Sleman Temple Run 2025 Menargetkan Peserta Asing dari 21 Negara
KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Untuk kesepuluh kalinya, event lari bertaraf internasional Sleman Temple Run digelar kembali. Tahun ini, Dinas Pariwisata Sleman selaku penyelenggara pasang target peserta asing berasal dari 21 negara.
“Tahun lalu peserta asing tercatat sejumlah 18 orang dari 15 negara,” ujar Ishadi Zayid, Kepala Dinas Pariwisata Sleman, saat Roadshow to & Press Conference Sleman Temple Run 2025, Sabtu (12/7/2025), di Andrawina Resto Situs Keraton Ratu Boko Prambanan Sleman.
Peserta asing dari 15 negara di antaranya Belarusia, Colombia, Rusia, Timor Leste, Palestina, Polandia, Sudan, Yaman, Thailand, Pakistan, Cambodia, Belanda, Jerman serta Gambia ditargetkan mengikuti kembali gelaran satu dekade Sleman Temple Run sejak pertama kali diselenggarakan tahun 2015.
Di hadapan awak media, komunitas pelari serta didampingi anggota DPRD Sleman Sumaryatin, perwakilan dari Kapanewon Prambanan maupun perwakilan General Manager In Journey Destination Management serta Race Director Sleman Temple Run 2025 Roostian Gamananda, dalam kesempatan itu Zayid menyatakan rasa bangga event tersebut sudah masuk kalender internasional.
Bagi Sleman yang terkenal dengan ikon Kabupaten Seribu Candi, Prambanan Temple Run tidak sembarangan. “Keberadaan candi-candi menunjukkan Sleman dulu merupakan daerah gemah ripah loh jinawi, pusat peradaban manusia masa lalu. Ke depan kita lestarikan untuk memberikan semangat, inspirasi dan edukasi,” ungkapnya.
Menurut dia, Sleman Temple Run 2025 yang akan digelar Minggu 10 Agustus 2025 di Kompleks Candi Banyunibo selain untuk memberikan wadah bagi para pelari lewat branding sport tourism, juga mengenalkan keberadaan candi-candi sebagai daya tarik pariwisata. “Sleman Temple Run satu-satunya event sport tourism lari di dunia dengan rute melewati candi-candi dilengkapi dengan suguhan pemandangan indah serta kekayaan budaya dan kesenian tradisi masyarakat lokal,” jelasnya.
Yang membedakan dengan tahun lalu, lanjut dia, semua peserta kategori 7 kilometer, 15 kilometer dan 30 kilometer masuk Candi Ratu Boko. Start dan finish dari Candi Banyunibo di wilayah Bokoharjo, peserta melewati enam candi di antaranya Candi Barong, Candi Miri dan Candi Ijo.
Pembeda lainnya, menurut Zayid, logo jersey maupun medali menggunakan gambar Candi Boko. Logo sebelumnya Candi Prambanan. Tujuannya supaya wisatawan lebih mengenal Candi Boko.
“Agar kunjungan wisatawan ke Candi Boko lebih banyak. Pariwisata adalah lokomotif perekonomian. Jika berjalan baik maka kesejahteraan masyarakat semakin lancar,” ujarnya seraya menyebutkan sektor pariwisata memberikan kontribusi sebesar 32 persen bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sleman.
Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Zayid bersama anggota DPRD Sleman Sumaryatin menunjukkan medali Sleman Temple Run 2025 saat konferensi pers di Andrawina Resto Keraton Ratu Boko, Sabtu (12/7/2025). (sholihul hadi/koranbernas.id)
Mewakili legislatif, Wakil Ketua Bapemperda DPRD Sleman Sumaryatin berharap, feedback PAD pariwisata lebih banyak dinikmati oleh para pelaku wisata salah satunya lewat event wisata Sleman Temple Run yang rutin digelar setiap tahun.
Anggota Komisi C dari Fraksi PKS yang akrab disapa Atin itu sepakat Kabupaten Sleman kekayaan budaya berupa candi yang tidak dimiliki daerah lain mampu memperkuat pariwisata yang berkualitas.
Dengan komitmen tinggi pihaknya siap mengawal dan mendukung Sleman Temple Run sebagai bagian penting dan pintu masuk PAD, disertai catatan kualitasnya harus ditingkatkan sehingga wisatawan tidak bosan datang.
“Sleman Temple Run ini kelasnya tidak ecek-ecek, mudah-mudahan semakin mengokohkan Sleman sebagai kota MICE, menjadi kota yang sibuk melayani tamu dan spend dhuit-nya gedhe,” kata dia.
Harapan serupa disampaikan Andi yang mewakili Panewu Prambanan. Kali ini, potensi UMKM dan kesenian akan lebih ditonjolkan guna mendukung penyelenggaraan event tersebut. Adapun ragam kesenian yang ditampilkan untuk menyambut para pelari yaitu Srandul, Sanggar Tari Breksi, Jathilan Macho Budoyo, Jathilan Bokoharjo, Jathilan Gejog Lesung, Jathilan Barongan dan Reog Sembrani.
“PR kami adalah menambah penginapan dan guest house di Prambanan yang dikelola oleh masyarakat karena selama ini masih kurang. Sebagian besar peserta Sleman Temple Run masih tinggal di luar Prambanan,” ungkapnya.
Sepakat, Nia dari In Journey Destination Management mengakui sektor pariwisata bukan bidang yang berdiri sendiri. Ibarat kain perlu dijahit secara bersama-sama.
Sedangkan Race Director Sleman Temple Run 2025 Roostian Gamananda menjelaskan, event yang bekerja sama Trail Runners Yogyakarta itu sudah memperoleh rekomendasi dari Asosiasi Lari Trail Indonesia dan sudah terdaftar di International Train Running Association (ITRA). “Peserta yang bisa menyelesaikan rute akan mendapatkan ITRA Point,” kata dia. (*)
Sholihul Hadi
