Tim Talent Scouting Bergerak, Siapkan Talenta Jogja untuk Beraksi di "All-Star"
Yogyakarta tunjukkan potensi besar atlet sepak bola putri usia dini. Pemain terpilih MLSC akan masuk program Extra Training menuju tim All-Star Nasional
KORANBERNAS.ID, SLEMAN—Gelaran MilkLife Soccer Challlenge (MLSC) Yogyakarta Seri 2 2006, tidak sekadar mencari pemenang. Tetapi menjadi bukti nyata bahwa “Kota Pelajar” adalah Gudang talenta pesepak bola putri masa depan. Nama-nama seperti Nadia Shakila Azzahra, Shima Putri Larasati dan Danisa Anindya Nuha Zahira, kini menjadi sorotan nasional, berkat performa impresif mereka di lapangan.
Kesuksesan MLSC Seri 2 ini langsung ditindaklanjuti oleh tim talent scouting. Para pemain terpilih tidak hanya berhenti di turnamen ini, melainkan akan menjalani MilkLife Extra Training. Program ini merupakan kawah candradimuka untuk membentuk tim All-Stars Yogyakarta yang akan berlaga di Seri Nasional di Kudus pada Juni 2026.
Asisten Head Coach MLSC, Andri Ramawi Putra, menilai meski kualitas belum merata sepenuhnya di setiap lini, Yogyakarta memiliki modal waktu yang cukup untuk pematangan.
“Ini momentum penting untuk melakukan pematangan, baik dari sisi teknis, fisik, maupun pemahaman taktik melalui pendampingan pelatih sebelum ke Kudus,” jelasnya.
Deputi Sekjen PSSI dan Ketua PSSI Provinsi DIY, Dessy Arfianto yang turut hadir menyaksikan langsung partai puncak MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta Seri 2, menyambut positif geliat pembinaan sepak bola putri usia dini. Ia mengapresiasi konsistensi yang penyelenggaraan MLSC di Yogyakarta sehingga semakin banyak siswi di Kota Pelajar dan sekitarnya semakin tertarik untuk menyukai bermain sepak bola. Dessy juga berkomitmen untuk terus memberikan dukungan dalam upaya pengembangan talenta-talenta sepak bola putri yang ada di Yogyakarta.
“Kami menyambut baik dan mengapresiasi setinggi-tingginya event ini. Terima kasih kepada Bakti Olahraga Djarum Foundation yang secara reguler menyelenggarakan MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta. Turnamen ini merupakan kegiatan yang sangat positif untuk pembinaan sepak bola putri di Yogyakarta. Kami di PSSI Pusat dan juga PSSI Yogyakarta menangkap kegiatan ini sebagai ajang pembinaan sepak bola usia dini. Tidak mudah mengajak dan menggalang para siswi agar mau bermain sepak bola, namun kami sangat terbantu dengan adanya MilkLife Soccer Challenge. Kami berharap Yogyakarta tetap menjadi salah satu tuan rumah di seri-seri selanjutnya,” ujar Dessy Arfianto.
Sementara, Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satia Chandra Wiguna menegaskan bahwa penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta Seri 2 2025 - 2026 merupakan bentuk komitmen pihaknya terhadap keberlanjutan pengembangan sepak bola putri di Indonesia. Guna mendukung kelancaran pelaksanaan MLSC, ia juga berperan aktif menjalin komunikasi dengan pihak-pihak terkait.
Menurutnya, langkah ini memudahkan koordinasi apabila diperlukan penyesuaian teknis, seperti perubahan jadwal, sehingga kegiatan tetap dapat berjalan optimal meski berdekatan dengan ujian nasional dan bulan ramadhan, terutama di wilayah Yogyakarta. Selain itu, Chandra juga menyinggung adanya peningkatan kualitas baik individu maupun permainan tim yang ditunjukkan siswi-siswi Yogyakarta.
“Komitmen kami sangat tinggi terhadap pelaksanaan MilkLife Soccer Challenge. Kami terus melakukan komunikasi dengan PSSI, dinas terkait, dan pihak pemerintahan, sehingga penyesuaian teknis seperti jadwal dapat dilakukan dengan mudah dan kegiatan tetap berjalan lancar. Dari dua seri yang sudah diselenggarakan musim ini kami bisa melihat ada peningkatan kemampuan sangat signifikan, persaingan semakin kompetitif, termasuk di KU-10 dengan hadirnya sekolah dan juara baru, sehingga kualitas permainan terus meningkat yang ditunjukkan putri-putri Yogyakarta. Fakta tersebut tentu akan membuat persaingan di All-Stars nanti akan semakin menarik dan kompetitif,” ujar Chandra. (*)
Redaktur
