Selasa, 07 Des 2021,


ritual-sungkeman-mengawali-kiprah-persitema-di-liga-3Lain daripada yang lain, Tim Persitema Temanggung melakukan prosesi sungkeman saat launching klub Liga 3 tahun 2021 ini. (istimewa)


Siaran Pers
Ritual Sungkeman, Mengawali Kiprah Persitema di Liga 3

SHARE

KORANBERNAS.ID, TEMANGGUNG—Ritual sungkeman dengan orang tua, mewarnai acara launching tim Persitema Temanggung yang segera akan merumput di Liga 3, Rabu (27/10/2021). Acara sungkeman, menjadi hal yang paling mengharukan dan berkesan, dibandingkan launching jersey maupun acara pengenalan para pemain.


Selain kepada orang tua, sungkeman juga dilakukan seluruh pemain terhadap Forkominda Kabupaten Temanggung. Sungkeman sendiri merupakan sebuah prosesi tradisional masyarakat Jawa untuk meminta doa restu kepada orang tua untuk melaksanakan sebuah tindakan.


Dalam rilisnya, Jumat (29/10/2021), pihak Persitema mengatakan, sungkeman dalam giat launching “Persitema 2021 Mengarungi Liga 3” ini, dimaknai sebagai upaya menggalang dukungan. Bagaimanapun juga, peran spiritual dalam masyarakat Jawa mempunyai nilai tersendiri guna memotivasi para pemain.

Untuk itu, doa restu dari orang tua kepada anaknya yang kini menjadi punggawa Persitema, diharapkan membawa pesan psikologis untuk senantiasa memetik kemenangan yang membahagiakan seluruh masyarakat Temanggung.


“Masyarakat Temanggung tidak bisa dijauhkan dari nilai-nilai tradisional yang menjadi local wisdom. Melalui sungkeman, kami harapkan ada kebanggaan bagi orang tua pemain. Di sisi lain, ini juga ditujukan untuk menumbuhkan motivasi diri bagi para pemain tim melalui wejangan-wejangan yang diberikan orang tua,” ungkap Ketua Askab PSSI Temanggung, Yunianto SP.

Persitema sengaja menjauhi acara launching yang glamor. Mereka memilih cara sederhana dan mempertahankan nilai-nilai yang menjadi urban culture. Hal ini juga diklaim sebagai launching sepakbola pertama di Indonesia yang menggunakan segala prosesi tradisional, termasuk salah satunya sungkeman.

Manager Tim, Margo Susilo mengatakan, sungkeman yang dilakukan ini juga bertujuan untuk membumikan kebanggaan tim terhadap nilai tradisional. “Ada filosofi Jawa yang memiliki pesan mendalam, yakni Ojo Pedhot Oyot. Banyaknya prestasi yang ditorehkan jangan sampai lupa terhadap peran orang tua yang senantiasa mendukung kita dengan doa-doanya. Ini tertuang dengan prosesi sungkeman yang dilakukan,” ungkap Margo.

Budaya tradisional yang diangkat dalam Persitema ini juga terinterpretasikan melalui jersey yang digunakan. Adanya ornamen tulisan aksara Jawa “Melu Memayu Hayuning Bawono” ini, memiliki pesan supaya tim terus senantiasa ikut mempercantik tata kehidupan masyarakat, utamanya melalui sepakbola. Hal ini diharapkan menjadi semangat bagi tim untuk membangun Persitema secara solid guna menorehkan prestasi terbaik. (*)

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini