Selasa, 18 Mei 2021,


tragis-kisah-cinta-segitiga-melatari-pembunuhan-juragan-wajanProses rekonstruksi pembunuhan Bud warga Banguntapan dilakukan, Kamis (22/4/2021) siang, oleh jajaran Satreskrim Polres Bantul. (koranbernas.id/sariyatiwijaya)


Sariyati Wijaya
Tragis, Kisah Cinta Segitiga Melatari Pembunuhan Juragan Wajan

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Seorang pedagang peralatan masak, khususnya wajan, di Wirokerten, Banguntapan bernisial Bud (39 tahun) mayatnya ditemukan di dekat jembatan wilayah Selogedong, Sedayu, Bantul pada 31 Maret pagi. Dari hasil penyelidikan, aparat akhirnya menangkap tersangka berinisial NCH (22 tahun) yang merupakan karyawan korban pada hari itu juga.


Saat dilakukan proses rekonstruksi, Kamis (22/4/2021) siang, sebanyak 57 adegan direkonstruksi oleh jajaran Satreskrim Polres Bantul. Dari olah TKP tersebut akhirnya terungkap pemicu pembunuhan dikarenakan cinta segitiga.


Diketahui tiga bulan sebelum terjadinya tragedi maut itu, sang istri KSR (38 tahun) menjalin
hubungan terlarang dengan pelaku pembunuhan. Kasatreskrim Polres Bantul, AKP Ngadi mengatakan, jika pembunuhan itu direncanakan sejak sebulan silam.


“Untuk motif dari kasus ini adalah cinta segitiga antara istri korban dengan pelaku,” katanya.


Kasus ini terjadi di rumah korban pada 30 Maret sekitar pukul 17:00 WIB dan antara istri dengan pelaku sempat menyusun skenario sebelum menjalankan aksi pembunuhan. Menurut AKP Ngadi, tersangka NCH sebelum melakukan eksekusi terlebih dahulu menyelinap
ke rumah Bud ketika yang bersangkutan belum pulang kerja.



Baik tersangka KSR dan NCH sepakat ekseksui dilakukan ketika Bud sedang melakukan
hubungan intim dengan KSR. Korban dieksekusi dengan cara menggunakan kawat dijerat dari belakang dan istrinya membekap mulut Bud yang merupakan sepupu dari NCH sendiri.



Setelah dipastikan meninggal, korban diberi pakaian, kemudian dibungkus dengan sprei dan ditaruh di gudang. Kemudian keduanya sempat makan dan menjalankan sholat. Barulah mayat tersebut dimasukan ke mobil dan dibawa oleh NCH berkeliling pada malam harinya, sebelum
akhirnya dibuang di Selogedong,” tuturnya.

Pelaku, menurut AKP Ngadi, dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman 20 tahun. Sementara itu KSR mengaku menyesal atas pembunuhan suaminya tersebut.

“Saya menyesal dan sedih banget, karena harus berpisah dengan anak-anak saya,” kata KSR kepada koranbernas.id di ruang pemeriksaan.

Tersangka KSR sendiri terpaksa harus berpisah dengan ketiga anaknya akibat tersandung kasus pembunuhan. Ketiga anaknya yang kini diasuh oleh keluarga korban kini telah duduk di bangku SMP hingga TK.

“Saya sebenarnya sudah berusaha mencegah Mas Kholis, tetapi ternyata tetap kejadian juga. Saya mengakui saya salah punya hubungan dengan Mas Kholis,” ucap KSR sembari terisak. (*)

 

 



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini