1000 Orang Penjamah Makanan SPPG di Kebumen Mengikuti Bimtek
Humas Badan Gizi Nasional Direktorat Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II menyebutkan, ada 10 langkah strategis peningkatan layanan Makanan Bergizi Gratis (MBG). Langkah itu mencakup aspek tehnis, manajerial dan kualitas pelayanan
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN--Sebanyak 1000 orang penjamah makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kebumen, Sabtu (18/10/2025) dan Minggu (19/10/2025) mengikuti Bimbingan Tehnis (Bimtek). Mereka merupakan bagian dari 30.000 orang penjamah makanan dari Kabupaten/ kota se Indonesia yang mengikuti bimtek. Pelaksanaan Bimtek yang diselenggarakan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas penjamah makanan.
Staf Koordinator Wilayah BGN Kebumen Nur Kholis menjelaskan, bimtek selama 2 hari diselenggarakan di Trio Mall Hotel dan Mexolie Hotel. Ada 20 SPPG yang mulai beroperasi Juli - September 2025, penjamah makanan mengikuti Bimtek.
“Sebelum ini, Mei 2025, 4 SPPG telah mengikuti bimtek. Akan berlanjut untuk penjamah makanan SPPG lainnya,” kata Nur Kholis.
Peserta bimtek, adalah pencuci ompreng, penyedia bahan baku, juru masak, petugas distribusi, dan petugas gizi.
Menurut Nur Kholis, karyawan SPPG atau penjamah makanan wajib mengikuti bimtek. Ini menjadi salah satu syarat permohonan memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Pemateri bimtek, dari Badan Pengawasan Obat Makanan, Dinas Kesehatan Keluarga Berencana, Dinas Lingkungan Hidup Perikanan Kelautan Kebumen, serta Dinas Pendidikan Kepemudaan Olah Raga Kebumen.
Beberapa peserta Bimtek mengungkapkan, sekolah penerima manfaat ada yang memberikan masukan kepada SPPG. Misalnya soal menu makanan yang disukai dan tidak disukai penerima manfaat. Sebagai pelaksana MBG, masukan dari sekolah penerima manfaat SPPG memperhatikan dan menindaklanjuti masukan itu.
Humas Badan Gizi Nasional Direktorat Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II menyebutkan, ada 10 langkah strategis peningkatan layanan Makanan Bergizi Gratis (MBG). Langkah itu mencakup aspek tehnis, manajerial dan kualitas pelayanan.
Kesepuluh langkah strategis itu diantaranya, penempatan 5000 chef profesional di SPPG untuk transfer pengetahuan dalam pengolahan makanan bergizi dan aman, pengawasan rapid test food berkala oleh Balai POM untuk menjamin keamanan pangan, penerapan wajib SLHS setiap SPPG, penggunaan air bersih berstandar kesehatan, serta sterilisasi alat makan dengan air panas 80 derajat celcius, tenaga ahli gizi agar pendampingan gizi lebih optimal, serta penerapan sertifikasi halal untuk memastikan kepatuhan nilai keagamaan. (*)
Nanang W Hartono
