FDS Produsen Drone Asal Yogyakarta Memperkenalkan Drone Pertanian
Drone pertanian buatan FDS saat ini telah digunakan dalam berbagai proyek strategis.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Musyawarah Nasional (MUNAS) Asosiasi Sistem dan Teknologi Tanpa Awak (ASTTA) 2025 menjadi panggung penting bagi kebangkitan industri drone lokal. Di antara berbagai pelaku industri yang hadir, Full Drone Solutions (FDS) tampil menonjol sebagai simbol keberhasilan inovasi dan kemandirian teknologi nasional.
FDS, produsen drone asal Yogyakarta, memperkenalkan drone sprayer pertanian dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertinggi di Indonesia, mencapai lebih dari 46 persen. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi riset antara FDS, Universitas Gadjah Mada (UGM) serta para petani binaan di berbagai daerah.
“TKDN tinggi bukan sekadar angka tapi bukti nyata kemampuan bangsa dalam menciptakan teknologi yang relevan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa drone karya anak negeri mampu bersaing, sekaligus mendukung kemandirian sektor pertanian,” ujar Rossena Karisma Rasul, Founder & CEO FDS yang juga pengurus aktif ASTTA melalui keterangan tertulisnya, Senin (27/10/2025).
Drone pertanian buatan FDS saat ini telah digunakan dalam berbagai proyek strategis, mulai dari pertanian presisi, rehabilitasi mangrove berbasis SDGs, hingga program pengendalian inflasi yang digarap bersama Bank Indonesia dan UGM. Dengan kemampuan semprotan presisi dan efisiensi energi tinggi, drone FDS terbukti membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional.
Bagian penting
Momentum MUNAS ASTTA 2025 menjadi ruang strategis bagi FDS untuk menegaskan perannya sebagai bagian penting dari ekosistem industri UAV nasional. Melalui forum ini, para pelaku industri sepakat memperkuat tata kelola, mendorong standarisasi teknis, serta memperluas kolaborasi lintas sektor termasuk dengan pemerintah, akademisi dan lembaga riset.
Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN periode 2013-2021, Gunawan Setyo Prabowo, menilai FDS dan para inovator lokal lainnya menunjukkan bahwa ekosistem drone Indonesia telah memasuki fase kematangan baru.
Dengan terbentuknya kepengurusan baru ASTTA periode 2025–2028, asosiasi ini siap menjadi penggerak utama dalam mendorong pemanfaatan drone di berbagai sektor strategis, dari pertanian dan kehutanan hingga mitigasi bencana dan lingkungan.
Lewat kiprah FDS dan dukungan kolaboratif ASTTA, kemandirian industri drone Indonesia kini bukan lagi wacana, tetapi kenyataan yang sedang terbang tinggi menuju masa depan teknologi bangsa. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
