Kolektor Anggrek Jadi Penolong Industri Gerabah Gebangsari
Sejumlah pelanggannya mengaku lebih memilih pot berbahan tanah, ketimbang pot berbahan plastik. Pot berbahan tanah dinilai lebih artistik dan estetik dibandingkan pot plastik
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN--Industri gerabah di Desa Gebangsari, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, masih bertahan di tengah membanjirnya industri untuk keperluan yang sama berbahan plastik. Industri rumahan masih bertahan, ketika masyarakat bertahan dengan pot berbahan tanah liat.
Salah seorang perajin gerabah, Sarmo mengungkapkan, produk pot untuk budidaya anggrek, paling banyak diminati. Harga pot dari Rp 10 ribuan hingga puluhan ribu rupiah.
“Pot kecil, untuk anggrek yang masih benih harganya Rp 10 ribu,” kata Sarmo yang menjadikan rumahnya sekaligus workshop dan showroom pot buatan dia dan istrinya.
Di showroom tersedia berbagai ukuran pot untuk anggrek. Konsumen biasanya membeli tergantung umur anggrek yang akan ditanam.
Sejumlah pelanggannya mengaku lebih memilih pot berbahan tanah, ketimbang pot berbahan plastik. Pot berbahan tanah dinilai lebih artistik dan estetik dibandingkan pot plastik.
“Pot tanah lebih berat, tanaman anggrek terlihat lebih kokoh berdiri,” ujar Sarmo.
Ciri pot untuk anggrek, menurut Sarmo berbeda dengan pot untuk tamanan non anggrek. Pot anggrek, bolong bolongnya di bawah dan di samping. Lubang di pot untuk memberi tempat akar anggrek hingga terlihat di luar pot.
Perajin di Gebangsari, selain membuat pot, masih ada yang membuat peralatan lain, seperti cobek dan muntu, teko, celengan dan mainan anak.
“Celengan laku, kalau yang kegiatan anak TK atau PAUD di sini,” ujar Sarmo. (*)
Nanang W Hartono
