Bedug Masjid Agung Purworejo Terbesar di Dunia

Dibuat Bupati Pertama RAA Cokronegoro, saat ditabuh terdengar dari jarak tiga sampai lima kilometer.

Bedug Masjid Agung Purworejo Terbesar di Dunia
Ketua Takmir Masjid Agung Purworejo KH Najib Syafrudin berdiri di depan bedug terbesar di dunia. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Kabupaten Purworejo Jawa Tengah memiliki bedug terbesar di dunia sebagai tanda waktu salat. Diberi nama Bedug Pendowo karena berasal dari Pedukuhan Pendowo Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo.

Ketua Takmir Masjid Agung Purworejo KH Najib Syafrudin menjelaskan Bedug Pendowo lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Bedug Bagelen dibuat tahun 1834 oleh Bupati Pertama Purworejo RAA Cokronegoro.

Bedug tersebut memiliki dua sisi, sebelah timur berdiameter 292 cm dan sisi barat berdiameter 192 cm.

"Pada awal pemerintahan bupati pertama Purworejo (1831) membuat Alun-alun dan di sekitarnya didirikan masjid, pendapa, gereja dan kantor bupati. Pada tahun 1834 karena belum ada bedug, bupati pertama memerintahkan membuat bedug untuk Masjid Agung," ujarnya, Minggu (22/2/2026), di Masjid Agung Purworejo.

Pohon jati

Bedug terbuat dari pohon jati dari Desa Bragolan, sekarang Puskesmas Bragolan. Setelah kerangka bedug jadi, kemudian bupati memerintahkan menantu adiknya yaitu Kiai Irsyad (makamnya di Solotiyang) membawanya ke Masjid Agung.

"Penutup bedug sebelah timur berukuran 292 cm dengan kulit satu ekor banteng jantan besar, dan penutup bedug sebelah barat ukuran 192 cm, dengan kulit seekor sapi. Untuk itu sisi timur tidak pernah ditabuh lagi, yang ditabuh sisi barat di waktu tertentu," tambahnya.

Menurutnya, bedug ditabuh pada malam Jumat (Kamis malam), Jumat, hari besar keagamaan Islam dan 17 Agustus. Penutup bedug sisi barat sudah mengalami empat kali pergantian.

Najib menceritakan saat kerangka masjid sudah jadi, secara tiba-tiba ada hewan datang menyerahkan diri agar kulitnya dipakai sebagai penutup bedug.

Kulit penutup

"Cerita legenda itu juga kami alami, ketika penutup bedug sebelah barat rusak, kami kesulitan mencari pengganti, namun tiba-tiba ada tamu yang menawarkan diri membantu mengganti kulit penutup bedug secara gratis," katanya.

Diperoleh informasi, kulit pengganti berasal dari sapi metal. Bedug terbesar sedunia tersebut terdiri dari satu pohon kayu gelondongan, memiliki ranting-ranting sebanyak lima. Itu sebabnya dinamai Pendawa dan empat ranting dijadikan sakaguru Masjid Agung serta satu ranting lagi berada di Pendapa Agung Rumah Dinas Bupati Purworejo.

Di dalam bedug terdapat gong besar, bertujuan agar suara bedug bisa lebih keras. "Setiap bedug ditabuh terdengar dari jarak tiga sampai lima kilometer. Namun sekarang berbeda, karena banyak kendaraan bermotor yang lewat, suara bedug tidar terdengar dari jarak yang jauh," ungkapnya.

Bangunan Masjid Agung pernah diteliti Dinas Purbakala dan ditetapkan sebagai cagar budaya. "Masjid Agung Purworejo merupakan cagar budaya sehingga tidak diperbolehkan memugar. Kami melakukan pembangunan di luar bangunan utama," jelasnya.

192 tahun

Najib menyatakan arsitektur Masjid Agung Purworejo sama dengan Masjid Agung Solo dan Masjid Agung Demak. “Bisa seperti itu karena RAA Cokronegoro utusan dari Keraton Solo sebagai Bupati di Purworejo,” kata dia.

Bedug Pendowo saat ini berumur 192 tahun sudah semestinya masyarakat Purworejo khususnya Takmir Masjid Agung Purworejo menjaganya dengan baik.

Bedug Pendowo dilengkapi pagar karena dahulu dua sisi bedug penuh coretan tanda tangan dan nama-nama dari pengunjung. (*)