Pelukis Kenamaan Nasirun Cemas Anak-anak Hanya Jadi Penonton Peradaban
Anak-anak masa kini membutuhkan investasi batin untuk mengimbangi gempuran sosial media.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Di tengah riuh rendah kemajuan teknologi Google yang diklaim bisa menjawab segalanya serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mampu melukis dalam hitungan detik, sebuah pertanyaan besar dilontarkan oleh pelukis kenamaan, Nasirun, di pendopo desa yang sederhana di Panggungharjo.
"Kalau tidak hati-hati, generasi kita bukan menjadi generasi yang mewarnai dunia, tapi menjadi penonton peradaban dunia," ujarnya dengan nada reflektif.
Kalimat itu menjadi pembuka yang menggugah dalam peresmian pameran gambar dan fotografi bertajuk "DIALOG" karya siswa Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, Minggu (18/1/2026) petang, di Balai Budaya Karangkitri, Panggungharjo Bantul.
Acara ini bukan sekadar pameran karya siswa, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang pentingnya "teknologi sosial". Bagi Nasirun, seni bagi anak-anak bukan soal mencetak seniman baru. Seni adalah tentang mengasah rasa dan "rem" batin yang halus.
Tergerogoti
Dia merasa cemas anak-anak masa kini membutuhkan investasi batin untuk mengimbangi gempuran sosial media. "Tanpa teknologi sosial, kita akan tergerogoti oleh media sosial," katanya.
Melalui coretan tangan yang jujur, entah itu bagus atau tidak, anak-anak sedang menabung memori dan kehalusan budi yang tidak bisa diajarkan oleh algoritma komputer manapun.
Suasana sore itu terasa hangat, jauh dari kesan formalitas kaku. Penampilan Jathilan Anak SALAM, petikan gitar, hingga gerak tari dari siswa kelas kecil dan besar menjadi latar hidupnya pameran ini.
Sri Wahyaningsih selaku pendiri SALAM menambahkan keceriaan ini adalah bukti pendidikan anak tidak bisa berjalan sendirian. Konsep pusat pendidikan adalah sinergi antara keluarga, sekolah dan masyarakat.
Ruang ekspresi
"Menyekolahkan di SALAM itu yang sekolah tidak hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya," ujar perempuan yang akrab disapa Bu Wahya ini.
Dia mengapresiasi terbukanya pintu Pendopo Budaya Karangkitri oleh Kelurahan Panggungharjo sebagai ruang ekspresi. Ini adalah bukti nyata masyarakat desa turut ambil bagian dalam memfasilitasi mimpi anak-anak.
"Kita nggak mungkin mampu sendiri. Pameran tentunya SALAM nggak mungkin punya tempat sendiri," tambahnya.
Pameran "DIALOG" menawarkan lebih dari sekadar visual. Sesuai namanya, menjadi ruang percakapan antara anak dan dunianya, serta antara warga dan seni.
Dibuka gratis
Bagi masyarakat yang ingin meresapi "teknologi sosial" yang dimaksud Nasirun, pameran ini dibuka gratis setiap hari pukul 13:00 hingga 19:00 sampai 25 Januari 2026.
Tak hanya melihat karya, pengunjung juga diajak terlibat langsung. Rangkaian agenda kreatif telah disiapkan mulai dari Kelas Gambar (20 Januari), Workshop Mendongeng bersama Kak Andy (21 Januari) hingga Workshop Melukis Pouch bersama Bu Mia (23 Januari).
Di ujung sambutannya, Nasirun menitipkan harapan sederhana namun mendalam. Dia berharap pameran ini menjadi kenangan yang terpatri kuat di benak anak-anak.
“Sebuah "embrio" ingatan bahwa mereka pernah berkarya, pernah dihargai, dan pernah menjadi pelaku, bukan sekadar penonton di panggung peradaban mereka sendiri," katanya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
