Warga Donokerto, Turi Kembali Suci dalam Dekapan Tradisi
KORANBERNAS.ID, SLEMAN — Kerinduan warga Dusun Turi selama lima tahun akhirnya terbayar lunas. Kamis malam (19/3/2026), lapangan Desa Donokerto, Sleman, tumpah ruah oleh lautan manusia yang berkumpul untuk menyaksikan takbir keliling akbar. Salah satunya mengarak instalasi raksasa berbentuk bulan sabit dan masjid berkeliling desa demi menyambut Idul Fitri 1447 H.
Kirab takbiran skala besar ini hanya digelar lima tahun sekali, mengikuti giliran tugas dari Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kalurahan Donokerto. Karena kelangkaan itulah, persiapan yang dilakukan sangat serius dan matang.
Dalam instalasi raksasa berbentuk bulan sabit dan masjid yang diarak Kamis malam, ada perhitungan teknik yang tidak main-main. Seniman sekaligus pemrakarsa karya, Sung Keni, menghabiskan waktu dua bulan penuh dari tahap rancangan hingga finishing.
"Tantangan terberatnya adalah keseimbangan. Instalasi ini sangat besar, berat, dan tinggi. Jika salah memperhitungkan titik tumpu, karya bisa oleng atau bahkan ambruk saat ditarik menyusuri jalanan desa," kata Keni memberikan keterangan kepada koranbernas.id pada Jumat (20/3/2026).
Menariknya, lanjut Keni, solusi untuk beban raksasa ini justru ditemukan pada material sederhana, yaitu bambu, kayu, dan tali tambang. Tanpa menggunakan material baja atau besi yang mahal, struktur tradisional ini terbukti kokoh dan stabil sepanjang rute kirab.
Lulusan Akademi Komunitas Negeri (AKN) Yogyakarta ini melanjutkan: estetika karya ini membawa pesan yang sangat lugas. Pemilihan bentuk bulan sabit melambangkan penanda waktu dari awal Ramadan hingga hari kemenangan. Sementara itu, bentuk masjid mewakili tempat manusia bersujud dan berserah diri.
"Dua simbol ini kami munculkan untuk mengingat Ciptaan dan kewajiban ibadah manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa," lanjutnya.
Pesan tersebut dibungkus dalam tema besar perayaan: “Kembali Suci dalam Dekapan Tradisi — Ibadah menuju Fitri dengan Seni Berserah di Hadapan Illahi.”
Hal yang paling menonjol dari pembuatan maskot ini adalah nihilnya campur tangan sponsor luar. Pendanaan proyek murni berasal dari swadaya warga Dusun Turi, dibantu oleh Takmir Masjid Al Jami’ Nurul Huda dan PHBI Donokerto. Tenaga penggeraknya pun murni dari akar rumput.
Sung Keni juga menggandeng kelompok muda-mudi "Tury Squad" dan warga setempat untuk mengeksekusi karyanya. Dari memotong bambu hingga mengikat tali tambang, semuanya dilakukan secara gotong royong.
"Respons warga sangat positif, kreatif, dan antusias," tandasnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
