Dari Lorong Kampung Mangkuyudan Sisa Dapur Disulap Jadi Cabai Papua Pencegah Inflasi
Cabai ini sering mempengaruhi inflasi. Butuh tinggal petik, uang belanja aman.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di sela-sela padatnya permukiman Kampung Mangkuyudan Mantrijeron Kota Yogyakarta, dari lorong-lorong terlihat pemandangan hijau menyegarkan mata. Tanaman cabai, bahkan jenis Cabai Papua yang dikenal pedas dan berukuran besar, tumbuh subur berdesakan dengan terong, tomat dan seledri.
Kesuburan tanaman ini bukan hasil pupuk mahal buatan pabrik melainkan "buah" dari kedisiplinan warga RW 05 yang tidak lagi memandang sampah sisa dapur sebagai masalah melainkan berkah.
Jumat (23/1/2026) pagi itu, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyaksikan langsung bagaimana siklus kehidupan berjalan di kampung ini. Dia datang bukan sekadar untuk seremoni melainkan ikut memanen hasil kerja keras warga berupa kompos dari Biopori Jumbo (BIMBO).
Bagi walikota, hal paling mahal dari panen ketiga biopori di Mangkuyudan ini bukanlah tumpukan komposnya tetapi perubahan budaya warganya. Dia mengenang kunjungannya setahun lalu saat biopori di sana baru berjumlah dua unit.
Sudah otomatis
“Waktu itu bioporinya masih dua tapi pengelolaannya sudah bagus. Sekarang sudah ada lima sampai enam biopori. Yang membahagiakan, masyarakat sudah otomatis 'tahu diri'. Sisa-sisa organik langsung dimasukkan ke situ tanpa perlu disuruh,” ujar Hasto.
Sampah yang disulap jadi kompos inilah kemudian berpindah ke pot-pot warga, menutrisi tanaman sayur yang menjadi benteng pertahanan ekonomi keluarga. Hasto Wardoyo melihat korelasi kuat antara lubang biopori dengan stabilitas harga pangan bahkan mampu mencegah inflasi.
“Tadi saya lihat cabainya bagus-bagus, ada Cabai Papua besar-besar. Harapan saya, ini mengurangi belanja dapur. Cabai ini sering mempengaruhi inflasi. Kalau butuh tinggal petik, uang belanja aman,” ungkap Hasto.
Pemerintah Kota Yogyakarta tidak main-main mendukung gerakan tersebut. Tahun ini, target ambisius menambah 400 biopori jumbo baru hingga genap menjadi 1.000 unit di seluruh kota.
Menahan sampah
“Bayangkan, satu biopori menahan dua ton sampah. Kalau ada 1.000, berarti 2.000 ton sampah tidak perlu kita buang ke TPA. Pemerintah bantu membangun dan panennya, uang hasil jual komposnya seratus persen untuk warga,” kata Hasto yang juga seorang dokter itu.
Sumarsini selaku Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari, menceritakan rutinitas baru warganya. Sejak 2021, lebih dari 100 kepala keluarga aktif memisahkan sampah. Sampah plastik masuk bank sampah, sementara sisa makanan masuk "mulut" biopori jumbo.
“Agar cepat jadi tanah, seminggu sekali kami beri 'minum' tetes tebu dan EM4. Setelah enam bulan 'diperam', sampah itu panen jadi kompos,” kata Sumarsini.
Pagi itu di Mangkuyudan, tumpukan sampah sisa dapur tak lagi menjijikkan tetapi telah bertransformasi menjadi pupuk, menjadi cabai dan menjadi bukti warga Yogyakarta mampu berdaya dari rumah sendiri. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
