Saemen Fest 2025: Perayaan Distorsi yang Berakhir dengan Pelukan Hindia

Saemen Fest 2025 sukses menjadi ruang silaturahmi yang emosional dan megah. Musiknya berhasil merawat jiwa, namun perilaku penontonnya masih menyisakan luka bagi tempat mereka berpijak

Saemen Fest 2025: Perayaan Distorsi yang Berakhir dengan Pelukan Hindia
Hindia menutup perhelatan Saemen Fest 2025 dengan lirik-lirik yang menyentuh gen z. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA—"Saemen itu bukan sekadar festival, tapi ruang silaturahmi kreatif. Kami ingin menciptakan pengalaman yang bukan hanya terdengar di telinga, tapi juga terasa di hati,” ujar Gerfian Riandra, Festival Director Saemen Fest 2025, beberapa pekan sebelum acara digelar.

Minggu malam (14/12/2025) di Lapangan Parkir Stadion Mandala Krida, visi Gerfian itu terbukti—setidaknya di atas panggung. Ribuan pasang telinga dimanjakan, dan ribuan hati bergetar hebat. 

Malam itu, sorotan utama tertuju pada Jenny, unit rock legendaris yang "dibangkitkan" kembali untuk berkolaborasi dengan Melancholic Bitch (Melbi). Bagi Farid Stevy, vokalis Jenny sekaligus FSTVLST, panggung ini adalah momen pulang ke rumah.

“Jenny itu akar, FSTVLST adalah cabangnya. Tanpa Jenny, tak akan ada FSTVLST. Di Saemen Fest kali ini, kami ingin menyapa kembali keluarga lama, sekaligus memperkenalkan warisan itu ke pendengar baru,” ungkap Farid kala itu.

Energi “keluarga” itu meledak saat intro “Mati Muda” dimainkan. Ribuan penonton—dari veteran gigs era 2000-an hingga Gen Z yang baru mengenal mitos Jenny dan Melbi berteriak serempak.

Di tengah euforia, kritik sosial tetap tajam. Melancholic Bitch membawa kritikan kerusakan hutan Sumatera yang mencekam. Momen semakin magis saat Silir Pujiwati (Kuaetnika) hadir. Suara sindennya yang menyayat dalam lagu "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa" milik Frau membuat stadion hening seketika.

“Gila sih, pas mbak Silir masuk, merindingnya dapet banget. Apalagi pas nyanyiin lagunya Frau,” tulis akun @agung***** di platform X sesaat setelah acara.

Penyembuhan dari Hindia

Usai dihajar distorsi dan kritik berat, penonton diajak “bernapas” oleh Hindia. Baskara Putra menutup malam dengan manis, mengubah lelah menjadi pelukan hangat.

“Terima kasih Hindia sudah memvalidasi capeknya kita tahun ini. Pulang dari Saemen rasanya “penuh”. Tidur nyenyak malam ini,” cuit seorang penonton dengan akun @raras*****.

Namun, saat lampu panggung padam, mata kita dipaksa melihat realita lain yang tertinggal di aspal: janji “kebaikan” itu ternoda oleh jejak sampah yang ditinggalkan penonton.

Pihak Hectic Creative sejatinya telah menyiapkan kantong sampah (trash bag) di setiap sudut, baik area Festival maupun VIP. Namun, seusai acara, sebaran botol plastik dan kemasan makanan menjadi pemandangan yang kontras dengan narasi “cinta lingkungan” yang baru saja diteriakkan musisi di panggung.

“Jujur malu banget. Di panggung, Feast teriak soal hutan dan alam, eh kita di bawah malah nyampah sembarangan. Tong sampah banyak tapi nggak dipake. PR banget buat kita,” keluh salah satu netizen di kolom komentar Instagram resmi Saemen Fest.

Saemen Fest 2025 sukses menjadi ruang silaturahmi yang emosional dan megah. Musiknya berhasil merawat jiwa, namun perilaku penontonnya masih menyisakan luka bagi tempat mereka berpijak. Sebuah perayaan musik yang indah, dengan sebuah catatan. (*)