tak-hanya-antraks--ini-masalah-yang-banyak-dihadapi-peternakDiskusi bersama dalam rangka Hari Gizi 25 Januari di Sop Djadoel, Selasa (21/01/2020).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)


yvesta

Tak Hanya Antraks, Ini Masalah Yang Banyak Dihadapi Peternak

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Persoalan yang dihadapi para peternak saat ini tidak melulu masalah antraks. Sejumlah persoalan juga harus mereka hadapi seperti sulitnya mencari bibit sapi perah yang berkualitas.

Keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan serta rendahnya minat generasi muda menjadi peternak juga menjadi persoalan serius. Masalah lain adalah terbatasnya pakan konsentrat yang berkualitas dengan harga terjangkau, kelangkaan sumber air hingga rendahnya pengetahuan peternak dalam menerapkan teknologi dalam memelihara sapi perah.


Baca Lainnya :

Berbagai tantangan tersebut menghasilkan kualitas dan produktivitas susu yang tidak memadai. Karenanya program kemitraan peternak dengan stakehoder lain sangat dibutuhkan. Pemberdayaan sapi perah yang berkualitas pun bisa dilakuian melalui kerjasama berbagai pihak.

Sigit Bintara, dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta disela diskusi bersama dalam rangka Hari Gizi di Sop Djadoel, Selasa (21/1/2020). Ia menyebutkan, UGM bersama Sarihusada misalnya ikut berperan dalam memberdayakan langsung 1.128 peternak lokal di daerah Yogyakarta, Klaten, dan Boyolali. Kegiatan ini juga melibatkan empat koperasi dan satu Merapi Project.


Baca Lainnya :

"Kami memelihara 1.500 susu laktasi dan 3.203 sapi perah,” jelasnya.

Sementara Karyanto Wibowo, Sustainable Director Danone Indonesia, mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam menyediakan asupan gizi yang optimal bagi ibu dan anak Indonesia. Hal ini dilakukan bukan hanya melalui penyediaan produk nutrisi berkualitas namun juga dengan melaksanakan berbagai program dukungan.

Salah satunya program Peningkatan Mutu Susu yang telah dilaksanakan sejak 1991. Program ini bertujuan untuk mendorong peternak menghasilkan susu dengan kualitas yang lebih baik agar dapat turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Sebab dengan pertumbuhan konsumsi susu sapi sebesar lima persen per tahun, produksi susu sapi lokal hanya meningkat sebanyak dua persen per tahun. Itupun dengan rentang kualitas yang beragam.

"Walaupun tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia termasuk yang paling rendah di ASEAN, di sisi lain kebutuhan pasar meningkat dari tahun ke tahun. Namun ternyata, peningkatan permintaan akan susu ternyata tidak sejalan dengan suplai dari peternak lokal karena kuantitas dan kualitas yang belum memadai," tandasnya.

Kabid Peternakan Pemkab Sleman, Harjanto menambahkan, upaya peningkatan kesejahteraan peternak rakyat merupakan perjalanan panjang dan dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu pihaknya mengapresiasi upaya yang dilakukan Sarihusada dan Universitas Gadjah Mada yang secara berkesinambungan mendampingi peternak.

"Hingga mendapatkan kesempatan ekonomi yang lebih baik," imbuhnya. (ros)

 

 

 


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini