Mantan Kapolda DIY Ingatkan Pentingnya Regenerasi Pemimpin
Regenerasi kepemimpinan tidak sekadar pergantian posisi dari senior ke junior.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Mantan Kapolda DIY Irjen Pol (Purn) Drs Yohanes Wahyu Saronto M Si mengingatkan pentingnya regenerasi pemimpin. Ini disampaikan saat diskusi di Ruang Seminar Pdt Dr Harun Hadiwijono, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Kamis (9/4/2026).
Rm Albertus Bagus Laksana SJ SS Ph D sebagai pembicara diskusi tersebut mengkritik fenomena yang dia sebut sebagai “Intelektual Priyayi”, yakni kecenderungan mengejar gelar akademik tinggi melalui jalan pintas demi status sosial, tanpa diiringi kejujuran intelektual.
“Kita melihat praktik-praktik di mana integritas tidak lagi dijunjung tinggi. Perebutan gelar Guru Besar yang masif, bahkan dengan melanggar aturan, membuat institusi pendidikan dipertaruhkan,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta seharusnya berada di garis depan menjaga integritas akademik. Perguruan tinggi harus kembali berfungsi sebagai pembangun peradaban, bukan sekadar “pabrik gelar”.
AI dan ancaman
Dalam bukunya, Yohanes Wahyu Saronto menggambarkan pentingnya pemimpin masa depan untuk adaptif terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan big data.
“Ada godaan bagi pemimpin yang tidak visioner untuk menggunakan AI demi kepentingan yang tidak demokratis. Pemimpin harus memiliki kompas moral agar teknologi tidak digunakan untuk memprofilkan dan mengendalikan warga,” katanya.
Dalam bukunya, Wahyu Saronto mengupas regenerasi kepemimpinan tidak sekadar pergantian posisi dari senior ke junior, tetapi merupakan proses transformasi nilai dan visi.
Buku terbitan Penerbit ANDI Yogyakarta itu juga memuat pentingnya keberanian mengambil keputusan dalam kondisi keterbatasan data, dengan mengandalkan pengalaman dan ketajaman intuisi.
Pemimpin muda
Rektor UKDW, Dr Wiyatiningsih, merespons positif buku karya Yohanes Wahyu Saronto. Dia menerima langsung satu eksemplar buku dan berharap gagasan yang ditawarkan dapat memberi manfaat bagi dunia akademik maupun masyarakat luas.
“Harapannya, buah pemikiran dalam buku ini bisa menjadi kontribusi positif, tidak hanya bagi kalangan akademisi, tetapi juga masyarakat secara umum,” ujarnya.
Pihaknya berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya muda berkarakter di Yogyakarta. Di tengah pergeseran paradigma kepemimpinan dari struktural ke kolaboratif, integritas dinilai tetap menjadi faktor utama.
Diskusi yang berlangsung interaktif itu ditutup dengan penegasan bahwa teknologi dapat menjadi ancaman atau peluang, tergantung pada nilai yang dipegang oleh pemimpinnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
