Peringatan Hari Literasi Internasional Memprioritaskan Substansi daripada Seremoni
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Peringatan Hari Literasi Internasional kembali digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tahun 2025 ini, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY mengadakan seminar dan serangkaian kegiatan literasi dengan mengusung tema “Literasi Inklusi dan Kesejahteraan.”
Acara utama berlangsung di ruang seminar Perpustakaan Daerah DIY pada Senin (1/9/2025), yang dihadiri berbagai kalangan mulai dari pegiat literasi, penerbit, akademisi hingga media. Kegiatan ini sekaligus menandai tahun ketiga DPAD DIY konsisten memperingati Hari Literasi Internasional, beriringan dengan penyelenggaraan rutin Jogja Book Fair.
Kepala Bidang Pengembangan Koleksi, Layanan dan Informasi DPAD DIY Dewi Ambarwati menegaskan, bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi jalan menuju peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Undang-Undang Perpustakaan memang mewajibkan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan buku murah. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan buku asli, berkualitas dan terjangkau. Harapannya, informasi yang diperoleh dari buku tersebut dapat diaplikasikan secara inklusif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendorong terciptanya kesejahteraan,” ujarnya kepada wartawan Senin (1/9/2025).
Panitia menjelaskan, konsep acara tahun ini dipusatkan pada kegiatan literasi yang lebih substansial. Hiburan atau agenda yang bersifat seremonial sengaja dikurangi, agar perhatian peserta lebih fokus pada diskusi buku, kajian literasi, dan akses terhadap bahan bacaan.
Meski demikian, jadwal utama Jogja Book Fair 2025 yang semula direncanakan berlangsung 4–14 September masih menunggu kepastian. Situasi di lapangan yang dinamis membuat panitia membuka opsi penundaan.
“Kami sudah menyiapkan rangkaian acara, namun tetap menunggu perkembangan kondisi. Kalau situasi memungkinkan, kegiatan akan berjalan sesuai rencana. Jika tidak, penyesuaian jadwal bisa saja dilakukan. Semoga saja tidak ada penundaan,” jelas Dewi.
Dukungan pemerintah daerah terhadap gerakan literasi disebut semakin menguat. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan DPRD DIY menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan literasi.
“Acara ini memang berbasis literasi. Kami ingin mendorong minat baca masyarakat, memperluas akses orang untuk mendapatkan buku murah dan original, tanpa embel-embel kegiatan yang jauh dari semangat literasi,” terang Yusuf Effendi, salah satu panitia sekaligus Sekretaris IKAPI DIY.
Bahkan, beberapa program kolaboratif antara DPAD DIY dan IKAPI turut berjalan dengan memanfaatkan fasilitasi pemerintah daerah.
“Pak Gubernur sudah mendukung. DPRD juga memberi ruang agar kegiatan literasi terus berjalan. Tahun ini sebagian kegiatan memang difasilitasi dinas, meski sebelumnya lebih banyak swadaya panitia. Semangatnya adalah gotong royong demi keberlanjutan literasi,” tambah Yusuf.
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan angka kunjungan pameran buku, tetapi lebih jauh lagi mendorong masyarakat memanfaatkan literasi sebagai sarana peningkatan kesejahteraan.
Melalui akses buku murah dan diskusi publik, masyarakat diharapkan dapat memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, hingga menciptakan inovasi di bidang ekonomi, pendidikan maupun sosial.
Dengan konsistensi penyelenggaraan selama tiga tahun terakhir, DPAD DIY optimistis Yogyakarta dapat terus menjadi pusat gerakan literasi nasional.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum agar literasi tidak hanya berhenti pada membaca, tetapi juga memberi manfaat nyata dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
