Mini Museum PSS Sajikan Perjalanan Super Elja
Ada memorabilia unik seperti sepatu striker Gustavo Tocantins saat final, koleksi tiket lawas, arsip koran.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Riuh dukungan di tribun dan gegap gempita pertandingan selama ini menjadi wajah yang paling dikenal dari PSS Sleman. Pada usia ke-50 tahun, klub berjuluk Super Elja itu memilih merayakan perjalanan panjangnya dengan cara berbeda yaitu mengajak publik masuk lebih dalam ke ruang kenangan.
Melalui Mini Museum PSS yang resmi dibuka di Stadion Maguwoharjo, Minggu (17/5/2026), manajemen tak hanya menampilkan sejarah klub, tetapi juga pengalaman emosional bagi para suporter untuk kembali menelusuri jejak perjalanan tim kebanggaan masyarakat Sleman tersebut.
Begitu memasuki area museum, pengunjung langsung disambut deretan jersey lawas para pemain PSS dari berbagai era. Langkah demi langkah berikutnya membawa pengunjung ke ruang trofi, dinding sejarah, hingga ruang ganti pemain yang selama ini hanya bisa dibayangkan dari layar kaca.
Direktur PSS Sleman, Yoni Arseto, mengatakan mini museum ini lahir dari impian panjang manajemen dan masyarakat Sleman untuk memberikan ruang yang merekam perjalanan klub secara utuh.
Bagian sejarah
“Ini bagian dari sejarah yang bisa dinikmati masyarakat. Orang datang ke sini bukan hanya melihat memorabilia, tapi juga bisa merasakan perjalanan PSS sampai hari ini, masuk ke locker room, melihat fasilitas stadion, sampai menikmati pengalaman yang selama ini mungkin hanya dibayangkan,” ujarnya.
Menurut Yoni, museum ini juga menjadi langkah awal menuju cita-cita yang lebih besar, yakni membangun museum permanen PSS Sleman. “Sejarah klub tidak boleh terputus. Anak-anak muda harus tahu bagaimana PSS pernah turun kasta, bangkit lagi, hingga akhirnya bisa mandiri seperti sekarang,” katanya.
Mini museum ini dirancang melalui sembilan section yang disusun seperti alur cerita. Setelah area jersey dan trofi, pengunjung diajak menyusuri history wall yang merekam perjalanan PSS sejak berdiri pada 1976 hingga memasuki usia emasnya tahun ini.
Di salah satu sudut paling menarik, pengunjung bisa masuk ke locker room experience, ruang ganti lengkap dengan jersey pemain yang digunakan saat final Liga 2, membuat siapa pun seolah sedang bersiap turun ke lapangan membela Super Elja.
Perjalanan waktu
Project Leader Mini Museum PSS, Alif Madani, mengatakan konsep museum sengaja dibuat interaktif agar pengunjung tak sekadar melihat benda-benda lama.“Setiap bagian kami susun seperti perjalanan waktu. Jadi orang datang tidak hanya melihat koleksi, tapi juga memahami cerita di baliknya,” ujarnya.
Pengunjung juga bisa menikmati stadium experience di tepi lapangan Maguwoharjo, ada memorabilia unik seperti sepatu striker Gustavo Tocantins saat final, koleksi tiket lawas, arsip koran, hingga ruang khusus yang menampilkan perjalanan suporter seperti Slemania dan BCS.
Penyusunan museum ini pun tidak dilakukan sembarangan. Tim kurator mengaku melakukan wawancara langsung dengan mantan pemain, mantan pengurus, hingga tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam perjalanan klub untuk memastikan setiap cerita yang ditampilkan tervalidasi.
Mini Museum PSS dibuka untuk umum mulai 17 hingga 24 Mei 2026. Tiket masuk dibanderol Rp 30 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya ruang pamer. Namun bagi suporter PSS, mini museum ini adalah pengingat di balik setiap chant di tribun, ada sejarah panjang, air mata dan kebanggaan yang diwariskan lintas generasi. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
