Warga Purworejo Marah Menyusul Insiden Kutoarjo Bersholawat
PWI Laskar Sabilillah Purworejo tak terima saat Kyai NU diturunkan dari Panggung Kutoarjo Bersholawat
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Ulama besar di Kabupaten Purworejo KH Zainal Abidin Al Hafidz, diturunkan dari panggung 'Kutoarjo Bersholawat' bersama Majelis Sholawat Az-Zahir Pekalongan pada Jumat, 4 Juli lalu. Atas peristiwa tersebut masyarakat Purworejo dibuat meradang karena insiden yang disebut ‘Persekusi Kiai Nusantara’. Insiden yang terekam dalam video dan sempat viral.
Dalam acara itu, KH Zainal Abidin Al- Hafidz, Ketua MWC NU Kutoarjo, yang juga pengasuh pondok pesantren di Kelurahan Semawung, Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo ‘dipaksa’ turun dari panggung oleh oknum habib, yang disebut bernama Muhammad Najib Ba’abud dari Prembun, Kabupaten Kebumen. Pengusiran dari panggung sholawat ini pun mendapat reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Purworejo.
Salah satu yang mengutuk dan bereaksi atas insiden itu adalah Pengurus Perjuangan Wali Songo Indonesia-Laskar Sabilillah (PWI - LS) Kabupaten Purworejo. Ketua PWI - LS Kabupaten Purworejo, H Faoqi Hakim atau Haji Oqi saat dihubungi mengatakan, bahwa pihaknya mengecam keras tindakan oknum habib terhadap KH Zaenal Abidin.
“PWI - LS Kabupaten Purworejo tegas menyesalkan dan mengecam keras tindakan terhadap KH Zaenal Abidin. Mengingat beliau adalah ulama yang dihormati. Beliau adalah penasihat Tahfidzul Quran Wal Kuro Kabupaten Purworejo, Musyatasar MWC NU Kutoarjo, dan pengasuh ponpes. Terlebih, beliau mempunyai kekurangan fisik (tuna netra), seharusnya dihormati sesuai posisinya sebagai ulama dan diutamakan karena menyandang kebutuhan khusus,” kata Haji Oqi, Jumat (11/05/2025).
Lanjutnya, PWI - LS Kabupaten Purworejo tidak menginginkan terjadinya pengerahan massa. Mereka menginginkan proses mediasi sebelum waktu yang ditetapkan yaitu 3×24 jam sejak ditandatangani surat pernyataan pada 9 Juli 2025.
“Tuntutan PWI - LS Kabupaten Purworejo adalah adanya mediasi dengan PWI LS dan elemen masyarakat yang terlibat, dalam hal ini PWI - LS dan Laskar Langit yang sudah membuat pernyataan sikap dan tuntutan. Oknum yang bersangkutan harus meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya secara tertulis dan visual, mengingat kejadian tersebut terjadi di tempat umum dan disaksikan ribuan hadirin,” tegas Oqi.
Masalah ini, tegas Oqi, bukan lagi masalah pribadi KH Zaenal, tapi lebih pada elemen masyarakat yang tidak terima dengan aksi yang tidak bermoral tersebut.
“Jika tuntutan kami tidak diindahkan, akan ada aksi demo ke Polres, agar polisi memproses secara hukum. Mungkin juga akan terjadi pengerahan massa Perjuangan Wali Songo Indonesia, karena sudah ada intruksi pengawalan kasus ini dari PWI - LS Jawa Tengah,” katanya.
Mengenai akar permasalahan antara oknum habib dengan Kiai Zaenal, Haji Oqi pun tak menampiknya. “Mungkin ada kaitannya, karena ada salah satu putra KH Zaenal yang menikahi salah satu marga yang mengaku keturunan nabi,” katanya menduga.
Yang lebih membuat meradang masyarakat, ada kata-kata dari oknum habib yang kurang lebihnya berujar, apabila Mbah Kiai Zen tidak turun dari panggung, maka habib-habib yang akan turun. Kemudian, tanpa diminta kedua kali, Mbah Kiai Zen turun dari panggung Kutoarjo Bersholawat. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
