Beberapa Kali Terdengar Teriakan, Suasana Tegang Saat Film Perempuan Pembawa Sial Diputar

Rasanya merinding setiap kali suara lonceng itu berbunyi, seolah jadi tanda kalau akan ada kematian.

Beberapa Kali Terdengar Teriakan, Suasana Tegang Saat Film Perempuan Pembawa Sial Diputar
Ekspresi penonton saat keluar dari gedung bioskop seusai menonton Perempuan Pembawa Sial di Cinepolis Lippo Plaza Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Suasana tegang menyelimuti studio Cinepolis Lippo Plaza Yogyakarta ketika film Perempuan Pembawa Sial karya sutradara Fajar Nugros diputar. Sejak lampu dipadamkan, penonton seolah diajak masuk ke dunia mencekam yang penuh dengan mitos, stigma dan ketakutan yang lahir dari masa kecil.

Beberapa kali terdengar teriakan kecil dari barisan kursi, terutama ketika adegan jumpscare muncul tiba-tiba. Ada yang spontan menutup wajah dengan tangan, ada pula yang saling berpegangan dengan teman di sebelahnya.

“Rasanya merinding setiap kali suara lonceng itu berbunyi, seolah jadi tanda kalau akan ada kematian,” ujar salah seorang penonton begitu keluar dari studio 2 Cinepolis Lippo Plaza Yogyakarta, Kamis (11/9/2025).

Suara lonceng kereta kuda tanpa kusir yang berulang kali muncul menjelang peristiwa pembunuhan dalam film memang sukses membuat penonton terbawa suasana.

Proses terlama

Fajar Nugros mengungkapkan film ini lahir dari kumpulan ketakutannya sendiri. Dia menyebutkan Perempuan Pembawa Sial sebagai film dengan proses kreatif terlama sepanjang kariernya. Ide ceritanya yang berakar dari cerita rakyat populer Bawang Merah Bawang Putih tercetus tak lama setelah syuting film Sleep Call bersama Laura Basuki tuntas.

“Refleksi kumpulan ketakutanku di masa kecil. Suatu hari, saat SD atau SMP, saya ikut kunjungan ke studio tari Didik Nini Thowok. Saya waktu ke toilet, melewati ruang rias, lalu mengintip dan mendengar ada suara orang berlatih. Itu bagi saya seram dan terbayang selama bertahun-tahun,” kenangnya.

Menurutnya, memori-memori itulah yang kemudian dirangkai menjadi horor yang dekat dengan keseharian. Lebih dari sekadar menampilkan teror visual, Perempuan Pembawa Sial menyentuh sisi sosial yang jarang dibicarakan.

“Saya ingin menghadirkan horor yang tidak hanya menakutkan, tapi juga membuat kita berpikir tentang bagaimana masyarakat sering menempelkan label tertentu kepada perempuan,” ujar Fajar.

Ekspresi kuat

Judul film yang sempat menuai kontroversi justru menjadi pintu masuk untuk membicarakan stigma yang melekat pada tokoh Mirah, perempuan yang selalu dikaitkan dengan kesialan.

Mirah, yang diperankan oleh Raihaanun merupakan sosok perempuan yang dianggap membawa kesialan. Raihaanun dikenal mampu menghadirkan karakter dengan ekspresi emosional yang kuat.

Dalam film ini, dia harus menyeimbangkan aura misterius sekaligus sisi rapuh seorang perempuan yang terjebak stigma sosial.

Sementara itu maestro tari Didik Nini Thowok tampil sebagai figur mistis yang membawa dimensi spiritual ke dalam film. Dengan mantra dan tarian khasnya, Didik tidak hanya memberi nuansa horor, tetapi juga menegaskan akar tradisi yang melekat pada cerita.

Aura mistis

Fajar Nugros bahkan menyebutkan keterlibatannya menambah kekuatan aura mistis yang sulit digantikan.

Clara Bernadeth yang berperan sebagai Puti, saudara tiri Mirah yang memegang peran penting pemicu konflik menyatakan meski durasi tampilnya tidak panjang, karakter Puti adalah kunci yang membuat cerita bergulir. “Peran saya memang tidak banyak, tapi penting. Lewat diskusi dengan sutradara, karakter ini akhirnya diperdalam sehingga benar-benar menjadi pemicu konflik,” ungkapnya.

Pada penghujung cerita, sebagian penonton masih terduduk beberapa detik setelah layar padam, seolah menahan sisa degup jantung mereka. Ada yang bertepuk tangan pelan, ada pula yang langsung membicarakan adegan-adegan paling menegangkan.

Pengalaman menonton Perempuan Pembawa Sial bukan hanya tentang melihat film horor di layar, tetapi juga merasakan bagaimana ketakutan, stigma dan mitos masih lekat di masyarakat. (*)