YUTFest 2026 Cara Baru Membaca Dinamika Jogja
Teater tidak lagi disajikan secara kaku tetapi sesuai perkembangan zaman.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Festival teater di Kota Budaya Yogyakarta tidak lagi berjalan dengan pola lama. Agenda itu sebelumnya dikenal sebagai Parade Teater Linimasa kini menjadi Yogyakarta Urban Teater Festival 2026 (YUTFest). Dengan format baru, pendekatan dan jangkauannya diperluas. Perubahan ini bukan sekadar pergantian.
Transformasi itu tampak sejak hari pertama penyelenggaraan di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (6/5/2026). Antusiasme penonton yang didominasi generasi muda menjadi indikator perubahan itu mulai menemukan momentumnya.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menyebut pergeseran ini sebagai respons atas perubahan karakter penonton. “Apresiasi penonton sekarang berbeda. Kami bersyukur minat teman-teman Gen Z meningkat pesat. Untuk Pentas Rebon kemarin, 1.100 reservasi online terpenuhi hanya dalam dua jam,” ujarnya saat konferensi pers, Senin (5/5/2026), di Taman Budaya Yogyakarta.
Menurutnya, pembaruan format menjadi langkah penting agar festival tetap relevan. Teater tidak lagi disajikan secara kaku tetapi sesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan fungsi pembinaan dan pelestarian.
Dinamika Jogja
Di balik perubahan itu, tim kurator merumuskan pendekatan baru. Seniman teater Elyandra Widharta sekaligus kurator YUTFest menjelaskan, konsep “urban” dalam YUTFest menjadi landasan utama membaca dinamika Jogja hari ini. “Urban adalah metode membaca zaman oleh kelompok teater untuk melihat geliat kota hari ini,” katanya.
Tak hanya konsep, mekanisme kurasi juga mengalami percepatan dan penyempurnaan. Tahun ini, seleksi dilakukan lebih berlapis untuk menjaring kelompok dengan pendekatan yang beragam.
“Tahun ini, proposal yang masuk saat open call berjumlah 25. Jika sebelumnya langsung ditetapkan menjadi enam, tahun ini kami mencoba mekanisme baru. Sebanyak 10 proposal diumumkan terlebih dahulu sebagai nominasi. Dari 10 nominasi itu, kami melakukan seleksi lanjutan melalui presentasi daring," ungkapnya.
Hasilnya, enam kelompok yang terpilih mencerminkan spektrum teater Jogja yang luas, baik dari sisi latar sosial maupun bentuk artistik. “Ada kelompok teater dari kampus, teater kampung, hingga teater sanggar dari Kabupaten Gunungkidul. Ada juga kelompok yang sudah profesional, yang aktivitasnya memang berkutat di panggung dan produksi pertunjukan," kata dia.
Keragaman karya
“Masing-masing kelompok mengusung gaya atau genre beragam. Ada yang musikal, seperti Seriboe Djendela. Ada pula drama realis, pertunjukan berbahasa Jawa, hingga karya interdisiplin yang memadukan pedalangan, teater dan tari,” tambahnya.
Salah satu pendekatan yang menonjol adalah teater dokumenter yang mengangkat isu aktual. Menurut Elyandra, keseluruhan karya tersebut menjadi cara baru membaca Jogja, tidak dari satu sudut pandang, melainkan dari pengalaman geografis dan sosial yang berbeda.
Dia melanjutkan, ini menjadi cara membaca kelompok teater di Jogja dalam melihat dinamika dan isu-isu sosial, khususnya di Kota Jogja. Tema yang diangkat lebih dimaknai sebagai gaya berekspresi masing-masing kelompok.
“Tema ‘pembacaan atas kota’ muncul karena keenam kelompok ini tumbuh di wilayah geografis yang berbeda, baik di kota maupun desa. Mereka memandang Jogja secara kontekstual melalui karya teater yang mereka bawa,” ujarnya.
Bukan tempelan
Kurator lainnya, Koes Yuliadi, menilai YUTFest menjadi ruang transisi bagi kelompok teater untuk berkembang lebih jauh. “Kami berharap Taman Budaya menjadi ruang transisional, tempat kelompok teater memantapkan diri sebelum melangkah ke tingkat nasional maupun global. Lokalitas harus hadir secara estetis, bukan sekadar tempelan,” ujarnya.
Di atas panggung, perubahan format itu langsung terasa. Teater Seriboe Djendela membuka festival dengan musikal berbalut salsa melalui naskah Belajar Membaca, yang mengangkat isu literasi dan peran guru.
“Kami ingin menawarkan bentuk baru musikal di Jogja, sekaligus membawa isu literasi dan mengembalikan martabat guru,” kata Judha Jiwangga sang sutradara Seriboe Djendela.
YUTFest 2026 berlangsung hingga 8 Mei dengan melibatkan enam kelompok teater dari berbagai latar. Transformasi dari Linimasa ke YUTFest menandai festival teater di Jogja tidak lagi sekadar menjaga tradisi tetapi bergerak cepat mengikuti perubahan kota dan penontonnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
