Seniman Nasirun Pameran “Sekutu Para Hantu” di Langgeng Art Space

Kalau sudah bisa beli Alphard dan tidak perlu menyetir sendiri, ya sudah selesai tugas pribadi saya.

Seniman Nasirun Pameran “Sekutu Para Hantu” di Langgeng Art Space
Seniman Nasirun di antara karya-karyanya dalam pameran Sekutu Para Hantu di Ace House, Langgeng Art Space Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ruang pameran Ace House Langgeng Art Space yang hening, garis-garis ekspresionistis Nasirun tampak berdansa dengan arsip-arsip bisu dari masa kolonial.

Dia tidak sendirian. Di sekelilingnya, ada narasi tentang hantu-hantu masa lalu yang dipanggil Kembali bukan untuk menakuti melainkan menjadi kompas di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

Pameran Broken White Project (BWP) #31 bertajuk Sekutu Para Hantu membawa pada sebuah penjelajahan estetika yang meminjam semangat realisme magis Gabriel García Márquez (Gabo).

Jika dalam novel Gabo, seorang perawan bisa terangkat ke langit bersama jemuran dengan nada yang datar, maka di tangan para seniman ini, mitos dan tradisi masa lalu dihadirkan kembali sebagai realitas yang sangat meyakinkan.

Pengunjung mengamati karya-karya seniman dalam pameran Sekutu Para Hantu di Ace House, Langgeng Art Space Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Bagi Nasirun, seniman senior yang menjadi poros dalam pameran ini, keberadaan karya masa lalu adalah amanah kebudayaan yang disebutnya sebagai "Agama Bumi". Baginya, menjaga tradisi bukanlah sekadar merawat artefak, melainkan memberinya nafas dan inovasi baru.

"Kalau epos Ramayana atau Mahabharata hanya kita baca apa adanya, dua malam saja sudah selesai. Mengapa bisa bertahan ratusan tahun? Karena ada tafsir baru dari setiap generasi," ujar Nasirun ditemui di sela pembukaan pameran, Jumat (6/3/2026).

Nasirun membawa pengunjung pada perjalanan melintasi waktu melalui karya-karya recycle. Dia memungut ingatan yang tertinggal di Museum Haarlem Belanda, berupa arsip-arsip dagang era VOC dan kartu pos lama, untuk kemudian ditawarkan kembali kepada publik Indonesia.

Menariknya, dia menggunakan Blawong. Papan kayu penyangga keris itu sebagai medium. Di tangannya, benda yang dulunya penuh etika penghormatan terhadap pusaka ini bertransformasi menjadi ruang ekspresi yang mengingatkan kita pada punden berundak, Lingga Yoni, hingga relief Nandiswara.

Arsip seniman

Di luar urusan artistik, Nasirun menjelaskan berkesenian harus memiliki kemaslahatan publik atau kagunan. Baginya, seniman bukan sekadar pencari jati diri melainkan "pekerja kebudayaan".

Semangat ini pula yang membuatnya tak pernah lelah mengumpulkan arsip surat-surat seniman terdahulu, seperti Kartono Yudhokusumo hingga pendiri ASRI, RJ Katamsi, yang rencananya akan dipamerkan di Jogja National Museum (JNM) menjelang perhelatan ARTJOG.

Di tengah pencapaiannya sebagai seniman besar, Nasirun tetap ingin menjadi bagian dari publik dan berkolaborasi dengan anak muda.

"Berkesenian bagi saya ya momennya untuk berbagi. Kalau sudah bisa beli Alphard dan tidak perlu menyetir sendiri, ya sudah selesai tugas pribadi saya," selorohnya tertawa lepas.

Akar yang sama

Kuratorial pameran ini secara cerdik membedah posisi Nasirun di antara para "sekutu" lainnya. Meski sama-sama terinspirasi dari wayang, Nasirun memilih jalur ekspresionisme yang liris, sementara Nalta melompat dengan gaya pop art yang segar.

Keduanya menunjukkan bagaimana latar belakang zaman membentuk cara pandang seniman terhadap akar yang sama.

Spektrum lain ditunjukkan oleh seniman asal Bali yaitu Nyoman Darmawan yang tumbuh dalam tradisi lukis Pengosekan, dia menggeser dekorasi alam liar menjadi lanskap biografis yang surealistis dan personal. Sementara Kuncir Satya Viku memadukan tradisi Bali dan Jepang, Kuncir membangun lanskap yang "tidak utuh" sebagai kritik atas percepatan informasi di era teknologi saat ini.

Sedangkan Noviadi Angkasapura menampilkan figur-figur janggal yang lahir dari dorongan neurotik. Lewat garis-garis organik yang seolah berasal dari "tamu istimewa" dalam batinnya, tetap bisa menemukan jejak-jejak citraan tradisional yang esoterik. (*)