Pasar Terban Megah Tapi Pedagang Mengeluh Soal Eskalator hingga Meja Beton

Jangan sampai bangunan bagus tapi menyiksa pemakainya. 

Pasar Terban Megah Tapi Pedagang Mengeluh Soal Eskalator hingga Meja Beton
Pasar Terban Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KOTANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Revitalisasi Pasar Terban Yogyakarta yang kini tampil dengan wajah modern dengan sanitasi bersih ternyata menyisakan persoalan pelik bagi para pedagang.

Di balik kemegahan gedung baru tersebut, muncul keluhan mendasar terkait desain infrastruktur yang dinilai tidak peka terhadap kebutuhan operasional pedagang kecil, mulai dari ketiadaan eskalator hingga desain lapak yang memaksa pedagang merogoh kocek pribadi jutaan rupiah.

Keluhan paling keras terdengar dari zona penjahit dan permak jeans. Hartini, pedagang yang telah 13 tahun menggantungkan hidup di usaha ini, mengaku terkejut saat melihat kios barunya.

Meja beton permanen yang disediakan pengelola pasar dinilai tidak fungsional karena desainnya menyerupai lapak penjual daging, sehingga mesin jahit tidak bisa masuk.

Biaya pedagang

"Sekilas itu seperti los daging. Tahu-tahu lotre tempat, barang sudah jadi. Padahal mesin jahit itu butuh lubang untuk kepala mesin dan dinamo. Kalau beton utuh begini, kami tidak bisa kerja," ujar Hartini di lokasi, Sabtu (17/1/2026).

Akibat kesalahan desain ini, Hartini terpaksa membobok (menghancurkan sebagian) meja beton baru tersebut agar mesinnya bisa terpasang. Dinas Perdagangan mengizinkan pembongkaran tersebut namun membebankan seluruh biaya kepada pedagang.

"Satu meja biayanya Rp 450 ribu. Saya punya dua meja, jadi habis Rp 900 ribu. Itu uang pribadi. Padahal kami baru pindah, modal sudah menipis," keluhnya.

Tak hanya soal meja, Hartini juga mengungkapkan penurunan daya listrik. Saat masih berjualan di lapak lama, dia memasang daya mandiri 1.300 VA. Kini, di pasar modern tersebut pedagang hanya dijatah 450 VA per kios.

Naik tangga

Jumlah ini dikhawatirkan tidak kuat menopang operasional mesin jahit dan mesin obras dinamo, terutama jika semua pedagang beroperasi bersamaan.

Penderitaan serupa, meski dalam bentuk berbeda, dirasakan pedagang kuliner yang ditempatkan di lantai tiga. Ketiadaan fasilitas eskalator atau lift barang membuat mobilitas pedagang terhambat drastis.

Salah seorang pedagang kuliner senior, Ira, menyatakan dirinya harus naik-turun tangga berkali-kali setiap hari untuk mengantar pesanan ke pelanggan setianya, para pedagang ayam di lantai dasar.

"Kalau malam kaki saya terasa sakit sekali. Di sini banyak pedagang sepuh. Saya sampai beli troli mahal yang iklannya bisa panjat tangga, ternyata sampai sini tidak terpakai karena tangganya terlalu curam," ungkap pedagang yang sudah berjualan sejak tahun 2002 ini.

Segera evaluasi

Dia berharap Pemerintah Kota Yogyakarta segera mengevaluasi. Baginya, fasilitas sanitasi dan air bersih di gedung baru memang patut diacungi jempol, namun aksesibilitas adalah nadi ekonomi pedagang lantai atas.

"Yang paling saya inginkan cuma eskalator. Kalau lift mungkin tidak terlalu penting, tapi eskalator itu nyawa buat kami di atas," tambahnya.

Meski dihujani kritik soal infrastruktur fisik, pengelola pasar dinilai cukup responsif terkait isu polusi udara. Keluhan pedagang kuliner mengenai bau ternak dari lantai bawah yang naik ke area makan segera ditindaklanjuti.

Sumber bau dari lubang udara di tengah gedung rencananya akan segera ditutup menggunakan material mika bening.

Lebih transparan

"Secara umum tempatnya menyenangkan dan bersih. Tapi kalau boleh usul, tolong didengar soal eskalator dan fasilitas teknis lainnya. Jangan sampai bangunan bagus tapi menyiksa pemakainya," kata pedagang tersebut.

Kini, para pedagang Pasar Terban mencoba beradaptasi dengan sistem baru, termasuk pembayaran retribusi non-tunai lewat Bank daerah yang dinilai lebih transparan dibanding sistem sewa "liar" di masa lalu.

Namun, PR besar masih menanti Pemkot Yogyakarta untuk memastikan "rumah baru" ini benar-benar layak huni, bukan sekadar indah dipandang. (*)