Dosen Psikologi UMBY Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Parenting

Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.

Dosen Psikologi UMBY Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Parenting
Seminar parenting bertajuk “Orang Tua Bertumbuh, Anak Tangguh” gelaran Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta secara daring. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) rutin melakukan pengabdian kepada masyarakat (PkM) sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kepala Humas dan Kerjasama UMBY, Widarta MM, Senin (13/4/2026), mengatakan kali ini kegiatan diwujudkan melalui seminar parenting bertajuk Orang Tua Bertumbuh, Anak Tangguh. "Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta," kata Widarta.

Seminar dilaksanakan secara daring melalui zoom, Rabu 8 April 2026 dan diikuti oleh 40 orang tua binaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta. Mereka diajak untuk memperkuat literasi parenting. Sebagai ketua tim Ranni Merli Safitri Ph D dengan anggota  Santi Esterlita Purnamasari M Si Psikolog yang sekaligus menjadi pemateri utama.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Afia Rosdiana M Pd membuka acara dan menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara institusi pemerintah dan pendidikan. "Kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan literasi keluarga, khususnya dalam pengasuhan anak berbasis ilmu psikologi," katanya.

Menjawab kebutuhan

Sementara Ranni Merli Safitri, menyampaikan kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan orang tua dalam memahami dinamika perkembangan emosi anak di era modern.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu orang tua memiliki pemahaman yang lebih tepat tentang emosi anak, sehingga mereka tidak hanya bereaksi, tetapi mampu merespons dengan cara yang lebih bijak dan mendukung perkembangan anak secara optimal,” ujarnya.

Dalam sesi utama, Santi Esterlita Purnamasari menyampaikan materi berjudul Mengenal & Menemukan Permasalahan Emosi Anak. “Seringkali perilaku anak dianggap sebagai masalah, padahal itu adalah cara anak berkomunikasi tentang apa yang ia rasakan. Tugas orang tua bukan hanya menghentikan perilaku, tetapi memahami emosi di baliknya,” jelas Santi.

Dia menambahkan kemampuan regulasi emosi tidak muncul secara instan, melainkan perlu dilatih melalui interaksi sehari-hari yang konsisten dan penuh empati.

Mengelola emosi

“Anak belajar mengelola emosi dari cara orang tua merespons. Ketika orang tua mampu hadir dengan tenang dan memahami, anak akan belajar melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Salah seorang peserta, Nur Fitriatus Shalihah, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan ini. “Materinya sangat relate dengan kondisi saya sebagai orang tua. Saya jadi lebih paham bahwa perilaku anak bukan sekadar ‘nakal’, tetapi ada emosi yang perlu dipahami. Penjelasan Ibu Santi juga praktis dan bisa diterapkan di rumah,” ujarnya. (*)