Kamis, 27 Jan 2022,


cukup-dengan-polybag-budidaya-kunyit-hitam-menghasilkan-jutaan-rupiahAstajib dan Yudi menunjukkan kunyit hitam yang dibudidayakan dengan polybag. (istimewa)


Nanang W Hartono
Cukup Dengan Polybag, Budidaya Kunyit Hitam Menghasilkan Jutaan Rupiah

SHARE

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN—Astajib, warga Desa Sidomukti Kecamatan Ambal Kebumen, berhasil membudidayakan kunyit hitam hanya memanfaatkan polybag. Dengan luasan lahan yang terbatas, pria ini berhasil meraup untung hingga puluhan juta rupiah.


Menggunakan polybag, tanpa lahan luas, Astajib warga Desa Sidomukti, Kecamatan Ambal, Kebumen, raup puluhan juta rupiah dari hasil budidaya tanaman langka, berupa kunyit hitam. Jenis tanaman ini diketahui memiliki kandungan anti oksidan yang cukup tinggi.


Ditemui di rumahnya, Astajib mengungkapkan, dalam satu kali panen, tanaman berumur 1 tahunan yang dibudidayakan di satu polybag bisa menghasilkan 3 kilogram. “Tanaman langka ini saya jual online. Bisa laku 350 ribu per ons,” kata Astajib.

Ia juga melakukan penyemaian kunyit hitam di polybag. Ketika sudah berumur 3 bulan, bibit ini laku dijual dengan harga Rp 500.000 perbuah. Pembeli kunyit hitam yang dikenal memiliki kandungan antioksidan tinggi ini, kebanyakan orang yang mempunyai keluhan penyakit dalam, seperti kanker, hipertensi bahkan lemah syahwat.


Saat ini, di sekitar pekarangan rumahnya sudah ada sekitar 200 polibag yang sudah siap panen. Dalam satu polybag dapat menghasilkan 2 sampai 3 kilogram kunyit. Untuk perawatan, Astajib mengaku tidak menggunakan pestisida. Ia memilih bahan-bahan alami, untuk menjaga kualitas.

Seorang pedagang kunyit hitam, Yudi Irawan warga Desa Gemeksekti, Kecamatan Kebumen mengatakan, setiap bulan dirinya membeli kunyit hitam untuk dijual kembali secara online. Dalam sebulan dirinya bisa mengasilkan omset Rp 50 juta. Transaksinya sudah merambah seluruh wilayah Jawa

Yudi mengaku sudah menjalani usaha ini sejak 2 tahun lalu. Mendapatkan bibit impor dari India dan hanya dibudidayakan sendiri. Namun seiring perkembangan waktu, permintaan semakin banyak. Bahkan hasil panennya tidak mampu mencukupi permintaan yang terus meningkat. (*)

 

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini