Setengah Abad SMKN 4 Yogyakarta, Perkuat Pendidikan Karakter
Peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dirasakan secara instan. Dampaknya baru akan terlihat jangka panjang.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Peringatan tahun emas 50 tahun SMK Negeri 4 Yogyakarta menjadi momentum reflektif bagi sekolah vokasi tersebut untuk menegaskan kembali arah pendidikannya. Tidak hanya merayakan perjalanan setengah abad, SMKN 4 Yogyakarta memperkuat pendidikan karakter dan soft skill siswa sebagai fondasi utama menyiapkan lulusan yang siap terjun ke dunia kerja dan masyarakat.
Kegiatan puncak ulang tahun emas digelar meriah dengan diawali karnaval budaya yang melibatkan seluruh warga sekolah. Iring-iringan dibuka oleh pasukan bregada, disusul karyawan yang menaiki andong serta siswa dari seluruh kelas yang mengenakan kostum dengan ciri khas masing-masing. Kostum tersebut sekaligus menjadi bagian dari penilaian kreativitas antar kelas.
“Karnaval ini melibatkan seluruh kelas dengan identitas masing-masing. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga bagian dari pembelajaran kreativitas, kerja sama dan kepercayaan diri anak-anak,” ujar Jamadi SAg MSi, Ketua Panitia Ulang Tahun Emas SMKN 4 Yogyakarta, di sekolah setempat, Senin (2/2/2026).
Usai karnaval, acara dilanjutkan penampilan ekstrakurikuler. Dari lebih 30 kegiatan ekstrakurikuler di SMKN 4 Yogyakarta, sebagian ditampilkan untuk mengisi rangkaian acara, seperti karate dan paskibra. Keterbatasan waktu membuat tidak semua ekstrakurikuler dapat tampil meski antusiasme siswa cukup tinggi.
Ruang ekspresi
Selepas Dhuhur, sekolah juga menggelar konser musik yang dipilih langsung oleh siswa. Konser tahunan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus hiburan bagi peserta didik. “Konser ini milik anak-anak, sesuai keinginan mereka. Setiap tahun selalu kami adakan,” katanya.
Tak hanya fokus pada internal sekolah, perayaan 50 tahun SMKN 4 Yogyakarta juga melibatkan masyarakat sekitar. Pasar murah digelar dengan menggandeng UMKM di lingkungan sekolah serta mitra rekanan. Kegiatan ini berlangsung sejak siang hingga sore hari sebagai wujud kepedulian sosial dan pembelajaran empati bagi siswa.
Rangkaian peringatan ulang tahun emas ini sejatinya dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Sekolah menggelar pengajian akbar, bakti sosial serta donor darah yang diikuti cukup banyak peserta karena dipublikasikan secara luas.
Bantuan sosial juga disalurkan ke panti asuhan dan masyarakat sekitar sekolah. “Inilah bentuk bakti kami kepada masyarakat. Harapannya, sekolah tidak hanya hadir untuk siswa, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan,” ujarnya.
Jangka panjang
Dalam refleksi perjalanan 50 tahun SMKN 4 Yogyakarta, Jamadi menyatakan peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dirasakan secara instan. Dampaknya baru akan terlihat dalam jangka panjang, ketika lulusan benar-benar berkiprah di masyarakat dan dunia kerja.
Setiap tahun, SMKN 4 Yogyakarta mendidik ratusan siswa dan meluluskan sekitar 650 siswa. Dinamika dunia pendidikan pun terus dihadapi. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah secara serius menekankan penguatan karakter dan soft skill di samping penguasaan hard skill.
“Sebagai SMK, tugas kami menyiapkan lulusan yang siap kerja. Tapi sekarang kami melihat soft skill dan karakter itu sangat menentukan,” katanya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Kasus kenakalan remaja dan penyimpangan perilaku siswa yang meresahkan masyarakat dilaporkan menurun signifikan. Lingkungan sekolah menjadi lebih kondusif, sementara pembinaan karakter berjalan lebih terarah.
Prestasi membanggakan
Dari aspek prestasi, SMKN 4 Yogyakarta juga mencatat berbagai capaian, baik di tingkat kota, provinsi, hingga nasional, termasuk dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Selain itu, prestasi membanggakan juga datang dari bidang ekstrakurikuler, khususnya karate yang telah meraih prestasi nasional.
Bidang fashion juga mencatat capaian di tingkat nasional, sementara beberapa siswa saat ini tengah mengikuti proses nominasi bidang budaya yang mewakili Yogyakarta ke tingkat nasional.
Penyerapan lulusan ke dunia kerja pun dinilai cukup baik. Sekolah memiliki mekanisme penyaluran kerja baik secara internal maupun eksternal, termasuk melalui bursa tenaga kerja dan jejaring mitra. Sektor pariwisata, kecantikan dan kuliner menjadi bidang yang paling banyak menyerap lulusan.
“Bidang kecantikan hampir semua terserap. Anak-anak juga sudah terbiasa bekerja di bidang kuliner, terutama saat liburan. Bahkan mereka menyebut musim ramai sebagai masa ‘panen’ karena bisa bekerja pagi dan malam,” ungkapnya.
Semakin meningkat
Menurutnya, semua capaian tersebut merupakan proses berkelanjutan yang melibatkan manajemen sekolah dan seluruh pemangku kepentingan. Penguatan hard skill dan soft skill terus dilakukan agar kompetensi lulusan semakin meningkat.
“50 tahun ini adalah pijakan untuk melangkah ke depan. Kami ingin lulusan SMKN 4 Yogyakarta tidak hanya terampil, tetapi juga berkarakter, beretika, dan siap menjadi bagian dari masyarakat,” ujarnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
