Fasilitasi Kreativitas Siswa, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta Gelar Lomba Kustomisasi Motor
Banyak anak-anak mengambil motor lama, lalu dimodifikasi menjadi motor listrik.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Upaya sekolah vokasi memfasilitasi bakat dan kreativitas peserta didik terus menemukan bentuknya. SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menggelar lomba kustomisasi sepeda motor sebagai bagian dari rangkaian kegiatan class meeting, sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi siswa yang memiliki minat dan keahlian di bidang otomotif di sekolah setempat, Kamis (18/12/2025).
Kegiatan ini digelar untuk mengisi masa jeda antara ujian sekolah hingga pembagian rapor. Memanfaatkan waktu luang berlalu, sekolah merancang sejumlah kegiatan nonakademik yang berorientasi pada pengembangan bakat, minat dan karakter siswa.
“Class meeting ini memang kami desain untuk mewadahi kreativitas anak-anak. Tidak hanya olahraga, tetapi juga hobi dan minat lain seperti otomotif,” ujar Kustejo, Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, di sela lomba.
Selain lomba olahraga dan turnamen gim daring seperti Mobile Legends, lomba kustomisasi motor menjadi salah satu kegiatan yang paling menyedot perhatian. Hal ini tak lepas dari latar belakang sekolah yang memiliki kompetensi keahlian Teknik Otomotif dan Teknik Sepeda Motor, sehingga budaya otomotif telah melekat kuat di kalangan siswa.
Tampil beragam
Dalam lomba tersebut, sekitar 70-an siswa turut ambil bagian dengan menampilkan lebih dari 70 unit motor hasil kustomisasi. Motor-motor yang ditampilkan pun beragam, mulai dari motor matic hingga motor 2 tak dan 4 tak. Seluruh motor merupakan milik siswa sendiri dan dikustomisasi berdasarkan kreativitas masing-masing.
“Anak-anak ini memang punya hobi modifikasi. Mereka memodifikasi motor mereka sendiri, berdasarkan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Guru hanya memberikan dasar ilmu dan keterampilan, selebihnya mereka yang mengerjakan sendiri,” kata Kustejo.
Menariknya, kustomisasi yang ditampilkan tidak sekadar mengejar tampilan ekstrem. Sekolah menetapkan batasan yang jelas agar modifikasi tetap ramah lingkungan, aman dan sesuai aturan lalu lintas.
Motor dengan knalpot bising atau modifikasi yang berpotensi mengganggu keselamatan tidak diperkenankan. “Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa kreativitas harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Modifikasi boleh, tapi tetap sesuai ketentuan dan tidak mengganggu lingkungan,” tegasnya.
Konversi Motor listrik
Salah satu daya tarik utama dalam lomba ini adalah hadirnya motor-motor hasil konversi dari mesin bensin menjadi motor listrik. Lebih dari 10 unit motor listrik ditampilkan, sebagian besar berasal dari motor-motor lama yang dimodifikasi ulang oleh siswa.
Motor-motor lawas tersebut justru tampil unik setelah dikonversi menjadi motor listrik. Kesan antik berpadu dengan teknologi ramah lingkungan, mencerminkan kemampuan siswa dalam memadukan kreativitas, teknik dan kesadaran energi berkelanjutan.
“Banyak anak-anak mengambil motor lama, lalu dimodifikasi menjadi motor listrik. Harapannya, mereka tetap mencintai motor-motor lama, tetapi bisa memodernisasinya dengan teknologi listrik,” jelas Kustejo.
Proses konversi dilakukan oleh siswa sendiri dengan modal pribadi. Bahkan, tak sedikit siswa yang rela mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah untuk mewujudkan motor impiannya.
Mobil khusus
"Sejumlah motor bahkan diangkut menggunakan mobil khusus agar kondisinya tetap aman saat dibawa ke lokasi lomba," ungkapnya.
Meski memberi ruang kebebasan berkreasi, pihak sekolah tetap menerapkan aturan ketat. Motor yang tidak standar tetap tidak diperbolehkan digunakan untuk aktivitas harian ke sekolah.
Lomba kustomisasi ini diposisikan sebagai ajang edukatif dan apresiatif, bukan untuk mendorong penggunaan kendaraan tidak sesuai regulasi.
“Kami ingin anak-anak menyalurkan hobi di tempat yang tepat. Sekolah harus hadir untuk mengarahkan, bukan melarang tanpa solusi,” ujar Kustejo.
Peluang usaha
Kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa. Dunia modifikasi dan otomotif dinilai memiliki peluang usaha yang besar, baik melalui bengkel, jasa kustomisasi, maupun pengembangan kendaraan listrik di masa depan.
“Harapannya, dari kegiatan seperti ini anak-anak menemukan passion mereka. Ke depan, bukan tidak mungkin mereka membuka bengkel sendiri atau terjun ke industri otomotif,” tambahnya.
Inspirasi juga datang dari para guru. Salah satu guru yang diketahui memiliki bengkel modifikasi, termasuk konversi motor konvensional ke listrik. Hal ini menjadi contoh nyata bahwa keahlian vokasi dapat berkembang menjadi usaha profesional.
Tak hanya di lingkungan sekolah, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta juga tercatat aktif berkontribusi dalam program konversi motor listrik. Sebagian besar motor dinas berpelat merah yang dikonversi menjadi motor listrik di wilayah DIY dikerjakan oleh sekolah ini.
Dukungan PLN
Atas kiprahnya tersebut, sekolah menerima apresiasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta mendapat dukungan dari PLN untuk pengembangan sarana dan peralatan konversi motor listrik.
Melalui lomba kustomisasi motor ini, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menegaskan perannya sebagai sekolah vokasi yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga serius membina kreativitas, keterampilan, dan masa depan siswanya. Sebuah upaya konkret untuk memastikan setiap bakat menemukan ruang tumbuhnya.
“Ini menjadi bukti bahwa apa yang dilakukan anak-anak dan sekolah bukan sekadar hobi, tetapi juga memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan energi ramah lingkungan,” katanya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
