Kisah Azka Primardi Sembuh dari Jeratan Epilepsi

Yang benar itu cukup singkirkan benda-benda berbahaya di sekitar, lalu biarkan sampai kejangnya selesai.

Kisah Azka Primardi Sembuh dari Jeratan Epilepsi
Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk “Tata Kelola Epilepsi Kebal Obat” pada Sabtu (13/12/2025) di The Alana Malioboro Hotel. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Selama hampir satu dekade, hidup Azka Primardi (41) seolah berjalan di atas tali tipis yang rapuh. Warga Sleman ini menghabiskan masa remajanya dalam bayang-bayang ketidakpastian. Antara usia 13 hingga 23 tahun, epilepsi datang tanpa permisi, merenggut kendali atas tubuhnya berulang kali.

Bukan sekali atau dua kali, frekuensinya bahkan bisa mencapai 12 hingga 15 kali dalam sepekan. Kondisi itu tak hanya menggerogoti fisiknya, tetapi perlahan mengikis keyakinannya akan masa depan, pendidikan, hingga pergaulan sosialnya.

Namun hari ini, pria itu menjalani hidup yang sepenuhnya berbeda. Kejang telah lama hilang, obat-obatan telah ditinggalkan, dan aktivitasnya berjalan normal layaknya orang kebanyakan. Titik balik itu bermula dari satu keputusan besar  menjalani bedah saraf pada tahun 2007.

“Saya mulai rutin kejang sejak kelas 3 SMP. Frekuensinya bisa 10 sampai 15 kali seminggu, dan itu berlangsung hampir 10 tahun,” kenang Azka saat membagikan pengalamannya di sela acara Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk Tata Kelola Epilepsi Kebal Obat, Sabtu (13/12/2025), di The Alana Malioboro Hotel.

Tanpa solusi

Masa-masa itu adalah periode kelam yang penuh frustasi. Diagnosis dan evaluasi medis dilakukan berulang kali, obat berganti dengan dosis yang naik-turun, namun hasilnya nihil. Kejang tetap datang sebagai tamu tak diundang.

"Kontrol rutin ke rumah sakit terasa seperti sebuah ritual tanpa dolusi. Datang, ditanya apakah masih kejang, lalu diberi obat lagi," jelasnya.

Keterbatasan teknologi medis kala itu turut memperpanjang penderitaan. Pemeriksaan EEG (rekaman aktivitas listrik otak) hanya dilakukan sekitar satu jam. Jika kejang tak muncul saat itu, hasilnya kerap dinyatakan normal. Padahal, teknologi terkini memungkinkan perekaman jangka panjang agar aktivitas kejang terdeteksi akurat.

Di luar ruang praktik dokter, tekanan sosial menghantam tak kalah keras. Saat SMP, lingkungan masih memaklumi. Namun, ketika Azka memasuki SMA swasta, situasi berubah. Prestasi akademiknya menurun akibat frekuensi kejang yang tinggi, dan teman-teman barunya mulai menjauh. “Di lingkungan baru, ada teman yang menghindar karena bingung harus bersikap bagaimana,” ujarnya.

Sebagai tameng

Azka memilih bertahan dengan caranya sendiri belajar lebih keras. Dia  menjadikan prestasi akademik sebagai tameng untuk menutupi kondisi rapuh yang dialaminya. Pola ini berulang saat kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Lingkungan baru, kejang kembali dan kebingungan orang-orang terulang lagi.

Hingga akhirnya, Azka tiba di satu titik paling krusial berdamai dengan dirinya sendiri. “Ketika saya mulai menerima bahwa saya hidup dengan epilepsi, justru frekuensi kejangnya menurun,” ungkap Azka.

Penerimaan itu memberinya keberanian. Dia  mulai terbuka dan menuliskan kisahnya di sebuah blog. Siapa sangka, harapan justru datang dari ruang maya. Seorang pembaca blognya meninggalkan komentar yang mengubah jalan hidupnya. Epilepsi tertentu bisa ditangani melalui operasi.

Nama Prof Dr dr Zainal Muttaqin Ph D Sp BS, Spesialis Bedah Saraf dari RS Telogorejo Semarang disebut sebagai rujukan. Tanpa pikir panjang, Azka mencari informasi. Di tangan Prof Zainal, persoalan Azka dilihat dari sudut pandang berbeda. Pemeriksaan lanjutan berupa MRI dengan detail tinggi direkomendasikan. Hasilnya menjadi penentu Azka harus dioperasi.

Bedah saraf dilakukan pada Maret 2007. Perubahannya drastis. Kejang berangsur hilang, dosis obat perlahan diturunkan. Pada periode 2011-2012, Azka dinyatakan benar-benar lepas dari kejang dan bebas obat. Hingga detik ini, bayang-bayang itu tak pernah kembali.

Meluruskan stigma

Kisah Azka adalah bukti nyata epilepsi, termasuk jenis yang kebal obat, bukanlah jalan buntu. Namun, dia sadar, pemahaman masyarakat masih minim. Azka mencontohkan bagaimana rekan kerjanya dulu panik menahan tubuhnya saat kejang, tindakan yang justru berbahaya.

“Yang benar itu cukup singkirkan benda-benda berbahaya di sekitar, lalu biarkan sampai kejangnya selesai,” tegasnya.

Semangat untuk meluruskan stigma dan memperluas harapan inilah yang dibawa oleh SMC RS Telogorejo. Sebagai wujud komitmen mendekatkan layanan unggulan, SMC RS Telogorejo menyapa warga Yogyakarta melalui Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk Tata Kelola Epilepsi Kebal Obat di The Alana Malioboro Hotel.

Acara ini menghadirkan dokter spesialis dan subspesialis saraf untuk membedah penanganan terkini epilepsi, sekaligus memperkenalkan Telogorejo Neuro Center sebagai Center of Excellence yang fokus pada layanan neurologi dan bedah saraf komprehensif.

Langkah strategis

Adhitia Budi selaku Corporate Business Marketing Communication Yayasan Kesehatan Telogorejo menyatakan kehadiran mereka di Yogyakarta adalah langkah strategis untuk membangun kedekatan emosional dan medis dengan masyarakat luas.

“Kami berharap masyarakat dapat menyadari bahwa epilepsi bukan sekadar stigma yang tidak bisa disembuhkan. Melalui Telogorejo Neuro Center, kami ingin memastikan bahwa edukasi, harapan dan akses terhadap penanganan yang tepat dapat dirasakan oleh lebih banyak keluarga, khususnya mereka yang menghadapi tantangan epilepsi kebal obat,” ujar Adhitia.

Humas SMC RS Telogorejo, Bunga, menambahkan seminar ini dirancang sebagai ruang dialogis yang inklusif. “Kami ingin hadir lebih dekat, tidak hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi sebagai mitra edukasi yang mendampingi," katanya.

Melalui kisah Azka dan inisiatif edukasi ini, SMC RS Telogorejo berharap pintu harapan bagi pasien epilepsi semakin terbuka lebar, membuktikan di balik diagnosis yang menakutkan, selalu ada jalan menuju kehidupan yang lebih baik. (*)