Pakan Ternak Sering Luput dari Ketahanan Pangan

Fapet UGM melalui Lab HMTP mengembangkan sejumlah varietas hijauan unggul yang adaptif terhadap iklim.

Pakan Ternak Sering Luput dari Ketahanan Pangan
Peneliti Fapet UGM menunjukkan hasil inovasi produk pakan ternak di kampus setempat, Rabu (14/1/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ketahanan pangan nasional kerap dibicarakan dari sisi produksi beras, jagung atau kedelai. Namun satu mata rantai penting sering luput dari perhatian yakni pakan ternak.

Tanpa pakan yang cukup, terjangkau dan berkualitas, produksi daging, susu dan telur sebagai sumber protein masyarakat ikut terganggu. Di sinilah pengembangan pakan hijauan memiliki peran strategis.

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP) menempatkan riset hijauan bukan sekadar sebagai isu teknis peternakan melainkan sebagai bagian dari fondasi ketahanan pangan nasional.

Laboratorium HMTP di bawah Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet UGM yang dipimpin Bambang Suwignyo, dilengkapi kebun percobaan, kebun produksi, koleksi tanaman pakan serta unit pengukuran kualitas nutrisi pakan.

Inovasi pakan

Dalam acara Fapet Menyapa, Rabu (14/1/2026), guru besar Fapet UGM, Bambang Suhartanto, menyatakan inovasi pakan hijauan berkontribusi langsung terhadap efisiensi produksi ternak dan stabilitas pasokan protein hewani nasional.

Dalam sistem peternakan ruminansia, pakan hijauan adalah sumber pakan utama. Pada peternakan rakyat, hijauan bahkan mencapai 100 persen pakan ternak. Pada sistem intensif, porsinya masih 50-70 persen, sedangkan pada industri peternakan berkisar 15 persen hingga 60 persen tergantung sistem.

Masalahnya, pakan menyerap 50-70 persen biaya produksi ternak. Jika harga pakan tinggi atau pasokan tidak stabil, maka harga daging, susu dan telur di tingkat konsumen akan ikut terdorong naik.

“Karena itu, menemukan pakan hijauan yang produksinya tinggi, nutrisinya tinggi, tetapi tetap murah, adalah kunci agar sistem peternakan efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.

Bergantung pakan

Bambang mengakui sistem peternakan Indonesia masih relatif mahal karena bersifat intensif dan bergantung pada pakan yang disediakan. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar lahan perkebunan untuk sistem integrasi ternak.

“Indonesia memang tidak memiliki dedicated land untuk penggembalaan seperti Australia, tetapi punya peluang besar melalui integrasi sapi sawit dengan potensi lebih dari 15 juta hektar, juga perkebunan lain, bahkan integrasi dengan ternak lebah,” jelasnya.

Melalui integrasi, lahan tidak hanya menghasilkan komoditas perkebunan, tetapi juga menghasilkan hijauan pakan, ternak, madu, sekaligus memperbaiki ekologi lahan. Model ini dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus ketahanan lingkungan.

Fapet UGM melalui Lab HMTP telah mengembangkan sejumlah varietas hijauan unggul yang adaptif terhadap iklim tropis Indonesia. Antara lain Alfalfa Tropik (Medicago sativa cv Kacang Ratu BW)- PVT No. 929/PPVT/2021, rumput gajah (Pennisetum purpureum cv Gama Umami)-PVT No. 889/PVHP/2020, Chicory (Cichorium intybus) dalam proses pengajuan PVT.

Pakan lokal

Guru Besar Fapet UGM lainnya, Nafiatul Umami, menambahkan Chicory telah diuji coba secara multilokasi dan ditanam di 10 Balai Penelitian Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) di berbagai wilayah Indonesia.

“Hasilnya menggembirakan. Chicory dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik, dan ini berpotensi menjadi koreksi pakan lokal Indonesia,” ujarnya.

Dijelaskan, hijauan tersebut tidak hanya bermanfaat untuk ruminansia, tetapi juga bisa dimanfaatkan dalam formulasi pakan unggas.

Hijauan bernutrisi tinggi kini dikenal sebagai green concentrate atau konsentrat hijau. Artinya, hijauan tidak lagi dipandang sekadar sebagai pakan volumetrik murah, tetapi sebagai sumber nutrisi strategis.

Pakan impor

Dengan hijauan berkualitas, ternak dapat tumbuh optimal tanpa ketergantungan besar pada pakan impor. Ini berarti biaya produksi turun, ketergantungan impor bahan baku pakan berkurang dan ketahanan pangan nasional menguat. 

Melalui pengembangan hijauan pakan lokal, sistem integrasi lahan, dan konsep green concentrate, Fapet UGM menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun dari sawah dan ladang, tetapi juga dari padang hijauan, kebun pakan dan sistem produksi ternak yang efisien.

Dari hijauan yang tumbuh di lahan, lahirlah susu, daging, telur, dan madu yang menopang gizi bangsa. Dalam rantai inilah pakan hijauan bukan sekadar rumput, melainkan fondasi senyap dari ketahanan pangan Indonesia. (*)