Pulang yang Berlipat Rasa, FSTVLST Membuka Panggung Diskomfest 9
Mengingat kembali masa muda di lingkungan Diskomvis, tempat band ini pertama kali dirintis.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Langit malam di Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta tampak jauh lebih riuh dari biasanya. Ribuan mahasiswa dan alumni memenuhi area panggung Diskomfest 9, menunggu penampilan pamungkas dari band yang lahir di lingkungan kampus itu sendiri.
Hujan mulai reda ketika Farid Stevy dan Roby Setiawan naik panggung bersama rekan-rekannya, suasana berubah menjadi perayaan besar, bukan sekadar konser, tetapi semacam kepulangan.
Bagi banyak penonton, FSTVLST datang sebagai penutup yang meledak-ledak. Namun bagi Farid dan Roby, malam itu terasa jauh lebih dalam. “Seperti pulang tentunya,” kata Farid saat diwawancarai sebelum tampil, Jumat (21/11/2025).
Dengan tersenyum dia mengingat kembali masa muda yang mereka habiskan di lingkungan Diskomvis, tempat band ini pertama kali dirintis.
Kampus ISI
Dia bercerita, FSTVLST bukan hanya karya musik tetapi juga lanjutan dari atmosfer seni rupa yang membesarkan mereka.
“Band ini (Jenny) juga dimulainya dari kampus ISI, Diskomvis. Dan kebetulan, Mas Roby dan saya bersama kawan-kawan lain waktu itu, adalah inisiator Diskomfest pertama. Jadi ini pulang yang berlipat rasa,” ujarnya.
Roby Setiawan, yang malam itu kembali menapaki panggung almamaternya sebagai gitaris, juga menyebutkan momen ini seperti membuka album lama yang penuh guratan sejarah personal dan kolektif.
Baginya, Diskomfest bukan sekadar agenda seni, tetapi ruang pertemuan yang dulu ikut membentuk cara mereka melihat dunia kreatif.
Roh seni rupa
Dari sisi produksi, penampilan FSTVLST malam itu tetap sederhana tanpa koreografi berlebih atau gimmick visual. Namun justru kesederhanaan itu yang menegaskan akar mereka.
“Secara pementasan ndak menyiapkan apa-apa. Sejauh ini kami justru malah membawa what so-called roh visual dan seni rupa ISI itu ke panggung-panggung kami. Jadi rasanya malah jadi momen terima kasih kami ke komunitas kampus, khususnya Seni Rupa–Diskomvis," kata Farid.
Di depan panggung, mahasiswa dan alumni lintas angkatan bergantian meneriakkan lirik lagu-lagu mereka. Beberapa membawa tote bag lukisan, beberapa lainnya datang dengan jaket penuh patch band -- sebuah pemandangan yang mengikat musik dan seni rupa dalam satu garis waktu.
FSTVLST tampil setelah sederet band lain menghangatkan panggung, mulai dari Platformat, Mamahima, Sangkakala hingga Rubah di Selatan.
Berubah drastis
Namun aliran energi berubah drastis begitu intro lagu pertama dimainkan. Panggung Diskomfest seperti ditarik kembali ke semangat awal pendiriannya: ruang di mana musik, seni rupa dan keberanian bereksperimen saling menyala.
Bagi mahasiswa yang baru mengenal mereka lewat karya-karya belakangan, malam itu adalah pembuktian bahwa band ini tetap menyisakan jejak kampus dalam setiap penampilannya.
Bagi yang pernah menyaksikan mereka bertahun-tahun lalu, ini seperti memutar kembali kaset lama -- tetapi dengan kualitas rekaman yang lebih jernih.
Ketika ditanya apa yang ingin disampaikan kepada mahasiswa yang sedang berproses seperti mereka dulu, Farid menjawab dengan sederhana namun tegas.
Terus belajar
“Kami tidak pernah mengira kalau FSTVLST akan sejauh ini berjalan, dan itu hanya dimulai dengan berkarya sebaik-baiknya dan terus belajar. Itu nilai yang kami dapatkan banyak di kampus. Nilai yang sekarang masih jadi etos kami," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa jejak kreativitas tidak pernah lahir dari sesuatu yang tiba-tiba. Kampus, bagi mereka, adalah ruang tumbuh yang kemudian menjelma menjadi arah hidup. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
