ECCD-RC Rayakan "Kita Beragam, Kita Teman" di JNM
Tidak melulu soal bangunan, tapi bagaimana nilai-nilai inklusi itu diterapkan.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Gelaran Open House Early Childhood Care and Development Resource Center (ECCD-RC) Yogyakarta tahun ini diselenggarakan dengan wajah dan semangat baru.
Mengusung tema besar Kita Beragam, Kita Teman, acara ini "keluar kandang" dari sekolahnya di Jalan Panjaitan, melebar ke ruang publik di Jogja National Museum (JNM) dan Sekolah Rumah Citta, mulai 28 Januari hingga 1 Februari 2026.
Direktur ECCD-RC Yogyakarta, Fransisca Ana Ruma Dewi, menjelaskan perhelatan ini bukan sekadar pameran fasilitas fisik sekolah. Lebih dari itu, Open House 2026 adalah panggung untuk menonjolkan "nyawa" utama pendidikan mereka: layanan inklusi dan ruang aman bagi suara anak.
"Kami ingin memperlihatkan produk layanan kami itu ada apa saja. Tidak melulu soal bangunan, tapi bagaimana nilai-nilai inklusi itu diterapkan," ujar Ana saat ditemui di sela acara, Kamis (29/1/2026).
Forum besar
Tema Kita Beragam, Kita Teman dipilih sebagai refleksi mendalam mengenai inklusi sosial yang kerap dibahas di forum-forum besar dunia, namun perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang akrab bagi anak-anak.
"Sebenarnya kami terinspirasi isu inklusi sosial global seperti GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion). Tapi kalau versi anak-anak kan sulit dipahami. Akhirnya muncullah Kita Beragam, Kita Teman. Intinya sederhana. Berbeda itu biasa dan kita semua tetap berteman," jelasnya.
Semangat keragaman ini menjadi nafas utama dalam rangkaian acara, termasuk kembalinya Seminar Suara Anak (Semara). Ini adalah kali keempat Semara digelar, namun menjadi momen spesial karena untuk pertama kalinya dilaksanakan secara luring (tatap muka) dengan skala besar pascapandemi.
"Awalnya sempat terpikir bikin kecil-kecilan saja. Tapi kok rasanya eman (sayang). Layanan dan produk pengetahuan ini manfaatnya sudah dirasa banyak pihak, bahkan banyak institusi lain yang ingin meniru. Akhirnya sekalian saja kita buat besar," tambah Fransisca.
Seminar anak
Salah satu sorotan utama dalam rangkaian acara ini adalah Seminar Suara Anak (Semara). Budi S Gemak, salah satu fasilitator di Sanggar Anak Alam (Salam) Nitiprayan sebagai pembicara, memberikan apresiasi mendalam terhadap kemampuan anak-anak ECCD-RC dalam mengartikulasikan perasaan mereka.
Gemak menyoroti bagaimana anak-anak mampu menceritakan pengalaman nyata sehari-hari menggunakan beragam media, mulai dari wayang hingga mendongeng. Menurutnya, kemampuan ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan buah dari pola asuh di rumah yang partisipatif.
"Saya menduga, teman-teman kecil ini di rumah pasti tipe anak yang 'jarang diam' alias cerewet. Suka tanya ini-itu, dan orang tuanya suka menanggapi. Jadi gayung bersambut," ujar Gemak.
Dia membandingkan dengan pola asuh zaman dahulu di mana rasa ingin tahu anak sering kali terbentur kelelahan orang tua.
Mampu menganalisis
"Beda dengan zaman kita dulu. Kalau kita banyak tanya, seringkali dimarahi atau disuruh diam karena orang tua capek. Tapi di sini, orang tua melayani respons anak, sehingga anak tumbuh menjadi sosok yang mampu menganalisis," tambahnya.
Dalam pengamatannya, Gemak menyatakan pendidikan karakter yang paling kuat bukanlah yang berasal dari hafalan atau indoktrinasi (dicekoki), melainkan yang lahir dari pengalaman dan kesimpulan anak itu sendiri.
"Anak-anak ini tidak hanya bercerita, mereka mampu menganalisis. Misalnya, oh, ternyata kalau berteman dengan yang berbeda itu kita harus bersikap seperti ini'. Mereka sampai pada tahap mampu menyimpulkan sendiri," jelas Gemak.
Menurutnya, nilai-nilai kemandirian, cinta lingkungan, hingga solidaritas akan tertanam lebih kuat jika ditemukan sendiri oleh anak lewat proses bermain dan berinteraksi, ketimbang hanya diajarkan sebagai teori di kelas.
Fondasi karakter
"Kalau dipelajari sebagai hafalan, itu hanya sekadar lipatan di ingatan. Tapi kalau dari pengalaman sendiri, bobotnya sangat kuat dan menjadi fondasi karakter mereka," tegasnya.
Melalui kolaborasi ECCD-RC dalam Open House 2026 di JNM ini menjadi bukti ketika anak diberi ruang untuk bersuara dan mengalami keberagaman secara langsung, mereka mampu menjadi agen perubahan yang cerdas dan empatik. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
