Pustral UGM dan Pemda DIY Deklarasi Kawasan Rendah Emisi Jeron Beteng
Sebagai respons mendesak terhadap perubahan iklim dan persiapan menuju target Malioboro Full Pedestrian 2026.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pemda DIY bersama Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) mendeklarasikan Jeron Benteng sebagai Kawasan Rendah Emisi (KRE).
Deklarasi yang digelar di Plaza Pasar Ngasem Minggu (1/2/2026) ini menandai dimulainya pembatasan kendaraan bermotor secara bertahap serta pelarangan operasional angkutan wisata berbasis BBM fosil di kawasan cagar budaya tersebut.
Langkah ini diambil sebagai respons mendesak terhadap perubahan iklim dan persiapan menuju target Malioboro Full Pedestrian pada tahun 2026.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menjelaskan kepadatan lalu lintas di wilayah Jeron Beteng sudah mencapai titik kritis yang memicu tingginya polusi udara. Skema pembatasan kendaraan pribadi dan angkutan umum menjadi prioritas.
Akan dibatasi
"Di sana tadi kan penuh sesak, macet. Itu karena semuanya menggunakan kendaraan pribadi untuk masuk wilayah Jeron Beteng. Nantinya kendaraan pribadi akan dibatasi masuk ke area ini, meski untuk penduduk setempat sebenarnya tidak dilarang total," ujar Erni di sela-sela acara.
Sebagai tindak lanjut deklarasi, Dishub DIY akan segera memulai diskusi teknis rekayasa lalu lintas mulai Senin (2/2/2026). Koordinasi intensif akan dilakukan bersama pihak Keraton Yogyakarta selaku pemilik wilayah, kepolisian dan masyarakat setempat.
"Wilayah ini padat penduduk dan area parkir sangat sulit, jadi butuh komitmen bersama. Kami akan mengidentifikasi masalah, termasuk rencana pemasangan portal-portal, sembari mencari solusi agar aktivitas warga tidak terkendala," tambah Erni.
Peneliti Pustral UGM, Ikaputra, menjelaskan deklarasi KRE ini bukan tanpa dasar. Tingginya emisi karbon dari sektor transportasi dinilai menjadi penyebab utama anomali bencana alam belakangan ini.
Langkah konkret
"Satu-satunya jalan adalah mengurangi emisi jika ingin tidak terjadi bencana-bencana yang anomali. Kita mulai langkah konkret dari Jeron Beteng," kata Ikaputra.
Menurutnya, konsep rendah emisi sejatinya adalah pengulangan praktik sejarah. Sejak zaman Sultan Mangkubumi I, area Cepuri Keraton sudah steril dari kendaraan bermotor dan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.
"Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana sudah dipraktikkan sejak dulu. Di kampung sekitar Taman Sari dulu motor wajib dimatikan saat masuk gang. Perilaku ramah lingkungan inilah yang ingin kita hidupkan kembali," tandasnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
