Gelar Rakerda, BPD HIPMI DIY Tak Ingin Programnya Hanya di Atas Kertas

Tidak hanya bersinergi dengan pemerintah tetapi dekat dan relevan dengan masyarakat.

Gelar Rakerda, BPD HIPMI DIY Tak Ingin Programnya Hanya di Atas Kertas
Pembukaan Rakerda XVI BPD HIPMI DIY, Jumat (6/2/2026), di Jogja Expo Center. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD HIPMI DIY) sebagai organisasi tempat para pengusaha muda berkumpul tidak menginginkan program-programnya hanya ada di atas kertas melainkan harus adaptif terhadap perkembangan zaman.

Komitmen tersebut disampaikan Ketua Umum BPD Hipmi DIY Ekawati Rahayu Putri saat pembukaan Rakerda XVI BPD HIPMI DIY, Jumat (6/2/2026), di Jogja Expo Center (JEC).

“Dengan Rakerda, semoga HIPMI DIY semakin terarah dan program-program kerjanya bukan hanya di atas kertas. Ke depan harus kolaborasi. HIPMI DIY bukan hanya kumpulan pengusaha saja tetapi saling menguatkan, tidak hanya bersinergi dengan pemerintah tetapi dekat dan relevan dengan masyarakat,” kata Ekawati.

Rakerda yang dijadwalkan berlangsung dua hari dengan tema Pengusaha Muda, Energi Bangsa & Masa Depan Indonesia kali ini terbilang Istimewa. Tidak hanya dihadiri Bendahara Umum BPP HIPMI Reynaldo Bryan beserta jajarannya, sejumlah dinas dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah), asosiasi maupun perbankan, digelar pula pameran yang diikuti 55 tenant, job fair serta talkshow.

Ketua Umum BPD HIPMI DIY Ekawati Rahayu Putri dan Bendahara Umum BPP HIPMI Reynaldo Bryan menyampaikan keterangan pers di sela rakerda. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Ekawati menambahkan, rakerda juga bukan hanya untuk menyusun program melainkan juga sebagai forum untuk menentukan arah HIPMI DIY ke depan akan dibawa ke mana. Yang pasti, kata dia, keberadaan organisasi para pengusaha muda itu harus membawa dampak ekonomi bagi masyarakat Yogyakarta.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui sambutan tertulis dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, memberikan apresiasi atas digelarnya rakerda kali ini.

Sultan HB X mengingatkan pada situasi dan kompetisi lintas batas sekarang ini HIPMI DIY harus adaptif terhadap perubahan sebab perusahaan yang mampu bertahan adalah yang paling cepat beradaptasi dan menyesuaikan diri. Di sinilah pentingnya aspek kepemimpinan, budaya, proses kerja dan kompetisi.

Gubernur menginginkan HIPMI DIY juga harus mampu menangkap peluang dan bertransformasi diri. Artinya, bukan sekadar berdagang tetapi bagaimana membaca masa depan, tumbuh sebagai ekosistem bukan egosistem. Kemajuan ekonomi harus berjalan selaras dengan kemanusiaan dan nilai-nilai sosial.

Bangkit cepat

Mengingat ekonomi DIY sangat khas maka dibutuhkan kreativitas dan jejaring dengan kampus maupun UMKM. Agar bisnis bisa tumbuh diperlukan kolaborasi pemerintah dan dunia usaha. Selain itu, juga harus berani mencoba. Bekerja dengan visi dan berani, bergerak dengan organisasi. Apabila gagal mampu bangkit lebih cepat.

Apresiasi serupa disampaikan Reynaldo Bryan. Baginya, Rakerda HIPMI DIY merupakan yang paling bagus karena dibarengi dengan kegiatan ekspo. Pariwisata sebagai tulang punggung (backbone) ekonomi Yogyakarta, harus dijadikan sebagai peluang bagi HIPMI DIY. Peluang lainnya adalah energi, ketahanan pangan dan pertanian.

“Jika tulang punggung perekonomian itu didukung teknologi maka menjadi peluang besar yang bisa membawa HIPMI DIY memberikan kontribusi yang baik,” katanya.

Melalui rakerda, Reynaldo ingin agar HIPMI DIY lebih inovatif. “Jangan hanya tempat silaturahmi tetapi menjadi bagian dari upaya memberikan keuntungan, masing-masing bisnisnya memberi dampak bagi Yogyakarta,” tandasnya. (*)