Destinasi Wisata Pantai Glagah-Congot Penyumbang PAD Terbesar

Wisatawan itu sensitif terhadap harga dan kualitas. Kalau tidak ada standar, mereka kapok.

Destinasi Wisata Pantai Glagah-Congot Penyumbang PAD Terbesar
Narasumber diskusi yang digelar di Hotel Morazen Kulonprogo, Senin (16/3/2026). (anung marganto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KULONPROGO -- BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulonprogo mendorong pemerintah daerah segera menetapkan skala prioritas pengembangan destinasi wisata dengan fokus pada kawasan Pantai Glagah-Congot.

Dorongan itu mengemuka dalam pertemuan rutin PHRI yang dirangkai dengan buka puasa bersama di Hotel Morazen YIA, Senin (16/3/2026).

Ketua BPC PHRI Kulonprogo, R H Sumantoyo menyatakan Glagah-Congot bukan sekadar destinasi wisata biasa melainkan kontributor utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

“Kalau bicara prioritas, Glagah dan Congot itu jelas. Ini penyumbang PAD terbesar. Sudah seharusnya pembangunan difokuskan ke sana, bukan justru tersebar tanpa arah,” kata Sumantoyo.

Standar harga

Dia mengkritisi belum adanya standar kualitas dan harga kuliner di kawasan wisata tersebut. Berdasarkan hasil studi tiru ke salah satu destinasi di Jawa Timur, menurutnya, keberhasilan wisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik alam, tetapi juga pengalaman kuliner yang terukur dan konsisten.

“Wisatawan itu sensitif terhadap harga dan kualitas. Kalau tidak ada standar, mereka kapok. Kita perlu keberanian untuk menyeragamkan harga dalam batas wajar sekaligus meningkatkan kualitas makanan,” ujarnya.

Sumantoyo menilai, jika dua aspek itu dibenahi secara serius maka potensi kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara meningkat signifikan, bahkan mendorong kunjungan ulang.

Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Sutarman, menyambut positif gagasan tersebut. Dia mengakui penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Program kerja

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kolaborasi konkret dengan PHRI dan pelaku usaha. Ke depan akan disusun program kerja yang benar-benar berdampak pada kesejahteraan pelaku wisata dan masyarakat,” kata Sutarman.

Pertemuan itu diikuti sejumlah pelaku industri perhotelan di kawasan Yogyakarta International Airport (YIA), di antaranya GM Hotel Morazen YIA David Priambowo, GM Novotel YIA Gunawan Widodo, serta GM Swiss-Belhotel YIA Denny Jatnika, selain pengurus dan anggota PHRI Kulonprogo.

Kegiatan ditutup dengan tausyiah oleh KH Noor Harish, Mustasyar PCNU Kulonprogo. Dalam ceramahnya, dia menyatakan Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi umatnya. “Menuju surga itu sederhana, cukup dengan La ilaha illallah, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya,” ungkapnya.

Dia mengingatkan kebahagiaan dunia dapat diraih melalui kerja yang bermanfaat bagi sesama. “Kalau kita bisa hidup cukup, bahagia bersama keluarga dan memberi manfaat bagi orang lain, itu sudah menjadi bagian dari surga di dunia,” katanya. (*)