Selasa, 20 Apr 2021,


resah-sering-didatangi-polisi-perempuan-wadas-geruduk-mapolres-purworejoWadon (perempuan) Desa Wadas menyampaikan uneg-uneg kepada Kapolres Purworejo, AKBP Rizal Marito. (wahyu nur asmani/koranbernas.id)


Wahyu Nur Asmani EW
Resah Sering Didatangi Polisi, Perempuan Wadas Geruduk Mapolres Purworejo

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Para wadon (perempuan) Wadas yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (GEMPADEWA) mendatangi Mapolres Purworejo, Kamis (4/3/2021).


Kapolres Purworejo, AKBP Rizal Marito, dan jajaran menerima rombongan ibu-ibu warga Desa Wadas Kecamatan Bener di lapangan depan Mapolres Purworejo. Kapolres mempersilahkan 20 orang perempuan ditambah satgas dan Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta untuk beraudensi di aula.

Audensi berjalan dengan baik dengan mematuhi protokol Kesehatan. Di hadapan Kapolres Purworejo beserta jajarannya, beberapa perempuan menyampaikan uneg-unegnya.

Yati, salah seorang wadon Wadas, menyampaikan keresahan karena sering didatangi polisi di desanya. Selain polisi, desanya juga didatangi orang-orang tidak dikenal. "Saya kawatir dengan kedatangan orang asing tersebut akan memanfaatkan situasi," katanya.


Rohana, perempuan Desa Wadas lainnya, menolak stigma pihaknya mengancam Kades Wadas dengan senjata tajam (sajam). "Katanya warga Desa Wadas mengancam dengan sajam, buktinya apa. Kami adalah petani, biasa membawa pacul, arit dan parang. Kami bukan pegawai yang biasa bawa pulpen," beber Rohana.

Menurut Rohana, dirinya dan juga perempuan lainnya tidak pernah menyuruh atau mengajarkan anak dan suami untuk mengancam Kades, apalagi dengan sajam. Rohana berharap tidak terjadi penggusuran Warga Desa Wadas.

Wadon lainnya, Puryati, menolak penambangan batuan andesit. "Sumber kekuatan kami dari bumi Wadas tersebut. Di situ ada sumber air. Kami butuh minum, mandi, cuci dan lainnya dengan air," ujarnya.


Selain itu di bukit batuan andesti juga sudah ditanami pohon karet, dan warga bisa memanen karet. "Kalau semua itu hilang, kami harus hidup di mana," tutur dia.


Puryati menganalogikan jika tanah Wadas merupakan daging, air merupakan darah dan bebatuan merupakan tulang. Semua harus tetap dipertahankan untuk kelangsungan hidup.

Julian, dari LBH Yogyakarta, mengatakan Kapolres untuk menerima poin-poin yang telah disampaikan oleh wadon Wadas dalam audensi tersebut.



"Kapolres selaku pemangku kepentingan untuk melindungi warga Wadas yang menolak rencana pertambangan batuan andesit untuk suplai material bagi proyek bendungan Bener," kata Yulian.

Dia juga meminta Kapolres dapat menyampaikan sikap penolakan warga Wadas atas rencana penambangan batuan andesit untuk suplai proyek bendungan Bener kepada pengambil keputusan.

Kapolres Purworejo, AKBP Rizal Marito, menerangkan tugas Kepolisian RI memiliki 3 fungsi. "Kami harus memberikan upaya preventif, perlindungan dan pengayoman terhadap masyarakat. Jadi ibu-ibu jangan takut dengan kami," ungkap Kapolres Purworejo.

Rizal juga menjelaskan bahwa pihaknya memiliki Bhabinkamtibmas yang bertugas langsung di tengah-tengah masyarakat. "Bhabinkamtibmas biar mengayomi masyarakat. Bisa berkomunikasi dengan masyarakat guna problem solver masalah masyarakat," katanya.

Kalau masyarakat menilai polisi meresahkan warga Desa Wadas, lanjut Kapolres, akan diselidiki lebih lanjut. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini