Sinau Pancasila dan Sejarah, DPRD DIY Kunjungi Museum Konferensi Asia Afrika

Ini merupakan tindak lanjut dari agenda mengunjungi berbagai museum mulai dari Bali, Jawa Timur dan berbagai daerah lainnya, untuk menggali sejarah dan nilai-nilai Pancasila.

Sinau Pancasila dan Sejarah, DPRD DIY Kunjungi Museum Konferensi Asia Afrika
Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto memberikan cenderamata diterima Kepala Seksi Publikasi Promosi Nilai-Nilai KAA (PPNKAA) Kemenlu, Christofus Katon, Jumat (12/12/2025). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANDUNG – Jajaran pimpinan dan anggota Komisi A DPRD DIY berkomitmen mengembangkan Sinau Pancasila dan Sejarah. Salah satunya dengan melakukan kunjungan bersama forum wartawan unit DPRD DIY ke Museum Konferensi Asia Afrika di Jalan Asia Afrika Bandung Jawa Barat, Jumat (12/12/2025).

Kegiatan bertema Menghidupkan Kembali Semangat Persatuan Asia Afrika Sebagai Pilar Nasionalisme dan Pancasila kali ini merupakan tindak lanjut dari agenda mengunjungi berbagai museum mulai dari Bali, Jawa Timur dan berbagai daerah lainnya, untuk menggali sejarah dan nilai-nilai Pancasila.

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto menjelaskan kunjungan ke museum KAA di Bandung menjadi bagian upaya melihat dari dekat tata kelola dan manajemen museum.

“Sebagaimana diketahui, Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung atas inisiatif Indonesia yang mendapatkan dukungan dari beberapa negara. Presiden Soekarno jauh sebelum 1955, tepatnya 1933, sudah menulis dan memimpikan pertemuan bangsa bangsa terjajah dari berbagai belahan dunia, untuk berjuang bersama melawan penjajahan,” katanya.

Didampingi Wakil Ketua DPRD DIY Umaruddin Masdar, rombongan DPRD DIY menyimak penjelasan Kepala Seksi PPNKAA Kemenlu, Christofus Katon. (sholihul hadi/koranbernas.id) 

Turut serta pada kunjungan kali ini anggota Komisi A lainnya yaitu Hifni Muhammad Nasikh, Syarief Guska Laksana, Yuni Satia Rahayu, D Radjut Sukasworo, Akhid Nuryati, Purwanto, Didik Kuswanto, Sigit Nursyam Priyanto, Sofyan Setyo Darmawan, Arif Kurniawan dan Stevanus Christian Handoko.

Selain itu, lanjut Eko Suwanto, ada juga peran Mohammad Hatta dan Perdana Menteri saat itu, Ali Sastroamidjojo, yang ulet berdialog dan berdiplomasi dengan berbagai negara sehingga sebagai Ketua Konferensi Asia Afrika sukses digelar. Bung Karno pada 15 April 1955 melalui judul pidato Let A New Asia and A New Africa Be Born memberikan Gambaran betapa Indonesia yang memiliki suku bangsa yang berbeda, dengan dasar Pancasila dapat bersatu melawan penjajah.

Dalam pidato bahasa Inggris, Bung Karno mengajak seluruh bangsa-bangsa untuk membangun solidaritas perjuangan menghormati hak asasi manusia dan merebut kemerdekaan dengan terus mengobarkan semangat antipenjajahan. Sejumlah 29 negara melalui sidang Konferensi Asia Afrika akhirnya melahirkan Dasa Sila Bandung.

"Arsip-arsip termasuk naskah pidato Bung Karno, risalah sidang dan dokumen bersejarah, serta film masih bisa kita nikmati di Museum Asia Afrika di Bandung. Termasuk ruangan tempat sidang juga kursi yang ditempati para delegasi masih terawat dengan baik," ujar Eko Suwanto, anggota Fraksi PDI Perjuangan itu.

Museum Konferensi Asia Afrika di Jalan Asia Afrika Bandung Jawa Barat. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dia menambahkan, keberadaan museum KAA punya tiga hal penting bagi Bandung. Pertama, memberikan tiga nilai sejarah untuk dipelajari bagi kaum muda. Kedua, museum bisa menjadi tempat melakukan riset penelitian sejarah, bisa menghasilkan sarjana, master, doktor. Ketiga, bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang memberikan manfaat perekonomian bagi masyarakat.

"Harapan saya, Pemda DIY terinspirasi Museum Asia Afrika ini. Pentingnya segera cepat membangun monumen perjuangan dengan museum kejuangan. Yogyakarta punya peran sejarah, ada peristiwa pindahnya ibukota dari Jakarta ke Jogja. Banyak peristiwa kejuangan yang hebat di Jogja. Kita harap Pemda lekas menyusun naskah akademik dan membangun museum. Ini akan terus kita suarakan untuk anak cucu kita di masa yang akan datang," kata Eko Suwanto

Bagi Yogyakarta, museum perjuangan bangsa sangat dibutuhkan untuk mengingat Proklamator RI, Bung Karno, saat tinggal di Yogyakarta, difasilitasi oleh rakyat dan Kadipaten serta Keraton Yogyakarta.

"Kita punya sejarah lahirnya kemerdekaan pada saat RI merdeka pada 17 Agustus 1945 tidak lama ada pawai pemuda dan tanggal 5 September 1945 ada Maklumat bergabung dengan RI," katanya.

Gedung Merdeka tempat penyelenggaraan KAA di Bandung Jawa Barat. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dia menegaskan, belajar dari bangsa Palestina dengan perjuangan rakyatnya, Komisi A DPRD DIY berkomitmen dan berjuang untuk rakyat Palestina, punya komitmen berjuang memakmurkan rakyat, berjuang bersama untuk ketertiban dunia. 

"Jogja itu rumah dunia, bukan hanya orang Jogja, termasuk kita dukung kemerdekaan Palestina. Ini mengIngatkan kita, saat KAA Bandung, dari negara yang hadir ada peninjau, yaitu dari Palestina," katanya.

Saat kunjungan ke museum itu, rombongan dari Yogyakarta yang juga didampingi Wakil Ketua DPRD DIY Umarudin Masdar, dipandu langsung Kepala Seksi Publikasi Promosi Nilai-Nilai KAA (PPNKAA) Kemenlu, Christofus Katon.

Pria asal Brosot Kulonprogo itu menjelaskan secara detail museum yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Luar Negeri RI itu. Begitu masuk museum, pengunjung langsung diberikan gambaran suasana sidang pembukaan KAA pada 28 April 1955. Indonesia memperoleh dukungan sponsor empat negara lainnya yakni India, Myanmar, Sri Lanka dan Pakistan.

Membangun solidaritas

Katon menjelasan lika-liku maupun proses panjang di balik lahirnya KAA yang diikuti 29 negara yang baru saja merdeka dan sedang membangun solidaritas itu. Maka tidak salah selama berlangsungnya KAA, perhatian seluruh dunia tertuju ke Bandung. Disebutkan, ada 23 negara Asia dan 6 Afrika. Seluruhnya menggalang kebersamaan. Selain itu, sebanyak 366 jurnalis dari dunia datang dan meliputi KAA sehingga menjadi headline internasional di mana-mana.

Pengunjung juga bisa menyaksikan langsung foto-foto selama KAA berlangsung dari berbagai sudut pandang. Foto-foto dan berita media terpajang rapi melengkapi koleksi. Selain itu, juga masih tersimpan peralatan pengirim naskah berita media yang waktu itu termasuk paling canggih.

Pada sudut lain, juga terdapat foto-foto yang menceritakan kisah unik di balik KAA antara lain seputar kuliner khas Bandung maupun kegiatan para istri dari delegasi yang datang dari berbagai negara.

Rombongan dari DPRD DIY diajak menonton film dokumenter KAA dilanjutkan merasakan langsung tempat para delegasi bersidang di aula gedung peninggalan Belanda yang kemudian diberi nama Gedung Merdeka itu. Seluruh kursinya masih asli terbuat dari kayu jati Jepara yang terkenal kuat dan terbukti awet hingga sekarang. (*)