PMI Sleman Kekurangan Darah 1.000 Kantong Setiap Bulan

PMI Sleman mendatangkan darah dari kabupaten/kota di DIY, Semarang, Banyumas hingga Surabaya.

PMI Sleman Kekurangan Darah 1.000 Kantong Setiap Bulan
Ketua PMI Sleman Sunartono memberikan reward kepada Pengurus Kapanewon dengan jumlah pendonor darah terbanyak pada kegiatan Musyawarah Kerja PMI Kabupaten Sleman, Rabu (10/1/2024). (nila haatuti/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman, Sunartono, mengatakan pada tahun 2024 organisasi yang dipimpinnya memiliki tantangan cukup besar terkait adanya kekurangan darah.

"Kita berusaha bagaimana meyakinkan kelompok masyarakat maupun anak-anak muda agar mau mendonorkan darah. Sebab, saat ini kebutuhan darah di Sleman terus mengalami tren peningkatan yang cukup signifikan," kata Sunartono di sela-sela Musyawarah Kerja PMI Sleman, Rabu (10/1/2024), di Grha Sarina Vidi.

Menurut Sunartono, jika tahun sebelumnya masih di bawah 2.000 kantong per bulan atau hanya 60 kantong per hari, kebutuhan darah saat ini sudah menembus 100 kantong per hari atau 3.000 kantong per bulan.

"Ini menjadi tantangan kita semua, baik pengurus di kabupaten maupun kapanewon. Kita harus bisa semakin intens sosialisasi pendonor sekaligus mencari sumber donor darah untuk dapat mencukupi kebutuhan darah bagi penduduk Sleman," jelas Sunartono.

ARTIKEL LAINNYA: Wapres Ma'ruf Amin Hadiri Prosesi Midodareni Dhaup Ageng di Puro Pakualaman

Kebutuhan darah, lanjut Sunartono, menjadi pembahasan yang penting untuk menyongsong program kerja tahun 2024.

Ini karena 30 persen atau hampir seribu kantong darah per bulan yang ada di Sleman masih disuplai dari luar daerah.

"PMI Sleman mendatangkan darah dari kabupaten/kota di DIY maupun dari Semarang, Banyumas hingga Surabaya agar bisa mencukupi kebutuhan," katanya.

Sunartono mengaku tidak mengetahui secara pasti mengapa kebutuhan darah di Sleman meningkat. Dugaannya, seiring kemajuan perkembangan teknologi kedokteran maka ada pasien dengan penyakit menular yang masih bisa diperpanjang umurnya melalui transfusi darah.

ARTIKEL LAINNYA: GKR Mangkubumi Meresmikan Pendopo Kalurahan Condongcatur

“Pasien tersebut umurnya diperpanjang, sedangkan penderita baru terus bermunculan. Hal ini otomatis menyebabkan kebutuhan darah meningkat,” ungkapnya.

Meski demikian, Sunartono bersyukur karena masyarakat Sleman yang sedang membutuhkan darah masih bisa mendapatkan secara gratis.

Sebab biaya pengolah darah yang kini melambung tinggi dari semula Rp 360 ribu per kantong menjadi Rp 490 ribu per kantong diakomodir sepenuhnya dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

Pemkab mengalokasikan 16 ribu kantong melalui APBD dengan nilai anggaran sekira Rp 7,8 miliar.

ARTIKEL LAINNYA: Prosesi Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman Berlangsung Delapan Hari

“Artinya cukup besar dana yang dipercayakan kepada kita untuk dikelola dalam melayani kebutuhan darah bagi penduduk Sleman. Karena ini sudah ditugasi oleh pemerintah ya PMI Sleman tidak boleh ada kekosongan darah, apapun caranya harus bisa mencukupi kebutuhan darah di Sleman," kata Sunartono.

PMI Sleman berkomitmen mencukupi kebutuhan darah dan akan mengintensifkan penyuluhan serta pendekatan kepada kelompok-kelompok masyarakat atau komunitas masyarakat agar bisa meningkatkan pendonor. “Terutama di perguruan tinggi,” tambahnya.

Sunartono mengungkapkan, mendatangkan darah dari luar daerah merupakan alternatif berikutnya jika kebutuhan darah di Sleman sudah tidak lagi bisa mencukupi.

Selain memastikan ketersediaan darah bagi warga Sleman, tantangan yang dihadapi PMI Sleman berikutnya adalah menyelesaikan program sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

ARTIKEL LAINNYA: Wapres Ma'ruf Amin Tinjau Penanggulangan Kemiskinan di DIY

Hal ini untuk memberikan kepastian bahwa produksi darah kualitasnya sudah terjamin. "Itu program yang harus kita selesaikan pada tahun ini," katanya.

Kepala Bidang Hukum dan Advokasi PMI DIY, Kardi,  mengungkapkan PMI adalah organisasi yang mengandalkan kepercayaan masyarakat.

Untuk menghadapi tantangan harus berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar PMI Internasional. Yaitu Kemanusiaan, Kesamaan, Kenetralan, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan dan Kesemestaan.

"Prinsip dasar ini menjadi pedoman dalam menghadapi dinamika," kata Kardi. (*)