dprd-jateng-dukung-pembentukan-karakter-anak-bangsaTiga pembicara 'Ngode' Ombudsman Jateng, Sabarudin, DPRD Jateng, Yudi Indras, Kepala DP3AKB, Retno Sudewi. (istimewa/dokumentasi Humas DPRD Jateng)


Bekti Maharani
DPRD Jateng Dukung Pembentukan Karakter Anak Bangsa

SHARE




KORANBERNAS.ID, SEMARANG -- DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mendukung pembangunan karakter anak bangsa memasuki tahun pembelajaran 2022/2023 yang menerapkan pembelajaran tatap muka.

  • Bupati Temanggung Ingatkan Rencana Pembangunan Harus Realistis
  • Kades Harus Pegang Janji Tak Korupsi

  • Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras, menegaskan hal tersebut dalam acara 'Ngobrol Bareng Dewan (Ngode)' yang diselenggarakan di Kota Semarang, akhir pekan ini.

    "Pembentukan karakter anak di sekolah perlu dibangun sebagai adaptasi diri dalam menghadapi kondisi sosial di sekolah pasca-pembelajaran dalam jaringan selama kurang lebih 2 tahun akibat pandemi Covid-19," tegas Yudi Indras, politikus Gerindra tersebut.

  • Daya Tarik Dieng Tak Pernah Pudar
  • Kebumen Siapkan Lahan 360 Hektar untuk Kawasan Industri

  • Menurutnya, pembangunan karakter anak bangsa masih menjadi subjek pembahasan yang menarik. Apalagi memasuki tahun pembelajaran 2022/2023 sekolah sudah menerapkan pembelajaran tatap muka dan jam pembelajaran seperti sediakala.

    "Namun yang lebih penting dari semua itu, pendidikan karakter ini dapat dibentuk mulai dari lingkup yang terkecil yaitu keluarga," tambahnya.

    Keluarga sangat dibutuhkan untuk mendukung anak sekolah yang kembali memasuki pembelajaran tatap muka dengan jam yang kembali normal.

     "Saya kira keluarga sebagai lingkup terkecil dari anak sekolah dapat membantu dalam mempersiapkan pendidikan karakter pasca-pandemi Covid-19," harap Yudi Indras.

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, dalam kesempatan yang sama berpendapat bahwa sebenarnya anak sudah mempunyai karakter sejak lahir dan dapat diperkuat dengan pendidikan, lingkungan, serta kegiatan yang dilakukan.

    "Mengenai penguatan karakter, sebenarnya setiap anak lahir sudah mempunyai karakter. Namun di satuan pendidikan perlu ada pendidikan karakter, sehingga setelah lulus anak-anak dapat hidup lebih baik," kata Uswatun Hasanah.

    Hal lain yang dapat digunakan untuk mengembangkan karakter yaitu dengan pembelajaran project learning. Melalui hal tersebut anak-anak dapat berkolaborasi dan berkumpul dengan anak lain dengan berbagai karakter.

    "Interaksi tersebut dapat membuat mereka mempelajari bagaimana menghadapi seseorang dengan karakter tertentu, hal tersebut juga memicu anak-anak untuk dapat lebih mengeksplorasi kemampuan diri," sambungnya.

    Suasana Ngobrol Bareng Dewan, dari kiri ke kanan Host, Devi, Ombudsman, Sabarudin, DPRD Jateng, Yudi Indras, Kepala DP3AKB, Retno Sudewi, Kepala Dinas Pendikbud, Uswatun, Ketua OSIS SMAN 5 Semarang, Shanon, dan Ketua OSIS SMKN 5 Semarang, Jovi. (istimewa/dokumentasi Humas DPRD Jateng)

    Usaha dan Standar

    Kepala Bidang Pemeriksaan Laporan Ombudsman RI Jawa Tengah, Sabarudin Hulu, mengungkapkan bahwa pendidikan karakter yang berkualitas juga memerlukan usaha dan standar tertentu. Standar yang dimaksud yaitu bagaimana kualitas guru dalam memberikan pendidikan karakter.

    "Di antaranya guru bisa memberikan contoh yang baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa menjadi standar yang baik dalam memberikan pendidikan karakter," jelasnya.

    Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah (DP3AKB), Retno Sudewi, dalam kesempatan sama berharap pelaksanaan pendidikan karakter kepada anak-anak di Jawa Tengah dapat lebih digencarkan.

    Hal tersebut sebagai bentuk mendukung program Jokawin Bocah milik DP3AKB Jateng di mana anak-anak dicegah untuk nikah di bawah umur 19 tahun karena memiliki dampak yang kurang baik.

    "Gencarnya pendidikan karakter anak bangsa juga dapat mendukung program Jokawin Bocah untuk mencegah anak-anak menikah di bawah umur 19 tahun," harap Retno Sudewi.

    Dampak dari kawin bocah atau kawin anak kurang baik, di antaranya anak bisa mengalami dampak psikis yang dapat menyebabkan kekerasan. Perkawinan seharusnya dilaksanakan oleh mereka yang memiliki cukup umur sesuai Undang-Undang dan sudah mendapatkan bimbingan calon pengantin pranikah.

    "Dalam melaksanakan perkawinan juga memerlukan bibit unggul, persiapan gizi yang cukup, mental yang kuat sehingga anak yang dilahirkan juga memiliki bibit yang baik pula," ujar Dewi.

    Ngobrol Bareng Dewan (Ngode), sebagai bentuk dukungan DPRD Jateng bagi upaya pembangunan karakter anak bangsa memasuki tahun pembelajaran 2022/2023. (istimewa/dokumentasi Humas DPRD Jateng)

    Dalam sesi penutupan perwakilan Ketua OSIS dari SMA Negeri 5, Shanon, dan SMK Negeri 5 Semarang, Jovi, mengungkapkan mengenai proses pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah masing-masing.

    Mereka senada mengungkapkan penerapan pendidikan karakter dengan baik di sekolah mereka di bawah bimbingan dari guru BK. Siswa dibimbing agar dapat mengekplorasi kemampuan diri dan tidak takut untuk tampil di hadapan umum.

    "Kami diajarkan berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas. Ini sebagai ujian individual dan tim. Kami juga berharap ada program dari pemerintah untuk terjun langsung ke sekolah-sekolah sehingga ada komunikasi timbal balik," ujar Jovi.

    Sementara Shanon menambahkan bahwa SMA 5 Semarang sudah menerapkan pendidikan karakter dengan bimbingan guru BK, antara lain diajarkan keberanian, ketulusan, serta humanisme. (adv/anf)


    TAGS: dprd jateng 

    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini