Sultan HBX: Leluhur Jawa Membangun Sistem Peringatan Dini Sebelum Ada Seismograf
Falsafah Jawa Eling lan Waspada sebagai inti pengetahuan ekologis masyarakat.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan leluhur masyarakat Jawa telah membangun sistem peringatan dini bencana jauh sebelum adanya teknologi modern seismograf maupun kerangka kebijakan internasional. Sistem itu lahir dari falsafah hidup dan praktik membaca tanda-tanda alam yang diwariskan lintas generasi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutan resmi Sultan HB X yang dibacakan Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, pada pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-9 Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (6/5/2026).
Sultan HB X memperkenalkan falsafah Jawa Eling lan Waspada sebagai inti pengetahuan ekologis masyarakat. Menurutnya, eling merupakan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya. Sementara waspada berarti kewaspadaan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam membaca gejala alam.
Sultan HB X juga mengingatkan pentingnya Ilmu Titen yakni praktik mengamati, menandai dan mengingat pola perilaku alam secara turun-temurun. Dia menilai pendekatan tersebut merupakan bentuk sistem peringatan dini yang paling dekat dengan masyarakat.
Pelengkap sains
Sultan HB X turut mengutip pemikiran ilmuwan lingkungan Fikret Berkes yang menyebutkan pengetahuan lokal sebagai Traditional Ecological Knowledge. Pengetahuan itu diakui IPCC dan UNESCO sebagai pelengkap sains modern dalam mitigasi bencana dan perubahan iklim.
Selain itu, dia juga merujuk pemikiran peraih Nobel Ekonomi Elinor Ostrom mengenai kemampuan komunitas lokal mengelola risiko secara berkelanjutan. Menurutnya, tata kelola bencana yang tangguh harus bertumpu pada memori kolektif masyarakat dan kearifan lokal.
Dalam agenda tersebut, Sultan HB X menerima Lifetime Dedication Award dari IABI atas kontribusinya dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Penghargaan diterima oleh GKR Hayu mewakili Gubernur DIY.
GKR Hayu menyampaikan isu kebencanaan menjadi salah satu perhatian utama Sultan HB X selain kebudayaan. Dia menyinggung peran langsung Raja Keraton Yogyakarta itu saat Gempa Jogja 2006 termasuk memimpin koordinasi bantuan dan penanganan bencana. “Terima kasih hari ini sumbangsih beliau diakui oleh IABI dengan penghargaan ini,” ujar GKR Hayu. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
