Yogyakarta International Airport Dirancang Tahan Gempa Besar 8,8 Magnitudo
Bangunan tersebut juga dirancang dengan kekuatan yang dilebihkan agar tetap dapat difungsikan dengan baik setelah terjadi gempa.
KORANBERNAS.ID, KULONPROGO -- Manager Safety Angkasa Pura YIA (Yogyakarta International Airport), Hari Harbiyanto, menyatakan Bandara YIA Kulonprogo dirancang spesial untuk menghadapi guncangan akibat gempa besar 8,8 magnitudo.
"Bangunan gedung terminal Bandara YIA ini dipersiapkan oleh banyak ahli sebagai bangunan bandara tahan menghadapi guncangan gempa 8,8 magnitudo,” ujarnya menanggapi hasil riset BRIN tentang adanya endapan tsunami 1.800 tahun di kawasan dekat Bandara YIA.
Menurut dia, bangunan gedung terminal Bandara YIA Kulonprogo adalah struktur bangunan skala mega pertama di Indonesia yang dirancang spesial.
Struktur bangunan tersebut dibuat mampu menghadapi guncangan akibat gempa besar 8,8 magnitudo karena posisinya ada pada pertemuan lempeng Australia dan lempeng Asia, dengan jarak yang relatif dekat. Selain itu, juga mampu menghadapi bahaya berupa tsunami.
Tempat evakuasi
Bangunan tersebut juga dirancang dengan kekuatan yang dilebihkan agar tetap dapat difungsikan dengan baik setelah terjadi gempa. Bahkan gedung terminal juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi bencana tsunami atau emergency preparedness.
"Dengan demikian Bandara YIA dipastikan aman,” ujar Hari Harbiyanto saat dihubungi, Sabtu (19/7/2025).
Menanggapi hasil riset BRIN tentang endapan tsunami 1.800 tahun di pantai selatan Kulonprogo, ahli geodesi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Ir Heri Sutanta M Sc Ph D kepada koranbernas.id mengatakan ada yang disebut acceptable risk atau tolerable risk.
"Ada potensi tsunami yang mungkin terjadi, entah kapan dan dengan ketinggian berapa. Tetapi itu tidak berarti bahwa wilayah rawan tsunami kemudian tidak bisa dimanfaatkan untuk pembangunan,” ujarnya.
100 tahun
Misalnya ada kemungkinan terjadi tsunami satu kali dalam periode 100 tahun ke depan, berarti ada waktu aman yang juga panjang.
Menurut dia, wilayah rawan tersebut tetap harus bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui pembangunan bandara.
"Nah, penelitian tsunami itu masuk konteks untuk menyiapkan rencana mitigasinya. Misalnya bangunan pelindung harus seperti apa dengan ketinggian berapa. Berapa dan di mana temporary evacuation shelter perlu dibangun. Di mana jalur evakuasi perlu ditetapkan dan diperbaiki dan sebagainya,” katanya.
Dia mengatakan, perlu diingat Bandara Ngurah Rai juga terletak di wilayah yang rawan tsunami.
Anung Marganto
