WNA Ikut Bergabung, Pedagang Teras Malioboro 1 Membersihkan Sampah di Kawasan Sumbu Filosofi
Merti Uwuh Malioboro diagendakan berlangsung setiap tahun sebagai wujud tanggung jawab sosial.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Warga Negara Asing (WNA) ikut bergabung bersama para pedagang Teras Malioboro 1 membersihkan sampah di Malioboro, Selasa (20/8/2024). Dengan guyub rukun mereka memunguti sampah mulai dari area Teras Malioboro (TM) 1, area kawasan Malioboro dari Perempatan Suryatmajan (Kepatihan) sampai Titik Nol Kilometer Benteng Vredeburg Yogyakarta.
“Keterlibatan warga mancanegara ini sebagai bagian dari upaya Teras Malioboro 1 menginternalisasikan budaya lokal dalam budaya internasional. Kami yakin ini menjadi kenangan manis mereka dan menjadi cerita turun temurun pada generasi seterusnya. Teras Malioboro khususnya dan Yogyakarta umumnya menjadi destinasi utama mereka,” ujar Hellen Phornica, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Layanan Usaha Terpadu KUMKM DIY atau Kepala Teras Malioboro 1.
Menurut dia, aksi ini merupakan wujud komitmen menjaga warisan budaya Sumbu Filosofi Yogyakarta yang diakui UNESCO sekaligus bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 RI serta peringatan 12 tahun UU Keistimewaan DIY yang dikemas dalam kegiatan Teras Malioboro 1 Gumregah Merti Uwuh Malioboro #2 Guyub Rasa, Handarbeni Malioboro.
Kepada wartawan Hellen Phornica menyatakan rangkaian kegiatan kali ini disertai cek kesehatan gratis, donor darah bekerja sama dengan PMI, kompetisi pengambilan sampah, doorprize, penghargaan sekuriti dan cleaning service terbaik tahunan dan hiburan spesial.
Pedagang Teras Malioboro 1 saat mengikuti kegiatan Gumregah Merti Uwuh Malioboro #2. (istimewa)
“Kami juga bekerja sama dengan Disperindag Kota Yogyakarta dan Bulog membuka Pasar Murah untuk para tenant. Produk yang dijual di bawah harga pasar. Kami berharap Gumregah Merti Uwuh Malioboro menjadikan para pedagang semakin kompak dalam ikatan persaudaraan yang kuat membangun kawasan wisata Malioboro semakin apik dan bertaraf internasional,” ungkap Hellen.
Dia menambahkan, Merti Uwuh Malioboro diagendakan berlangsung setiap tahun sebagai wujud tanggung jawab sosial bersama sekaligus meraih hidup dan sejahtera dari Malioboro.
Seperti diketahui, Malioboro merupakan pusat Yogyakarta sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Malioboro juga menjadi tempat menarik sebagai pusat belanja oleh-oleh khas Yogyakarta. Harapannya Malioboro tetap eksis sebagai destinasi favorit dan berulang pada setiap generasi.
Sedangkan Teras Malioboro 1 merupakan satu destinasi pendamping kawasan wisata Malioboro sebagai pusat belanja oleh-oleh, kuliner, fashion dan craft. Teras Malioboro 1 adalah tempat berkumpulnya para pedagang yang dahulu berada di sepanjang kawasan Jalan Malioboro pada emperan toko.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi. (istimewa)
Teras Malioboro menempati eks gedung bioskop Indra depan Pasar Beringharjo menjadi pusat oleh-oleh terlengkap. Wisatawan dapat membeli buah tangan saat berwisata di Malioboro serta menjadi pusat kuliner menikmati sajian khas Jogja seperti lumpia, jajan pasar, sate koyor, sega berkat, gudeg pecel, bakmi Jawa, bakso, soto.
Hellen menambahkan, persatuan dan kekeluargaan para pedagang Teras Malioboro 1 membangun rasa memiliki Malioboro diwujudkan melalui budaya Selasa Wagen. Pada hari itu, para pedagang secara sukarela dan penuh tanggung jawab melaksanakan kegiatan kebersihan bersama.
“Gumregah Merti Uwuh Malioboro menjadi agenda baru yang memberikan ruang menghidupkan kembali kegiatan ini menjadi salah satu agenda rutin tahunan dalam skala besar selain rutinitas Selasa Wage setiap bulan dalam skala yang lebih kecil,” jelasnya.
Gumregah Merti Uwuh Malioboro menjadi satu ikon wujud kebersamaan para seluruh pemangku kepentingan di kawasan Malioboro, baik tenant, pemerintah dan seluruh aspek pendukung lainnya.
Menurut dia, kegiatan ini identik dengan social responsibility atau tanggung jawab sosial demi mewujudkan kenyamanan bagi para pengunjung kawasan Malioboro, yang pada akhirnya akan memperbesar potensi kunjungan wisatawan di kawasan tersebut.
Nilai ekonomi
PLH Dinas Koperasi, Wisnu Harmawan, menambahkan rangkaian kegiatan Gumregah Merti Uwuh Malioboro #2 dengan dukungan Dana Keistimewaan DIY diharapkan mampu berkembang memberikan manfaat yang besar bagi tenant maupun nilai ekonomi bagi Teras Malioboro 1.
Yang terpenting adalah sinergi antara tenant dengan pemangku kepentingan mampu menjadikan kawasan Sumbu Filosofi Malioboro semakin baik dan menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi terbaik destinasi wisata nasional maupun internasional.
“Tujuan kegiatan ini, pertama, untuk menjalin dan meningkatkan kebersamaan antar tenant, meningkatkan kerukunan dan rasa saling memiliki,” kata dia.
Kedua, meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan demi menjaga kenyaman, ketenteraman dan kegiatan keekonomian dalam Teras Malioboro. Ketiga, memberikan dampak positif bagi pertumbuhan bisnis dan layanannya untuk ekonomi kerakyatan yang lebih baik dan mapan. Ini menjadi modal dasar bagi penyatuan dan melebur seutuhnya TM 2 ke TM 1 dalam suasana yang guyub dan rukun.
Lebih indah
Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi, memberikan apresiasi atas gelaran Teras Malioboro 1 Gumregah Merti Uwuh Malioboro #2. Ini merupakan bentuk nyata bagaimana mengisi dan memaknai Kemerdekaan RI.
“Merdeka tidak hanya lepas dari penjajahan tetapi juga merdeka untuk beraktivitas dan berinovasi. Harapannya dengan gumregah ini semangat juang, gotong royong di Teras Malioboro 1 lebih indah dan lebih punya arti lagi,” ujarnya.
Kegiatan itu juga menjadi bukti nyata Teras Malioboro 1 ikut peduli terhadap lingkungan mengingat dinas juga tidak bisa membangun tata kelola pemerintahan secara sendiri tetapi butuh sinergi dan kolaborasi.
Terbukti, kata dia, pengunjung Teras Malioboro 1 semakin meningkat serta produknya semakin bervariasi. “Kami mengajak pedagang Teras Malioboro 1 menangkap peluang dan mengelola pasar ini,” pintanya. (*)