Kisah Siswi SMP Sanggar Anak Alam yang Meracik Teh dan Cerita di ARTJOG 2025
Di tengah megahnya karya-karya seni kontemporer berpameran di ARTJOG, seorang remaja 14 tahun, Dorothea Paskalia, menyeduh teh dengan penuh khidmat.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Tidak ada dengung suara mesin espresso di sudut stan "Tanah Air Beta" milik Murakabi Movement. Di balik counter sederhana, Dorothea Paskalia, siswi kelas 3 SMP Sanggar Anak Alam, mempersiapkan seduhan kopi dan teh dengan gerakan yang terlatih. Usianya baru 14 tahun namun tangannya sudah mahir menyajikan kopi laiknya barista profesional.
"Teh ini dari petani Pak Joko di Malang. Dia bilang, daun teh yang dipetik pagi hari punya rasa yang berbeda dengan yang sore," ujar Dorothea kepada koranbernas.id Senin (14/7/2025) sambil menuangkan air panas ke dalam teko keramik.
Mata pengunjung yang mendengarkan tampak terpesona, bukan hanya pada keahliannya tetapi pada caranya bercerita.
Perjalanan Dorothea dimulai sejak kelas 2 SD ketika mulai tertarik mengeksplorasi dunia kuliner. Yang membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya adalah keingintahuan mendalam tentang asal-usul bahan makanan dan minuman. Dia tidak puas hanya mengetahui cara membuat, tetapi ingin memahami cerita di baliknya.
Petualangan riset
"Aku sering nanya sama mama, 'Ini teh dari mana? Kenapa rasanya beda-beda?' Lama-lama, aku jadi penasaran sama petaninya," kenang Dorothea.
Keingintahuan itu membawanya pada petualangan riset yang tak biasa bagi remaja seusianya. Selama delapan bulan terakhir, dia mengikuti pelatihan informal di komunitas belajar koperasi, berinteraksi langsung dengan petani teh dan kopi lokal, mempelajari sejarah pertanian Nusantara, hingga memahami proses pascapanen. Bahkan, mulai bereksperimen dengan kudapan pendamping yang terinspirasi dari cita rasa lokal.
Di ARTJOG 2025, Dorothea tidak hanya sebagai penjual minuman biasa. Dia juga tampil sebagai seniman performatif yang menggunakan rasa dan aroma sebagai medium ekspresi. Setiap cangkir seduhan yang disajikan mengandung narasi tentang tanah, petani, proses dan perasaan.
"Aku ingin orang tahu bahwa teh dan kopi bukan cuma soal rasa. Ada banyak kisah di baliknya, dari para petani hingga cara kita menyajikannya dengan hormat," ujarnya dengan mata berbinar.
Sebuah refleksi
Pendekatan ini sejalan dengan konsep "Tanah Air Beta" dari Murakabi Movement -- sebuah refleksi tentang generasi yang akan hidup di era teknologi kecerdasan buatan namun tetap perlu membangun hubungan mendalam dengan bumi dan air.
Bagi Murakabi, 'Beta' bukan hanya merujuk pada generasi yang lahir antara 2025-2039, tetapi juga pada 'versi yang belum selesai' metafora untuk Indonesia pasca 1945 yang masih mencari arah.
Aktivitas Dorothea pada pameran seni bergengsi ini bukan sekadar sensasi. Dia menunjukkan bahwa seni tak melulu berbentuk visual melainkan rasa, aroma, dan interaksi juga bisa menjadi medium yang kuat. Stan-nya kerap dipadati pengunjung yang tidak hanya ingin menikmati seduhan, tetapi juga mendengar cerita di balik setiap cangkir.
"Ada bapak-bapak yang bilang, 'Ini teh seperti yang diminum nenek saya dulu.' Ada juga yang tanya soal petaninya. Rasanya senang bisa jadi jembatan antara pengunjung dengan cerita-cerita itu," kata Dorothea.
Akar budaya
Pendekatan belajarnya yang holistik ini tidak terlepas dari metode pendidikan di Sanggar Anak Alam, sekolah berbasis komunitas yang memberikan ruang bagi siswa untuk tumbuh dengan keingintahuan dan cinta pada akar budaya.
Sekolah ini mendorong pembelajaran yang terintegrasi dengan lingkungan, memungkinkan siswa seperti Dorothea untuk mengeksplorasi minat mereka dengan cara yang autentik dan bermakna.
"Aku mau buka tempat minum teh dan kopi yang bisa jadi pusat cerita. Jadi orang datang bukan cuma buat minum, tapi juga buat belajar tentang budaya dan bertemu dengan petani-petani," terangnya sambil tersenyum saat ditanya tentang cita-cita.
Regenerasi pelaku seni dan budaya bisa dimulai dari ruang-ruang kecil, dari anak-anak yang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi passion mereka dengan dukungan yang tepat.
Menyelami cerita
ARTJOG 2025 masih berlangsung hingga Agustus mendatang. Bagi yang ingin mencicipi racikan tangan Dorothea dan menyelami cerita di balik setiap cangkir, jangan lewatkan kesempatan bertemu langsung dengan barista muda yang sedang meracik masa depan dengan cita rasa lokal Indonesia ini.
Di era teknologi semakin memudahkan dan mendominasi, Dorothea menunjukkan bahwa sentuhan manusia dan cerita tradisional tetap memiliki tempat yang tak tergantikan. Dia tidak hanya meracik minuman – dia meracik masa depan di mana tradisi dan modernitas bisa berdampingan harmonis. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
