Tim UPNVY Merevitalisasi Ekonomi Perempuan Tani di Klaten

Bukan hanya soal teknologi, tapi juga pemberdayaan mental dan solidaritas.

Tim UPNVY Merevitalisasi Ekonomi Perempuan Tani di Klaten
Peserta program Revitalisasi Ekonomi Kelompok Wanita Tani di Dukuh Jatirajek, Desa Ngemplak Kecamatan Karangnongko Klaten. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Upaya pemberdayaan ekonomi perempuan desa di Kabupaten Klaten memasuki fase baru. Salah satunya dengan diluncurkannya program Revitalisasi Ekonomi Kelompok Wanita Tani melalui Transformasi Digital Ecogreen di Dukuh Jatirajek, Desa Ngemplak Kecamatan Karangnongko.

Program ini dipimpin oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), dengan dukungan kolaboratif dari akademisi Universitas Islam Indonesia (UII).

Program yang dirintis melalui Hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PKM) Kemendiktisaintek Batch 3 TA 2025 ini menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) “Guyub Rukun”. Komunitas perempuan ini selama bertahun-tahun mengelola pekarangan rumah sebagai sumber pangan dan pendapatan tambahan.

Dari total 35 rumah tangga di Jatirajek, tercatat 72 persen memiliki pekarangan produktif seluas 15-20 meter persegi, menjadi basis pengembangan sayuran, palawija hingga ternak rumahan.

Sangat kuat

Ketua Pengusul Program Pengabdian Masyarakat UPNVY, Heri Susanto, melalui keterangan tertulis, Minggu (16/11/2025), menjelaskan potensi perempuan desa dalam mengembangkan ekonomi rumah tangga sudah sangat kuat, namun belum didukung sistem pengelolaan modern.

"Selama ini aktivitas produksi berjalan, tetapi bersifat individual. Kelembagaan usaha belum terbentuk, sehingga tidak ada manajemen terpadu dan standar komersial yang jelas," katanya.

Selain itu, pemasaran juga masih bertumpu pada lingkungan RT/RW, bahkan menggunakan sistem barter. Produk yang sebenarnya berkualitas tidak punya jangkauan pasar.

Menurut Heri, perubahan iklim ekonomi digital menuntut redefinisi peran perempuan desa, bukan hanya sebagai pengelola rumah tangga tetapi juga pelaku usaha yang terlibat aktif dalam rantai ekonomi lokal. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menerapkan pendekatan dua jalur, yakni penguatan kelembagaan dan transformasi digital.

Pelatihan manajemen

Jalur pertama, anggota KWT dibekali pelatihan manajemen dasar, pembentukan embrio koperasi, pencatatan usaha, serta pembagian peran dalam organisasi. "Koperasi ini diproyeksikan menjadi pusat distribusi, pengumpulan produk, serta lembaga yang dapat mengakses pendanaan usaha," jelasnya.

Sementara itu, jalur kedua menitikberatkan pada digitalisasi usaha. Anggota KWT mengikuti pelatihan content creation, teknik foto produk sederhana pengemasan informasi. "Selain itu, pemasaran digital melalui platform yang mudah digunakan," ungkapnya.

Kolaborasi lintas kampus memperkaya proses transformasi ini. Rosita, anggota tim pengabdian dari Universitas Islam Indonesia (UII), menilai transformasi digital harus dibuat inklusif dan ramah perempuan desa.

“Kami melihat antusiasme ibu-ibu luar biasa. Tantangannya bukan pada kemampuan, tetapi pada akses dan kebiasaan. Pelatihan konten digital yang kami berikan dibuat sederhana, aplikatif, dan langsung bisa dipraktikkan,” jelas Rosita.

Diberi ruang

Menurutnya, perempuan desa harus menjadi subyek, bukan obyek digitalisasi. Mereka mampu, hanya perlu diberi ruang dan pendampingan.

Untuk meningkatkan produktivitas, program mengintegrasikan Teknologi Tepat Guna (TTG) Ecogreen. Sejumlah alat diserahkan dan dipasang di lokasi, antara lain media tanam hidroponik untuk optimalisasi lahan sempit.

Selain itu mesin pencacah rumput untuk memperkuat produksi pakan ternak, kandang ayam petelur ramah lingkungan yang dilengkapi sistem pengolahan limbah. TTG bukan hanya alat bantu teknis, tetapi bagian dari strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan.

“Kami ingin KWT punya model usaha terukur, higienis, efisien dan ramah lingkungan. Dengan TTG, pekerjaan jadi lebih ringan, output meningkat dan standar usaha naik,” katanya.

Target ambisius

Anggota tim pengusul Program Pengabdian Masyarakat UPNVY, Yudhistira Saraswati, menambahkan program ini memasang target ambisius namun terukur dalam enam bulan mendatang. Sekitar 70 persen anggota aktif menggunakan platform digital untuk pemasaran, koperasi terbentuk dengan minimal 20 anggota inti. Peningkatan hasil panen hingga 50 persern berkat pemanfaatan TTG, dan peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar 30-50 persen melalui pemasaran digital.

"Yang kami lihat, para ibu semakin percaya diri, saling mendukung, dan mulai berani merencanakan usaha bersama. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga pemberdayaan mental dan solidaritas,” ujarnya.

Program Transformasi Digital Ecogreen ini menjadi contoh kolaborasi akademik yang membawa dampak nyata di akar rumput. Melalui kombinasi pelatihan komprehensif, digitalisasi usaha, dan penyediaan teknologi tepat guna, KWT “Guyub Rukun” diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan perempuan desa yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“Kami ingin Jatirajek menjadi role model bahwa perempuan desa bisa menjadi penggerak ekonomi digital tanpa meninggalkan karakter lokal dan kearifan kerja mereka,“ungkap Heri Susanto. Dengan pendampingan intensif dari UPNVY dan UII, diharapkan program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun masa depan yang lebih mandiri dan berdaya bagi perempuan Desa Ngemplak. (*)