasuhan. Diskusi kemudian menukik ke ranah akademis dan kebijakan pada hari keempat melalui Semiloka "GEDSI dalam Aksi, Pendidikan yang Memberdayakan".

Rangkaian gelaran ditutup hari kelima dengan mengajak masyarakat melihat langsung implementasi pendidikan inklusi melalui Uji Coba Kelas & Tur Sekolah Rumah Citta, serta memperkuat solidaritas lewat Pasar Murah. "Ruang berekspresi adalah hak setiap anak, dan di dalam keberagaman itulah letak kekuatan pertemanan yang sesungguhnya," kata Ana. (*)