Yayasan Kajian Nusantara Raya Sukses Gelar Workshop Kepenulisan Sastra

Peserta workshop berasal dari kalangan masyarakat umum, pegiat komunitas, mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah.

Yayasan Kajian Nusantara Raya Sukses Gelar Workshop Kepenulisan Sastra
Peserta workshop yang diselenggarakan oleh Yayasan Kajian Nusantara Raya (YK Nura). (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, PURWOKERTO -- Yayasan Kajian Nusantara Raya (YK Nura) sukses menggelar workshop kepenulisan sastra selama tiga hari berturut-turut, Selasa - Kamis (16-18/7/2024), di Hetero Space Purwokerto.

Kegiatan tersebut digelar sebagai tindak lanjut dari bantuan pemerintah yang diberikan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa RI, melalui program bantuan pemerintah bidang sastra: penguatan komunitas sastra tahun 2024.

YK Nura menjadi salah satu penerima manfaat bantuan tersebut dengan mengusulkan program Sekolah Penulisan Sastra Peradaban (SKSP). Program itu terbagi lima kegiatan kesastraan yakni tiga kegiatan workshop penulisan sastra, satu lomba cipta puisi tingkat ASEAN serta apresiasi sastra dalam bentuk publikasi karya di ranah digital.

Ketua panitia kegiatan Endah Kusumaningrum menjelaskan, realisasi pertama yang dilaksanakan YK Nura adalah menggelar tiga workshop penulisan sastra.

Terdiri dari workshop penulisan esai, workshop penulisan cerpen dan workshop penulisan puisi. “Masing-masing workshop tersebut diikuti oleh 50 peserta yang telah melalui proses seleksi berdasarkan karya yang dikirim ke panitia,” ujar Endah Kusumaningrum.

Dewan Pengawas Yayasan Kajian Nusantara Raya Prof Dr Abdul Wachid BS menyerahkan sertifikat kepada Joni Ariadinata. (prasetiyo/koranbernas.id)

Peserta workshop berasal dari kalangan masyarakat umum, pegiat komunitas, mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah seperti UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Institut Teknologi Telkom Purwokerto, STIKIP Darussalam Cilacap, Universitas STIMIK Amikom, UIN Wali Songo, UIN Gus Dur Pekalongan.

Kemudian, Pesantren Darussalam Purwokerto, Pesantren Mahasiswa An Anajah Purwokerto, Pesantren Darul Falakh Purwokerto, SMAK Jatilawang, SMA Takhasus Wonosobo, Universitas Peradaban Bumiayu, Ponpes Benda Sirampog Brebes, UNU Purwokerto dan SMA-SMA di Banyumas.

Menurut Endah, setiap calon peserta diwajibkan mengirim karya untuk diseleksi berupa esai, cerpen maupun puisi sesuai workshop yang diikuti. Karya tersebut menjadi acuan para pemateri untuk mempersiapkan materi workshop. Keseriusan para calon peserta juga ditakar dari karya-karya yang dikirim, sebab luaran dari workshop ini adalah menulis antologi bersama.

Workshop penulisan esai yang digelar Selasa (16/7/2024) mengundang Hary Sulistyo menjadi narasumber. Hary mengulas dan mengkritisi satu per satu esai yang dikirim para peserta.

Dia menyatakan tema Keindonesiaan Perspektif Kearifan Lokal yang diusung penyelenggara kegiatan diterjemahkan dengan persepsi yang cukup mainstream oleh para peserta. Ia memberikan saran serta contoh mem-breakdown ide dari tema itu.

Proses kreatif

Pada workshop penulisan cerpen yang digelar Rabu (17/7/2024), Joni Ariadinata, sastrawan yang dilabeli Presiden Cerpen Indonesia, menyampaikan tantangan proses kreatif penulis di tengah perkembangan artificial intelligence (AI).

Menurutnya, bukan tidak mungkin karya-karya peserta yang ia baca adalah karya yang disusun dengan bantuan AI. Namun, ia juga menyampaikan bagaimana AI dapat menjadi teman, dalam tanda kutip,  berproses kreatif bagi para penulis.

Terakhir, workshop penulisan puisi yang digelar Kamis (18/7/2024) dihadiri Bayu Suta Wardianto, seorang penyair dan pengajar sastra. Dalam sesi materi yang dibawakannya dia menjelaskan bedanya puisi dengan kata-kata puitis. Menurutnya puisi bukan sekadar kata-kata puitis yang dirangkai menjadi sebuah puisi.

Puisi, seperti yang dia pelajari dari gurunya adalah cara pandang seseorang terhadap realita maupun kenyataan atau suatu obyek yang dituangkan dalam kata-kata yang memiliki nilai estetika. Ia juga membedah beberapa puisi karya peserta dan membandingkannya dengan beberapa lirik lagu yang tengah popular di tengah kalangan muda Indonesia seperti lagu Asmalibrasi.

Terbitkan antologi

Dewan pengawas YK Nura Prof Abdul Wachid BS mengemukakan meski sesi workshop kepenulisan sastra dengan para narasumber telah usai, peserta masih terus berproses kreatif dengan memperbaiki dan menyempurnakan karya-karyanya. Sebulan mendatang karya-karya tersebut diharapkan dapat menjadi antologi karya yang diterbitkan untuk memperkaya khazanah sastra Indonesia.

“Meski baru lahir, YK Nura telah ‘berlari’ dengan kegiatan ini. YK Nura mencoba menghidupkan geliat sastra yang pernah mati suri di Sekolah Penulisan Sastra Peradaban (SKSP),” ujar Abdul Wachid BS, penyair yang pernah meraih penghargaan sastra Asia Tenggara MASTERA ini.

Abdul Wachid berharap, kegiatan ini dapat menjadi pemantik yang menghidupkan kembali proses kreatif para esais, penyair dan cerpenis Banyumas hingga Asia Tenggara. (*)