Romo dan Pendeta Berbagi Altar di GKJ Suryodiningratan

Ini adalah puncak dari Ibadah Oikumene yang mempertemukan lima gereja tetangga.

Romo dan Pendeta Berbagi Altar di GKJ Suryodiningratan
Kegiatan Oikumene anak di Gereja Pugeran bersama Rm FX Sukendar Pr (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Pemandangan menyejukkan hati terlihat di GKJ Suryodiningratan Minggu (1/2/2026) pagi. Tidak ada sekat denominasi, tidak ada perbedaan jubah yang mencolok. Yang ada hanyalah suasana kekeluargaan yang hangat.

Di atas altar, dua orang Romo Katolik dan empat orang Pendeta Kristen berdiri berdampingan, memimpin umat dalam satu harmoni doa.

Momen langka ini adalah puncak dari Ibadah Oikumene yang mempertemukan lima gereja tetangga yaitu Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, GKJ Suryodiningratan, GKJ Wirobrajan, GKJ Madukismo dan GBI Ngadinegaran.

Mengusung tema Satu Tubuh Satu Roh ibadah ini seolah menjadi oase yang menyegarkan di tengah keberagaman masyarakat.

Memimpin liturgi

Rm FX Sukendar Pr dan Rm Andri dari Gereja Pugeran, Pdt Adi dari GKJ Suryodiningratan, Pdt Yosef dan Pdt Nanda dari GKJ Wirobrajan serta Pdt Martinus Sumedi dari GBI Ngadinegaran, secara bergantian memimpin liturgi dengan semangat persaudaraan yang kental.

Dalam homilinya yang menyentuh hati, Pdt Martinus Sumedi tidak berbicara tentang doktrin yang rumit melainkan tentang esensi menjadi satu keluarga Allah.

Dia menekankan sebuah pesan kuat: Satu Tubuh menjadi identitas kita, Satu Roh menjadi kekuatan kita, dan Satu Pengharapan menjadi tujuan kita bersama.

Semangat persatuan ini sejatinya telah dinyalakan sehari sebelumnya. Pada Sabtu 31 Januari 2026 tawa riang anak-anak memenuhi kompleks Gereja HKTY Pugeran.

Nilai toleransi

Dengan tema "Satu Kasih Banyak Sahabat", anak-anak dari kelima gereja tersebut diajak bermain dan belajar, memiliki teman berbeda gereja itu indah. Ini adalah upaya sadar untuk menanamkan nilai toleransi sejak usia dini, memastikan bahwa "rumah bersama" ini akan terus kokoh di masa depan.

Apa yang terjadi di akhir pekan tersebut adalah perwujudan nyata dari arti kata Oikumene itu sendiri. Berasal dari bahasa Yunani oikos (rumah) dan monos (satu), gerakan ini bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan sebuah kerinduan untuk kembali menjadi "rumah yang satu" bagi tubuh Kristus.

Bagi jemaat yang hadir, rangkaian kegiatan ini lebih dari sekadar ibadah gabungan. "Bagus dan sangat menginspirasi," ujar Edi S Miko, salah seorang jemaat.

Kegiatan ini dirasakan sebagai langkah konkret yang manis dalam merajut tali persaudaraan umat beriman, membuktikan perbedaan bukanlah alasan untuk berjarak, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi. (*)